The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 pov Berta; kecewa



Jika biasanya aku akan mabuk ketika berada di ruangan tertutup, kali ini aku merasa tidak ada masalah dalam perjalanan menggunakan pesawat. Mungkin karena perjalanan yang seharusnya di tempuh sekitar satu jam hanya di tempuh 15 menit, apa lagi kita tak perlu menunggu jam keberangkatan pesawat karena kita naik pesawat pribadi milik keluarga Ashton.


Aku memang tahu jika ibu dari direktur adalah


orang Indonesia, namun aku tak menyangka jika direktur utama sangat fasih berbahasa Indonesia. Lucu rasanya melihat seorang bule fasih berbahasa Indonesia. Bahkan ia bisa mengucapkan kata- kata Indonesia itu dengan lancar tanpa terdengar cadel.


Aku sedikit kagum karena direktur utama tampak tak asing dengan wilayah Indonesia, bahkan tanpa menggunakan pemandu ataupun supir ia mengendarai kendaraan sendiri menuju lokasi dimana proyek perusahaan berlangsung.


‘ bahkan aku sendiri yang asli- lahir di Indonesia saja belum tentu hapal daerah- daerah di Indonesia.’ batinku kagum.


Setelahnya, aku memilih mengikuti direktur utama kemanapun ia berada, melakukan inspeksi lapangan dan mencatat hal- hal yang terkecil yang di sampaikan oleh direktur sendiri.


“ karena kita melewatkan jam makan siang dan sebentar lagi jam pulang kantor, bagaimana jika kita ke restoran di dekat sini?” ungkap Direktur melihat arlojinya.


‘ makan siang? Ini sudah lewat tengah hari?’ batinku ikut melihat jam di Arloji yang di belikan Emily. Aku memang selalu tak sadar akan waktu jika sudah fokus dalam satu hal.


“ boleh, tapi baju saya penuh dengan keringat dan kebetulan rumah saya berada di dekat sini, bagaimana jika kita mampir sebentar, Tuan?”


“ rumah mu, di dekat sini?” tanya direktur.


‘ kenapa ia terlihat antusias? Apa ia ingin meminjam toilet?’ heranku melihat suara Direktur yang terdengar semangat saat tahu jika rumahku berada di dekat lokasi pembangunan.


“ ehem.” ungkapku mengangguk.


“ baiklah.”


🏡🏡🏡


Sialnya adalah, aku lupa jika aku meletakkan kunci ku tas yang aku tinggal di hotel.


“ maafkan aku.” ucap ku tertunduk lesu. ini memalukan, setelah memarahinya, sekarang aku membiarkan seorang direktur sepertinya menunggu di depan rumah sederhana milikku. Lagi pula ayah kemana sie?


“ apa kau tak membawa kunci rumahmu?” tanya direktur.


“ aku melupakannya di hotel. Apa kita langsung makan di restoran saja?” tawarku.


“ tidak perlu, kita sudah sampai sini, kita tunggu ayahmu sebentar.”


“ kita sekalian membahas soal Proyek tadi saja.” ucap direktur seolah menenangkanku yang tampak merasa bersalah.


‘ padahal, akulah yang salah, mengapa ia malah menenangkanku?’ batinku. Mungkin, jika ia adalah Daniel, sekarang tak henti- hentinya ia megomeliku. Melihat apa yang di lakukan Direktur kepadaku, aku hanya bisa tersenyum, entah mengapa, perasaan hangat mengalir di dada ku.


🍂🍂🍂


Dan tidak sampai 10 menit Ayahku akhirnya pulang kerumah.


“ lho, Ta? Sudah pulang? Ayah pikir kau masih di LN?”ucap ayah Berta.


“ iya, kebetulan aku sedang ada proyek di dekat sini. Oh iya, kebetulan ini Ray, atasanku.” ucap Berta.


‘ ini kali pertama aku menyebut nama aslinya. Apa boleh buat, aku tak ingin keluarga ku tahu ia seorang direktur. Jika sampai mereka tahu, yang ada- mereka pasti akan berusaha menyuruhku dekat dengan direktur. Akan terasa sangat tidak nyaman jka itu terjadi.’


‘ kenapa kau tak bilang aku Direktur?’ heran direktur dengan suara rendah, setelah menerima salam dari ayahku.


‘ jika aku mengatakan kau direktur, ayah akan menjodohkanmu padaku dan memamerkannya pada seluruh keluargaku.’ bisik Berta.


‘ bukannya itu bagus?’ heran Ray.


‘ bagus? Ia tidak masalah, aku merayunya? Bukankah dari rumor yang aku dengar ia tipe orang yang tak suka di rayu?’ batinku.


‘ kau mau ayahku menyukaimu karena pangkatmu, bukan karena benar- benar menyukai mu?’ tanyaku. Direktur tak bisa menjawabnya.


“ ngomong- ngomong setelah ini aku masih mau membicarakan bisnis dengan atasanku, ayah tolong temani dia, sementara aku berganti baju.” pintaku untuk mengalihkandan bergegas masuk ke dalam rumah.


