
Sabtu jam 5 dini hari lahirlah putri pertama Alan dengan Alicia yang dinamakan Angelica. Berita hangat ini di sebar hanya kebeberapa keluarga dan sahabat terdekat Alan. 2 bulan setelah kelahiran putri kecil mereka, Alan dan kerabatnya merayakan kelahiran Angelica, sebagai sahabat tentu saja Allan diundang.
“ selamat Alicia, Alan atas kelahiran anak pertama kalian.” ucap Allan menyerahkan hadiah yang di terima Patricia.
“ kak, kau harus melihatnya, bayi mereka seperti doppelganger kak Alan.” ucap Patricia antusias.
“ kau seperti sudah pernah melihat kakak waktu bayi saja.” gerutu Alan.
“ dari foto- kan ada. Lagi pula memang mirip, koq.” rengek Patricia. Allan hanya tersenyum kecil melihat kelakuan adik dan kakak didepannya.
“ sudah- sudah, Allan, kamu mau menggendongnya?” lerai Alicia. Tampak Allan yang masih kaku menggendongnya. Allan menamati putri kecil dalam gendongannya ini, benar- benar mirip dengan Alan yang berbeda hanya kulitnya yang putih dan rambutnya yang bewarna pirang pucat seperti rambut Alicia.
“ jadi kapan kamu nyusul, Lan?” ucap Alicia sontak membuat Allan terkejut.
“ apa maksud sis Alicia? Aku bahkan belum menikah bagaimana mungkin bisa nyusul?” ucap Allan salah tingkah.
“ aku dengar dari suami- ku saat akhir pekan kamu kemari, namun kamu buru- buru pulang karena mau menemui kekasihmu.” ucap Alicia. Sontak membuat Allan menatap Alan, ia mau mengatakan sesungguhnya namun ada Patricia ikut mendengarkan, dan hal ini di manfaatkan Alan.
“ kenapa kamu tidak mengajak Rena? Alicia pasti senang bertemu dengan gadis itu.” ucap Alan menggoda Allan.
“ di.., dia butuh waktu bersama keluarganya.” ucap Allan sebagai alasan.
“ kalau begitu telephone dia, tanyakan, kalau tidak ada kendaraan ya kamu jemput.” ucap Alan memanas- manasi.
‘ sial, awas saja nanti.’ batin Allan mengutuki Alan meski tentu saja itu hanya gurauan, Allan tidak mungkin benar- benar membalas sahabatnya itu. Setelah mendial nomor Rena, Allan benar- benar menelpon Rena.
‘ halo? Ada apa tuan?’ jawab Rena dari seberang telephone.
“ ah, kau ingat Alan? Hari ini kami sedang merayakan kelahiran anaknya, bisa kamu datang?” ucap Allan jujur.
‘ saya? Saya sedang tidak bisa tuan.’ ucap Rena.
“ kenapa?”
‘ saya sedang di Indonesia, tuan. Hari ini hari peringatan kematian ibu saya jadi saya sedang berdoa di makam ibu saya.’ ucap Rena.
“ apa katanya?” tanya Patricia.
“ dia tidak bisa ikut, dia sedang memperingati hari kematian ibunya.” ucap Allan jujur.
“ sayang sekali, padahal aku ingin melihat siapa orang yang berhasil meruntuhkan dinding hati keras- nya Allan.” ucap Alicia. Seketika membuat Allan menatap kesal pada sahabatnya itu yang tentu saja hanya di balas juluran lidah.
---
“ telephone dari siapa?” tanya ayah Rena.
“ hanya atasanku di kantor, koq. Daddy- kan sudah pernah bertemu.” jawab Rena sekenanya.
“ Atasan? Koq kelihatannya kamu senang banget dapat telephone darinya?” tanya Ayah Rena.
“ ha ha, tidak koq.” ucap Rena mengusap wajahnya.
“ dad melihat atasan kamu baik banget. Baru kali ini ada yang menjenguk bawahannya langsung bahkan sampai membawamu ke dokter.” ucap ayah Rena menuntun anaknya keluar dari lingkungan makam.
“ iya, aku juga awalnya ngira dia menakutkan, tapi ternyata dia sosok yang baik.”
“ kamu menyukainya? Atasanmu?”ucap ayah Rena antusias.
“ ha ha, ayah, kita kan beda derajat, mana mau orang seperti boss Allan itu mau sama Rena.” ucap Rena naik ke kendaraan ayahnya.
“ hahaha jodoh tidak ada yang tahu, Ren. Dad hanya bisa mendoakan yang terbaik.” ucap ayah Rena mengendarai motornya menyusuri jalan pulang.
______
Siapa yang lihat judulnya ngira akan ada musuh baru?
( BIAR ADA YANG COMENT, SEPI BAT KAYA KUBURAN)