
Rena baru saja selesai membilas badannya mendapati Allan yang telah berpakaian lengkap sedang menulis sesuatu.
“ ini.” ucap Allan menyerahkan selembar cek.
“ ap.., apa ini tuan.” ucap Rena bingung.
“ tulis berapa yang kamu mau, anggap sebagai pengganti malam ini.” ucapan Allan entah mengapa membuat Rena menjadi kecewa.
“ apa saya terlihat semurahan itu tuan?” ucap Rena sambil tertunduk.
“ lalu kenapa kamu mau melakukan ini?” heran Allan. Rena menatap Allan dengan raut wajah yang tampak begitu terluka. Dan bukan jawaban yang Allan dapat;
PLACK! tapi tamparan dari Rena yang ia dapat. Allan yang terkejut menatap Rena hendak marah namun terhenti saat melihat bulir air mata yang mengenang di pelupuk mata Rena.
“ anggap saja ini tidak pernah terjadi tuan, saya juga akan melupakan malam ini, selamat malam.” ucap Rena berlalu hendak mengambil tasnya yang masih berada di mejanya dan beranjak keluar dari ruangan Allan.
“ Re.., Rena.” ucap Allan melihat Rena hendak pergi.
“ saya pulang dulu, tidak usah mengantar saya.” ucap Rena bergegas ke lift. Allan terdiam, tak tahu harus apa. Ia tak menyangka jika wajah Rena akan begitu terluka.
‘ apa aku melukai- nya?’ batin Allan.
‘ apa salahku? Aku melakukannya dengannya. Mengapa ia tak mau aku membayarnya?’ batin Allan gelisah, ia segera berlari menuju Lift dan hendak mengejar Rena namun tak ada satupun bayangan Rena di pintu keluar perusahaanya.
Allan menarik nafas kasar, mengacak rambut hitamnya kasar.
“ARGH!!” teriak Allan.
‘ kenapa wanita itu serumit ini, dan mengapa aku merasa begitu bersalah melihat air matanya?’
‘ kurasa besok aku harus berbicara padanya dan minta maaf.’ gumam Allan menuju mobilnya yang di parkir di basement kantor dan melajukannya menuju apartement mewahnya.
0o0
“ kenapa dengan seketarismu itu?” tanya Alan yang melihat Rena tampak lebih diam dari biasanya.
“ aku tidak tahu.” ucap Allan mengalihkan. Niat Allan untuk minta maaf belum bisa terealisasikan karena wanita itu selalu menghindar, bahkan saat Allan mengajaknya bicara, Rena tampak menjaga jarak dengannya, berbicara seperlunya dan saat ia meminta waktu berdua ketika jam istirahat Rena akan buru- buru ke kantin bersama dengan karyawan yang lain. Bahkan pesan- pesan Allan kemarin diabaikan dan hanya menjawab jika berhubungan dengan pekerjaan.
“ hem? Mencurigakan. Apa yang kalian lakukan setelah pulang dari rumahku, Hemm?” ucap Alan menggoda.
“ kita tidak melakukan apa- apa, Alan.” geram Allan.
“ benarkah? Tanda apa itu di leher Rena.” ucap Alan tidak berbohong karena memang ada bekas bite mark di leher Rena. Rena yang mendengarnya lantas menutupnya dengan rambutnya yang terbiarkan terbuai. Dan hal itu tak luput dari penglihatan Alan. Seketika Alan menarik Allan untuk keluar menuju atas atap.
“ memangnya kenapa Alan? Bukankah hal itu biasa?” ucap Allan mengalihkan pandangannya.
“ mungkin di jaman millenial pria menyentuh wanita meski belum menikah itu biasa Allan namun kau- lah yang tidak biasa. Kau yang dulu bahkan tidak akan mau bermain dengan wanita! Apakah kau menyukai Rena?” ucap Alan yang ingat betul sifat sahabatnya itu. Meski dulu Allan di kenal pembuat onar bagi Allan cinta adalah sesuatu yang murni dan sakral.
“ Alan, sudah aku katakan berulang kali aku tidak mungkin memiliki perasaan apapun pada Rena, ini semata hanya gejolak pria biasa.” ucap Allan mengusap tengkuk lehernya.
“ lalu kenapa wanita itu tampak lebih murung, Allan? Kau memaksanya?” ucap Alan dengan pandangan menyelidik.
“ dia tidak memberontak meski awalnya bingung dengan yang kulakukan.” ucap Allan mengusap mukanya dengan satu tangan, tampak mukanya yang memerah mengingat apa yang terjadi semalam.
“ lalu?” ucap Alan.
“ lalu aku memberinya cek karena merasa aku baru saja melakukan dengannya. Namun tak tahu mengapa di merasa tersinggung dan malah menamparku lalu meninggalkanku begitu saja. Dan endingnya ia bahkan tidak mau melihatku, berbicara hanya soal pekerjaan...” ucap Allan mengingat kejadian kemarin.
“ ap? Kau ini BODOH, ya?” ucap Alan, pria tambun itu mendorong bahu Allan sedikit keras.
“ kenapa?” heran Allan.
“ sebagai wanita tak heran dia merasa tersinggung, Allan. Kau baru saja melukai- nya.” ucap Alan menasehati.
“ ke.., kenapa?” heran Allan binggung.
“ kenapa? Kau masih tanya kenapa?” geram Alan.
‘ karena ia menyukai- mu!’ batin Alan geram sendiri. Terutama karena melihat Allan yang seperti benar- benar tak mengerti. ‘Allan, kau memang pandai soal pelajaran dan perusahaan, namun mengapa soal perasaan wanita kau menjadi sebodoh ini?’ batin Allan mengutuki kebodohan sahabatnya ini.
Alan menarik nafas kasar.
“ sudahlah, Allan.” ucap Alan hendak meninggalkan Allan, ia membuka kunci dan hendak turun kebawah. Meninggalkan Allan sendiri dengan kebimbangannya.
“ Allan, kau sendiri tahu- kan, jika kau mempermainkan cinta, suatu hari ketika kau telah jatuh cinta jangan salahkan jika kau juga di permainkan cinta.”
“ jangan bertele- tele katakan saja maksudmu.” ucap Alan tidak sabaran.
“ jika kau tak segera mengakui perasaanmu jangan salahkan aku jika suatu hari kau harus kehilangan Rena, Allan.” ucap Alan sebelum benar- benar pergi meninggalkan Allan sendirian dengan pikirannya.
Allan menarik nafas kasar, mengambil nicotine dari saku celananya, menyalakannya dan menghisapnya kuat- kuat. Allan menyenderkan tubuhnya pada pagar Atap dan menengadahkan kepalanya menatap langit dan merenung.
‘ apa aku benar- benar menyukai Rena?’
‘ tidak, ini pasti hasrat pria dewasa.’ batin Alan bagai terbagi menjadi dua kubu.
‘ lalu mengapa aku merasakan ini hanya pada Rena?’ Allan menarik nafas kasar, melempar nicotine- nya yang telah habis dan mengacak rambut hitamnya, memilih beranjak dari atap tempatnya berdiri.