
“ tuan, apakah anda tahu yang anda lakukan itu sangat tidak sopan?” ucap Allan dengan nada sopan tapi ada tekanan di dalamnya.
“ ap? Beraninya kau mengajariku tentang sopan santun, aku lebih tua darimu.” Geram Mr. Lee.
“ jika anda mengatakan anda lebih tua dari saya maka berpikirlah layaknya orang tua, anda tidak lihat seketaris saya ketakutan? Atau saya akan menceritakan apa yang baru saja anda katakan pada istri anda dirumah?” ucap Allan dengan nada pelan namun penuh ancaman. Seketika membuat Mr Lee ketakutan dan memilih mengakhiri pertemuan ini sebelum Allan benar- benar menelpon istrinya yang ternyata adalah bibinya sendiri.
“ anak muda jaman sekarang memang tidak mengerti sopan santun.” umpat Mr. Lee sebelum meninggalkan Allan dan Rena. Allan mengambil nafas kasar, ia memang tidak dekat karena tidak menyukai sifat pamannya ini dan hanya menganggap hubungan mereka hanya kolerasi bisnis.
“ kenapa kau tidak menghentikannya, kau ini bodoh, ya?” geram Allan.
“ ta.., tapi anda mengatakan untuk tidak membuat beliau marah makanya saya menahan diri. Saya takut akan kelepasan jika tidak menahan diri dan membuat segalanya gagal.” ucap Rena dengan terbata.
“ huh! Memang apa yang bisa tangan kecilmu lakukan?” ucap Allan tidak percaya.
“ saya pernah memukul ‘ ***’ kakak sepupu saya.” ucap Rena sedikit malu mengatakannya.
“ ap? Apakah kau pernah di lecehkan kakak sepupumu?” ucap Allan tidak percaya.
“ tidak\, awalnya hanya bercanda saat saya mau memukul perutnya namun tangan saya malah memukul ‘ ***’ kakak sepupu saya hingga meringkuk kesakitan\, semenjak saat itu saya memiliki panggilan tangan besi.” canda Rena membuat Allan tertawa.
“ ap.., apa itu memalukan?” ucap Rena bersemu merah.
“ tidak, aku pikir kau ketakutan tadi.” ucap Allan masih tertawa sampai memegangi perutnya. Rena ingin menggerutu tapi yang ada di hadapannya adalah boss- nya.
“ baiklah, kau wanita yang hebat. Ayo cari makan sebelum pulang, gara- gara menemaninya mengobrol kau tidak sempat makan- kan?” ucap Allan mengelus kepala Rena. Membuat Rena hanya menatap Allan.
“ kenapa?” heran Allan
“ apa sebelumnya anda memperlakukan seketaris anda seperti ini?” heran Rena.
“ seperti apa?”
“ melindungi seperti ini?” ucap Rena masih menatap Allan.
“ tentu saja, kau seketaris- ku karyawanku.” ucap Allan gugup.
“ Saya pikir awalnya anda menakutkan.”
“ kenapa kau bisa berpikir aku menakutkan?”
“ banyak gosip yang beredar anda bertangan dingin dan saat awal saya bekerja anda juga selalu menatap saya dengan aura tidak menyenangkan.” padahal sebenarnya karena ia memang berniat mengintrograsi Rena dan sisanya karena tidak suka kedekatannya dengan orang lain.
“ sudah- lah, ayo kita kembali kekantor, meja- mu sudah kupindahkan di ruanganku.” ucap Allan mengajak Rena kembali kekantor.
Di sisi lain Patricia baru saja kerumah kakak- nya, Alan dan mencari kakaknya itu.
“ kak?” panggil Patricia namun ia tidak melihat sosok kakak- nya itu di kamarnya, membuatnya beralih mencari di ruang kerja kakaknya. Secara tidak sengaja, ia melihat profil Rena di ruangan kerja kakak- nya.
“ Patricia? Aku sudah bilang jangan sekali- kali masuk keruang kerja kakak.” teriak Alan yang tidak suka melihat Patricia adiknya itu masuk saat dirinya tidak ada dan segera membereskan beberapa dokumen di meja kantornya.
“ kak, siapa wanita yang sedang kakak selidiki itu? Kakak kenal?” ucap Patricia ingin tahu.
“ ini bukan urusanmu.”
“ ini urusanku, kak. Kakak bilang kak Allan tidak memiliki kekasih, tapi mengapa kak Allan mengakui gadis yang kakak selidiki itu sebagai kekasihnya.” Alan terkejut mendengar pengakuan adiknya.
“ dia mengatakan jika Gadis yang sedang kakak selidiki itu adalah kekasihnya.” gerutu Patricia karena bukan jawaban yang ia dapatkan malah pertanyaan.
Tanpa menjawab pertanyaan Patricia, adik manjanya, Alan merapikan dokument- nya, mendorong Patricia agar keluar dari ruangan kerjanya, mengunci ruangan itu dan bergegas mengambil kunci mobil. Menuju kantor Allan untuk bertanya langsung.
“ kak? Tunggu! aku ikut.” teriak Patricia yang melihat Alan langsung mentancap gas tanpa dirinya.
