
Kali ini, Ray memilih pulang kembai ke rumah Berta. Namun, di tengah jalan- Ray menyadari sosok kekasih Berta menggunakan motor berlawanan arah dengan yang di tuju Ray.
‘ dia dari rumah Berta?’ batin Ray.
Dari pada cemburu, entah mengapa- Ray malah merasa khawatir dan cemas.
“ pak, bisakah lebih cepat.” pinta Ray.
Namun, karena Ray menggunakan mobil- mengharuskannya menggunakan jalan besar dan untuk sampai ke rumah Berta- Ray terpaksa menggunakan jalur yang lebih jauh. Karena jalan d rumah Berta hanya jalan kecil yang hanya bisa di lewati satu kendaraan roda empat atau lebih. Belum kemungkinan menemukan banyak kendaraan pribadi yang di parkir di pinggir jalan.
*
Setelah berterima kasih dan meminta supir untuk kembali ke kediamannya untuk beristirahat, Ray bergegas menuju rumah Berta. Ya, rumah Berta berada di kampung dengan jalan yang sempit- sehingga mobil hanya bisa masuk di depan gang.
Saat memasuk rumah Berta yang tidak terkunci- Ray mendapati rumah Berta yan berantakan dan Berta yang sedang membereskan rumahnya.
“ ada apa? Apa yang terjadi?” Ray hendak memapah Berta. Tampak Berta yang menangis sekarang.
Melihat Ray, Berta hanya menangis.
Sejujurnya, Ray tahu- saat ini yang paling di perlukan Berta adalah pelukan. Namun, Ray juga tahu adat dan norma di Indonesia. Mereka pasti akan salah paham dengan apa yang terjadi jika Ray memeluknya. Apa lagi saat ini pintu rumah Berta sedang terbuka lebar.
Akhirnya, setelah mendudukan Berta di kursi tamu- Ray lah yang membereskan kekacauan di rumah Berta, bahkan pria itu juga membuatkan tea hangat untuk Berta- dan menutup pintu rumah agar tetangga tidak melihat kekacauan di rumah Berta.
“ terima kasih.” ucap Berta saat Ray memberikannya teh hangat kepadanya.
“ kemana ayahmu?” tanya Ray.
“ ia sedang ada acara kejawen, biasanya jam 12 atau jam 1 baru pulang.” ucap Berta lemah.
“ Kejawen?” heran Ray.
“ erm..., mungkin kalau di artikan; yaitu mempelajari adat budaya jawa kaya cara berdoanya dan sebagainya.” jelas Berta.
‘ jadi itu alasan mengapa ia berani berbuat onar di sini? Karena sedang tidak ada siapapun di rumah Berta’ batin Ray.
“ bagaimana kau bisa tahu jika Daniel tadi kemari?” heran Berta.
“ kau pikir- siapa lagi yang berani membuat onar seperti ini di rumahmu?” kecuali pria tidak bermoral itu? Batin Ray.
“ ...” Berta hanya terdiam. Melihatnya, Ray hanya mengelus rambut Berta.
“ katakan kepadaku? Apa ia melukaimu?” ucap Ray lembut.
Berta menggeleng. Setelah menghembuskan nafasnya dengan berat- akhirnya Berta mulai bercerita.
Saat Berta pulang- Daniel telah menunggu di rumah wanita itu. Namun, karena ayah Berta pergi- membuat Daniel menunggu Berta untuk waktu yang lama di depan rumahnya. Kesal karena menunggu di tambah mengetahui jika rumah Berta akhirnya di gunakan untuk kost- kostan. Yang membuat tambah kesal karena ternyata penghuni kost tersebut adalah pria.
“ kau tahu, El? Sifat cemburu mu ini yang membuat carrier ku tidak berkembang!” kesal Berta saat itu.
Karena kesal akan perkataan Berta- pria itu lantas menghempaskan barang di sekitarnya.
“ kau bilang; aku yang menghalangi carrier mu? Huh!” kesal Daniel.
“ kalau begitu aku akan pergi! Kita lihat siapa yang akan perhatian padamu- selain aku. Kau lupa? Bahkan keluargamu tidak peduli padamu.” kesal Daniel lalu pergi meninggalkan rumah Berta..
Sejujurnya, dari pada senang- karena akhirnya Berta berpisah dari Daniel, Ray justru kesal pada tingkah Daniel- yang seolah- olah menjadi pria yang paling berjasa dalam hidup Berta.
Ray memilih mengelus punggung Berta agar wanita itu tenang. Melihatnya, lagi dan lagi- Berta merasakan perasaan hangat memenuhi hatinya. Di saat orang lain meremehkannya, Ray malah menyukainya. Bahkan di saat seperti ini- Ray yang notabene seorang direktur malah membantu Berta membereskan kekacauan yang di buat Daniel dan masih bisa menenangkan Berta.
Namun, Berta tahu jika Ray masih menghargai wanita itu, itu sebabnya yang di lakuka pria itu hanya menenangkan wanita itu. Berta lalu berinisiatif memeluk Ray.
“Be.., Berta.” ucap Berta gugup. Tak heran, karena memiliki agoraphobia- ini adalah kali pertama bagi Ray di peluk seseorang kecuali keluarganya.
“ terima kasih.” ucap Berta.
“...” Ray hanya terdiam lalu mengelus punggung Berta.
“ kau tahu? Di saat semua orang meremehkanku- kau adalah orang yang melihatku. Bahkan.., bahkan saat kekasihku yang kupercaya bisa membuatku merasakan kebebasan malah membuatku semakin merasa di setir. Terim kasih. Kau direktur- kau lebih memiliki segalanya dari pada keluargaku namun tak pernah sedetikpun kau memandangku rendah mata. Terima kasih.” ucapan Berta membut Ray semakin terdiam. Ia hanya memilih untuk semakin mengeratkan pelukannya pada Berta..