
“ kau sudah makan?” tanya Allan melihat Rena yang masih diam melihat Handphone- nya.
“ belum tuan.” jawab Rena menatap Allan.
“ ayo kita makan dulu baru aku akan mengantarmu pulang.” ucap Allan mengantar Rena ke resto LL.
---
Setelah membeli makanan Allan tidak langsung mengantar Rena namun mengarahkan mobilnya ke jalan yang belum pernah di lalui Rena sebelumnya.
“ kita mau kemana tuan?” tanya Rena.
“ ikut saja, saat tahu tempatnya perasaanmu pasti akan terasa lebih baik.” ucap Allan tanpa melihat Rena.
---
Setelah sampai di tujuan, Allan menyuruh Rena turun, tampak raut ekspresi enggan di wajah Rena, namun ia hanya menurut keluar dari mobil untuk melihat pemandangan sekitar. Betapa terkejutnya Rena melihat ia sedang berada di atas bukit yang memperlihatkan ratusan bintang yang tampak terlihat jelas tanpa halangan gedung- gedung tinggi.
“ tuan, ini indah sekali.” ucap Rena yang melihat pemandangan sekitar.
“ bagaimana perasaanmu?”tanya Allan, duduk di moncong mobilnya.
“ aku hanya tidak ingin hal ini mempengaruhi kinerja- mu besok.” ucap Allan membaringkan tubuhnya agar leluasa melihat langit berbintang.
“ tentu saja tidak, jika berciuman dengan anda saja tidak mempengaruhi saya mana mungkin hal sepele seperti ini bisa mempengaruhi saya, lagi pula saya sudah tahu dari awal jika Dika berpacaran dengan saya bukan karena menyukai saya.” ucap Rena tersenyum, apa yang dilakukan Allan tak pernah terpikirkan Rena sebelumnya.
“ lalu mengapa kau menangis?”
“ karena saya menganggap Nina tulus berteman dengan saya, namun hanya karena satu orang pria dia bukan hanya memusuhi saya namun juga menyebarkan beberapa rumor tentang saya, salah satunya yang tadi dia teriakkan pada saya.” ucap Rena menatap langit yang penuh bintang. Allan menatap Rena, ia menjadi ingat Rena yang dulu cuppu.
Yang akan menangis karena dijahili teman- temannya, ia bahkan pernah menangis hanya karena tidak mau di suntik vaksin. Namun yang ada di hadapannya kini adalah wanita yang tegar, yang hanya menangis sekali setelah itu melemparkan senyum yang manis. Setelah hari mulai larut akhirnya Allan mengantar ke depan gang rumah Rena karena jalan masuk itu sangat kecil dan tidak bisa di lewati mobil.
“ terima kasih untuk satu hari ini tuan.” ucap Rena memberi salam. Sebelum berlalu menuju rumahnya.
“ Rena.” ucap Allan memanggilnya.
“ ya…” ucap Rena terhenti saat tangan Allan menariknya dan menciumnya lagi, kali ini lebih lama dengan sedikit *******.
“ kau bilang jika ciumanku tidak akan mempengaruhi- mu, kan? Aku harap besok kau tetap semangat bekerja seperti biasa.” ucap Allan sebelum meninggalkan Rena yang masih terdiam mematung menatap kepergian Allan yang tak lagi terlihat.
0o0
Satu- satunya kesalahan Rena adalah meski di berlakukan oleh Nina sedemikian kasar wanita itu tak bisa membenci Nina. Mungkin bagi sebagian orang ada yang bilang dia munafik, namun begitulah dia. Ketika ada orang yang menganggu Rena, ia hanya akan mengeluarkannya lewat tangis setelah tangisnya reda jika orang yang tidak ia sukai tidak mencari gara- gara ia akan dengan segera melupakan kekesalannya bahkan menganggap semua yang terjadi hanya masa lalu. Mungkin itu sebabnya kenangannya dengan Allan di masa lalu dapat dengan gampang di lupakannya, selain kejadian itu terjadi sudah sangat lama tentu saja.