The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
s2 naik jabatan



“ apa? saya naik jabatan menjadi seketaris pribadi direktur?” tanya Berta selepas dari pulang dari tugas lapangan.


“ ya, ini sebuah kesempatan bagimu.” ungkap Andre yang menyampaikan langsung maksud Ray kepadanya.


“ tapi, tuan... kenapa? Saya baru saja bekerja menjadi pegawai selama sebulan disini.” ucap Berta enggan, apa lagi melihat tatapa iri dari pegawai lainnya.


“ menurut Direktur kau orang yang pantas menduduki kursi seketaris, selama ini, kursi seketaris sudah lama kosong karena memang baginya tak ada seorangpun yang di akui direktur kita pantas menduduki kursi Sekataris pribadinya.” ungkap Andre.


“ makanya, lantas..., kenapa saya?” heran Berta.


“ karena bagi direktur kemampuanmu itu cocok menempati kursi seketaris, dia tahu, jika kau ini adalah pegawai di bagian divisi perancangan namun kau dengan lihai membetulkan bagian divisi pengembangan yang bukan bidangmu, jadi Direktur yakin akan kemampuanmu, apa lagi setelah di koreksi lagi ide darimu termasuk segar dan menarik.” ungkap Andre meyakinkan.


“ tapi...” ungkap Berta ragu.


“ kenapa? Soal gaji tentu gajimu akan naik berkali- kali lipat.” ungkap Andre berusaha.


“ apa saya mampu tuan? Saya hanya lulusan sekolah menengah atas, saya memang pernah kuliah namun saya belum memiliki title sarjana.” ungkap Berta mengecilkan suara.


“ soal itu kau tak usah khawatir, perusahaan menilai bakatmu bukan pendidikanmu, bahkan ada juga yang lulusan Sarjana hanya memilih menjadi security, karena ia merasa tidak mampu. Tapi dengan bakatmu meski kau tidak memiliki title kau mampu belajar menjadi seketaris yang baik.” apa lagi si direkur sialan itu tidak menerima seketaris selain kamu. Batin Andre.


“ baiklah.” ucap Berta ragu.


“ oke, mulai senin depan kau bisa langsung menempati kursi seketaris tepat menjadi satu ruangan dengan direktur utama, hanya terhalang sekat. Untuk barangmu, bawa saja barang pribadimu, tugas- tugasmu besok akan di ambil alih oleh pegawai yang lain.” ungkap Andre senang.


Sejujurnya ini bagai buah simalakama bagi Berta, tentu saja ini akan menjadi kabar baik untuk di katakan kepada ayahnya, sekaligus meruntuhkan kesombongan adiknya yang mengatakan jika otak Berta takkan mampu bertahan di perusahaan besar sekelas Ash- group, namun disisi lain ia tak tahu akan tahan dengan tatapan iri senior sekaligus pegawai yang lain.


Berta bukanlah wanita yang supel dan gampang berteman, ia tipe orang yang takkan menyapa jika tak di sapa, namun sejujur jika sudah mengenal baik Berta sebenarnya ia termasuk pribadi yang enak di ajak bicara juga meluahkan perasaan kepada wanita ini. Namun karena sifatnya yang tak menyapa kecuali di sapa inilah yang membuat orang salah mengira jika ia pribadi yang tertutup.


“ Hai, kenapa melamun?” tanya seorang wanita mengagetkan Berta.


‘ oh, jadi ia mengenal saudari Direktur tak heran jika ia dapat dengan segera naik tingkat, wanita yang licik.’ ucap sebuah suara samar- samar.


“ apa kalian tahu jika mengatai orang di belakang itu tanda tak mampu?” ucap Emily sarkas. Seketika pegawai yang lain diam bergidik tak berani membalas, siapa saja yang membuat saudari direktur utama- marah tentu saja semua tahu konsekuensi nya. Antara di turunkan pangkatnya atau di pecat.


Bukan rahasia lagi jika sekali keluar dari Ash Group karena di pecat kemungkinan kita mendapatkan pekerjaan lagi adalah hal yang mustahil, bahkan nama kita sudah masuk ke dalam black- list daftar pencari kerja.


“ sudahlah, bagaimana kau tahu jika aku berada di Divisi perancangan?” tanya Berta.


“ kau lupa jika aku adik kembarku itu adalah direktur di perusahaan ini, aku juga memiliki saudara jauh yang bersedia mencarikan aku informasi pegawai disini.” ungkap Emily.


“ ngomong- ngomong apa yang kudengar benar? Kau akan bekerja dengan adikku?” tanya Emily.


“ em.., ya.” ucap erta ragu, takut jika Emily tak setuju.


‘ ukh.., akhirnya adikku yang membeci wanita itu mau mengangkat seketaris didekatnya, dan apa yang kudengar itu benar? Ray sendiri yang meminta Berta yang tak lain dan tak bukan seorang wanita ini menduduki kursi seketaris?’ batin Emily terharu.


“ aku mendukungmu!” ucap Emily lantang.


“ ha?” heran Berta.


“ aku mendukungmu, untuk menaklukkan adikku.” ucap Emily semangat.


‘ dan buat dia bertekuk lutut! Bukan maksudku buat phobia pada wanita nya hilang.’ batin Emily.


Sementara Berta hanya merasa bingung akan kata- kata Emily, teman yang baru saja di temui nya.


0o