“ setelah ini kau tak usah memakai baju formal, pakai baju bebas saja.” pinta direktur.


‘ apa? Kenapa?’ heranku.


“ tidak enak rasanya, jika anda memakai baju formal sementara saya memakai baju bebas.” ucapku sebagai alasan.


“ tenang saja, aku membawa baju ganti di bagasi mobil.”


“ tuan, anda mau saya di bicarakan tetangga saya karena berkencan di luar sana dan menjadi berita yang menyebar sampai ke Negeri kita?”tanyaku.


‘ karena itulah kebudayaanku; bergibhah.’


“ welcome to Indonesia.” tawa ku meninggalkan direktur dengan ayahku.


Sebenarnya, aku cukup berganti baju, kebetulan, saat aku mendapat kabar aku di terima kerja, aku di belikan beberapa baju kerja oleh kakak iparku- istri dari kakak laki- laki ku. Tapi aku bukan tipe yang betah dengan keringat dan tak cukup rasanya hanya dengan menyemprotkan parfum ke tubuhku. Aku lebih suka wangi segar dari sabun mandi, pewangi cuma sekedar pelengkap saja.


Itu sebabnya aku memutuskan membilas tubuhku, setelah segar, mungkin aku bisa berdandan sedikit, mengingat kita akan membahas di restoran, akan sangat memalukan jika aku brdampingan dengan seorang direktur dengan wajah kusam kan. Aku memang bukan tipe yang suka berdandan hingga berlapis- lapis cosmetic, namun aku juga bukan tipe orang yang pede jika bepergian tanpa cosmetic.


“ aku sudah selesai ganti, bagaimana?” tanyaku.


Aku memutuskan menggunakan tampilan yang lebih Fresh, dengan blezer yang senada dengan stiletto ku juga celana panjang membuatku tampak bisa bergerak bebas.


“ luar biasa.” puji direktur.


“ kalau begitu kita berangkat dulu, ayah.” ucapku mencium tangan ayah.


“ kita berangkat dulu.” ucap direktur melakukan hal yang sama kepada ayahku.


“ kenapa kau mencium tangan ayahku?”


“ kau juga melakukannya.”


‘ memang ia berpikir sedang salam ayah mertua, ya?’ batinku.


“ karena dia orang tuaku, sedangkan kau itu bukan keluarga ku.”


“ oh, begitu, ya.., maaf.” ucap Direktur dengan senyum kikuk.


“ tak usah pedulikan dia, ia memang sedikit somplak bin koplak.” ucap ku menyender pada pagar rumahku.


“ apa itu somplak bin Koplak?” tanya Ray.


“ artinya ganteng dan tampan.” ucapku tersenyum dan direktur pun membalas dengan senyuman juga.


‘ ia takkan mengerti artinya, kan? Asyik juga sesekali mengerjai seorang direktur.’ batinku


‘ uph!’ batinku terkejut karena tangan besar direktur meraup wajahku.


“ kau pikir aku tak tahu artinya?” tanya direktur menguyel wajahku.


“ aku cuma bercanda, boss. Ampun.” ucapkku tertawa sambil mengatupkan kedua tanganku.


“ jangan bercanda begitu pada atasan Ta. Tidak sopan.” ucap ayahku menasehatiku.


‘j**angankan bercanda, aku saja pernah meneriakinya.’


“ tidak apa- apa, pak. Biar tidak terlalu suntuk, lagi pula kita berada di luar kantor.” ucap direktur membelaku. Sekali lagi aku hanya tersenyum dan perasaan hangatpun sekali lagi mengaliri dadaku.


“ ya sudah kita benar- benar pergi dulu, yah.” ucapku..


“ Ta. Nanti ayah akan mengunjungi apartementmu di LN, masih sama dengan yang dulu, kan?” tanya Ayahku.


‘ tumben mau main kesana.’


“ ya, main saja. Ayah masih punya kunci cadangannya, kan?”


“ ya.” ucap ayah .


“ kau tinggal di apartement?” tanya direktur saat sudah di dalam mobil.


“ ya, apartement murah meriah, aku tak yakin seorang direktur sepertimu mau mengunjungi nya.”


“ aku bertanya karena aku ingin mengunjunginya.”


“ apa setiap direktur memang ingin tahu tempat tinggal pegawainya?”


‘ atau perlakuan ini hanya di khususkan untukku? Ayolah, Berta! Berhenti berharap dan membuatmu kecewa karenanya.’


“ erm.., ya?” ucap direktur. ‘ sudah kuduga, jika perlakuannya ini bukan kepadaku saja.’ batinku kecewa.


Kecewa? Kenapa? Heranku, aku sendiri tak tahu, hanya saja perasaan yang tadi mulai menghangat kini di penuhi rasa sakit karena kecewa.


“ jangan terlalu sering mengunjungi tempat tinggalku, aku tak ingin para pegawai mengataiku, bisa berada di posisi ini karena dekat dengamu.” ucapku pura- pura mengawasi tab ku. Karena aku tak ingin jika direktur sampai melihat seperti apa rupa wajahku saat ini.