The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 Tama



Sementara itu di lain tempat, Andre sedang bersungut- sungut. Ia berpikir jika ia akan jadi bintang malam ini karena ia mengetahui jika ray tidak datang ke pesta yang di adakan Aunt nya in. Tapi siapa yang menyangka jika semua wanita akan mengerubungi Allan juga Erick. Kalau Allan, Andre sangat paham kenapa ia di kerubungi para wanita- Uncle nya itu tampan dan meski sudah memasuki kepala 5 pesona Allan sama sekali tak menyurut. Yang Andre tak percaya adalah ia akan kalah saing dari Erick. Adik kecilnya itu berubah menjadi sangat gagah dan tampan, padahal terakhir melihat Erick- ia masih terlihat seperti anak kecil pada umumnya. 3 tahun tak bertemu membuat pria itu tumbuh dewasa dari perkiraan Andre.


Dan yang membuatnya semakin kesal adalah seorang perempuan yang di suruh Patricia- ibunya untuk mengawasi Andre.


“ bisakah kau meninggalkan aku sendiri?” geram Andre karena Tama, gadis yang di suruh ibunya itu terus mengawasinya.


“ tapi Mrs Patricia meminta saya untuk mengawasi anda agar tak lagi menggoda para gadis, tuan.” ucap Tama.


“ dengar! Mommy sedang tidak ada disini, jadi kau tidak perlu khawatir mommy memarahimu.” ucap Andre geram karena dengan adanya Tama, tak ada wanita yang mendekatinya.


“ tapi...” ungkap wanita itu ragu. Andre mendengus kasar karena kesal dengan kelakuan wanita ini.


“ baiklah, kau bebas mengikutiku, tapi dalam radius 10 meter!” ucap Andre mengalah.


Andre menatap Tama yang menjahuinya. Yang Andre ketahui hanyalah orang tuanya memanggilnya Tama, karena ia memang tak memiliki nama. Meski telah menikah dengan Denny- Ayah kandung Andre sekaligus sepupu dari Rena yang notabene adalah aunt dari Andre, Patricia tetap menolong parawisma yang di temuinya. Bahkan setelah menjabat menjadi wakil Direktur menemani Allan- Ibunya itu tetap tak berhenti memberi sebagian rejekinya kepada orang yang membutuhkan.


 Dan dari sanalah Patricia menemukan Tama- saat itu Tama yang masih berumur 5 tahun di temukan Patricia tertimbun salju karena pingsan. Keadaannya saat itu menggenaskan- kedinginan, kelaparan dan ia tak bisa berbicara. Kelihatannya ia dibuang waktu ia bayi di taman tempat Patricia menemukannya, sungguh keajaiban ia bisa hidup sampai saat itu- tanpa seorangpun memungutnya. Karena kasihan, Patricia memungutnya, membersihkannya, memberinya makan, tempat tinggal dan Nama.


Setelah bisa berbicara dan menulis, Alan menempatkannya di Asrama Bodyguard miliknya dan melatihnya dengan latihan Bodyguard. Andre yang kala itu berumur 7 tahun hanya memandang Tama sebagai gadis kecil yang kasihan- tak heran, penampilannya saat itu sangat mengenaskan, pakaian compang camping dengan tubuh yang tak terawat.


20 tahun tak pernah terlihat, berbeda dengan saat umur Tama yang masih 5 tahun, dulu penampilannya mengenaskan dan sekarang...., emm.


‘ Biasa.’ Batin Andre.


Tubuh pendek tertutup jas kebesaran, rambut selalu tergulung dan tanpa riasan. Tak heran, latihan menjadi Bodyguard memang latihan fisik bukan melatih menata diri menjadi lebih menarik.


‘ sampai kapanpun aku takkan menyukai wanita seperti itu.’ batin Andre.


Tapi ibarat Benci dan Cinta itu berbeda tipis, siapa yang akan menyangka jika suatu hari nanti Andre akan menjilat air liurnya sendiri melihat Tama ketika ia sudah memperlihatkan dirinya sesungguhnya.


0o0



“ apa kau menyukainya?” ucap Ray setelah mengantar Berta ke sebuah bukit.


“ ini indah.” ucap Berta tersenyum dan memilih duduk di pinggiran Besi pembatas- karena saat Ray menjemput Berta- pria itu menggunakan motor.


“ saya pikir anda akan mengajak saya ke pesta lainnya.” ungkap Berta.


“ aku dengar kau tak suka tempat ramai, jadi aku mengantarmu kemari.” jawab Ray.


“ ya, saya lebih suka suasana sepi.” ucap Berta.


“ kenapa?” tanya Ray.


“ mungkin kebiasaan. Setiap keluarga besarku berkumpul yang mereka bicarakan adalah menyombongkan apa yang mereka punya dan..., yah.., aku tak menyukai pembicaraan seperti itu dan lebih memilih menyendiri, asik dengan duniaku.” ungkap Berta.


“ disanalah aku menemukan duniaku, Seni! Aku suka apapun yang berhubungan dengan seni, lukisan, design, tari, music dan masih banyak lagi.” ucap Berta memandang langit berbindang.


“ ya, itu terlihat jelas.” ucap Ray menatap Berta- jujur, karena memang semua hasil designya sangat imajinatif dan segar.


“ anda tahu? Dulu orang tuaku tak pernah menyetujui aku melakukan yang aku suka.” ucap Berta bercerita.


“ itu sebabnya kau terlihat tak menyukai keluargamu?” heran Ray.


“ aku bukan tak menyukai mereka, biar bagaimana pun mereka tetap keluargaku. Namun ada kalanya aku merasa jengah. Jika anda mau tahu, adikku sendiri bahkan pernah meremehkanku dengan kata- kata jika aku ini em.., stupid.” ucap Berta ragu.


“ ap? Kenapa?” heran Ray.


“ karena aku selalu diam, sehingga orang kerap menganggapku tak bisa.” ucap Berta.


Ray mengakui jika Berta memang berbeda dengan orang kebanyakan, namun Ray sadar itulah cara wanita itu menyerap yang di ajarkan, terbukti dari Berta yang hanya diam saat Ray mengajarkannya namun langsung bisa tanpa Ray perlu susah- susah mengajarkannya lagi.


“ kenapa kau tak mengatakan jika bekerja sebagai seketaris pribadi direktur? Itu bisa meruntuhkan kesombongan adikmu.” ungkap Ray.


“ jika aku melakukan itu, maka aku tak ada bedanya dengan mereka.” ucapan Berta membuat Ray terdiam.


“ biar Tuhan sendiri yang meruntuhkan kesombongan mereka, yang harus kulakukan adalah menikmati hidup.” ucap Berta tertawa.


Ray hanya menatap Berta yang melihat langit berbintang, sungguh- di banding langit berbintang bagi Ray saat ini wajah Berta lebih indah dari apapun.


0o