Sementara Allan hanya menatap Rena yang berada di satu ruangan dengannya hanya ada penghalang sekat kaca yang masih bisa melihat pergerakan Rena. Allan hanya menatap sosok Rena yang cekatan membereskan dokument yang mengunung. Bahkan Isabella seketarisnya yang dulu tidak secekatan Rena dalam mengetik, rupanya umur memang berpengaruh. Namun rasa pesona itu buyar saat Allan kedatangan sahabatnya itu tanpa permisi langsung masuk begitu saja ke ruangan kerja Allan.
“ Allan!” ucap Alan dengan nada panik dan nafas yang masih tersengal- sengal khas orang baru berlari.
“ ada apa? Ada masalah apa?” ucap Allan yang mengira ada hal genting.
“ apa benar yang adikku katakan?”
“ soal apa?”
“ kau mengakui Rena sebagai kekasihmu!” ucap Alan tidak mengetahui jika yang dibicarakan bersama mereka ikut mendengar mereka membicarakan dirinya.
Allan yang terkejut Alan membicarakan Rena dan langsung menatap Alan, memberi kode agar dirinya diam.
“ jawab!” namun kelihatannya rasa kesal membuat pria itu tak lagi tanggap.
“ baiklah aku mengatakan ia kekasihku agar adikmu yang keras kepala itu tak mengejarku lagi, puas?” Allan berharap Alan tidak akan bertanya macam- macam lagi.
“ kau pikir kau dapat menipuku, Lan? Aku sudah berteman lama denganmu. Kau tidak mungkin mengakui Rena sebagai kekasihmu begitu saja hanya untuk menipu adikku.” ucap Alan membuat Allan mencoba agar Rena keluar dari sana.
“ Rena, bisa kamu keluar dulu?” ucapan Allan membuat Alan menyadari jika ada seorang perempuan bersama mereka yang sedari tadi mendengar. Rena mengangguk dan segera keluar dari sana meski ia masih penasaran, karena yang mereka bicarakan adalah dirinya.
Alan menatap wajah Rena dengan tidak percaya, gadis yang juga di kenalnya cuppu akan berubah sedrastis itu, ia bahkan tidak percaya kalau wanita yang keluar itu adalah Rena jika tidak di beritahu Allan.
“ apa gadis itu Rena yang kita kenal?” ucap Alan memastikan.
“ aku juga awalnya tidak percaya. Kau ini hampir saja membocorkan soal aku, Alan.” geram Allan.
“ maaf, saking kesalnya aku tidak menyadari ada perempuan. Namun bukankah ini sebagai bukti.” ucap Alan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
“ apanya.”
“ kau sampai memasukkan Rena masuk kedalam ruanganmu, kau bahkan tidak pernah seperti itu pada Isabella yang bekerja bertahun- tahun denganmu.”
“ jangan salah sangka, Alan. Aku memasukkannya hanya untuk mengawasi gerak- geriknya. Sejauh ini ia tidak mengenali- ku.”
“ meski begitu, dulu kau tidak begini, Allan. Aku mengenalmu. Jika kau tidak mau dia membocorkan informasi kau yang dulu hanya akan mengancamnya, dan sekarang selain mengajaknya makan bersama kau juga menempatkannya di satu ruangan, kau bahkan mengakuinya sebagai kekasih. Allan yang kukenal tidak akan melakukan hal ini. Jangan bilang kau menyukainya.” ucap Alan membuat dada Allan berdegup kencang entah mengapa.
“ tentu saja, tidak Alan. Aku sudah bilang hanya ingin mengawasi gerak geriknya ternyata dia tidak mengenalku itu sebabnya aku tidak merasa harus mengancamnya dan kinerjanya cukup bagus itu sebabnya aku menerima bekerja.” ucap Allan sebagai alasan.
Namun Alan yakin sahabatnya itu memiliki perasaan lain, sebagai sahabat ia mengenal Allan dengan baik. Alan mengira jika Allan berusaha menutupinya atau mungkin ia sendiri tidak mengetahui perasaanya sendiri karena terlalu lama hidup sendiri. Sebagai sahabat yang harus di lakukannya tentu saja membantu sahabatnya itu menyadarkan perasaannya. Tak heran jika Alan sangat peduli pada sahabatnya itu, selain karena telah bersama bertahun- tahun, saat ayah Alan tiada, orang yang membantu Alan untuk tetap berdiri hingga membuat perusahaan security ini maju seperti sekarang adalah Allan, itu sebabnya sebagai sahabat ia ingin sahabatnya itu juga bahagia.
“ baiklah, terserah padamu. Maafkan aku, aku hanya panik tadi.” ucap Alan, hendak kembali pulang, tak mungkin ia memaksakan sahabatnya ini mengakui perasaanya, ia harus memikirkan rencana agar memancing sahabatnya mengerti perasaanya sendiri.
“ ya. Rena. Kau sudah bisa masuk kedalam.” ucap Allan melihat Rena yang mengobrol dengan karyawan lain. Hal ini tak luput dari pengamatan Alan.