The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 Erick Ashton



“ ngomong- ngomong, tidak mungkin kan kalian pulang hanya merindukan kami?” tanya Emily di sela makannya.


“ ya, sebenarnya, adikmu Erick baru saja menuntaskan study kedokterannya dan sudah mengesahkan sumpah Dokter nya, setelah praktek di Swiss selama setahun ia akhirnya memutuskan pulang.” ucap Allan menatap Berta dan Istrinya.


‘ dia benar- benar mirip dengan Rena, bahkan yang di pesan pun tak jauh berbeda, sossis dengan telur. Rena tak pernah makan yang jauh dari benda kuning di tengahnya itu.’ batin Allan melihat keakraban juga kemiripan istrinya dan Berta.


“ apakah ia adik yang kau ceritakan Em?” tanya Berta.


“ yap.” ucap Emily mencomol karage ayamnya dengan saus keju.


“ anak- anak kami sangat jenius dan berbakat.” ungkap Rena.


“ di usianya Erick yang baru 14 tahun sudah lulus S1, kami ingin meneruskan pendidikan kedokteran nya di Perancis sebenarnya, namun ia mendapatkan beasiswa dari Negara untuk melanjutkan di Swiss, jadi kami harus merelakan anak kecil kami.” ungkap Allan mengupas Jeruk sebagai penutup dan memakannya.“ what are you say’ little son’?” tanya sebuah suara.


“ Erick?” tanya Rena dan Allan serempak.


“ kau sudah kembali? Little brother?” Ucap Emily menepuk pundak Erick.


“ sudah, aku memang pulang hari ini, aku sudah mengatakan pada mom dan dad untuk menjemputku di bandara tapi ternyata kalian malah asik disini.” ungkap Erick kesal dan langsung duduk di sisi Berta.


“ aaa, maaf, Mommy lupa, mommy ingin menjemputmu setelah berbelanja makanan untuk pesta penyambutan kepulanganmu, tapi di tengah perjalanan kami bertemu dengan sister mu dan temannya.” ucap Rena mengatup kedua tangannya.


Erick mendengus kasar dan menoleh ke Berta karena ingin tahu teman seperti apa yang di bawa saudari nya, karena ini kali pertama, saudarinya yang tidak gampang dekat dengan orang bisa membawa teman untuk di ajak makan bersama dengan keluarganya.


“ nama ku Berta.” ucap Berta tersenyum.


Satu senyuman mampu menggetarkan hati Erick, seketika ia menerima uluran tangan Berta dan tanpa sengaja berucap.


“ kau cantik.” ucap Erick dengan bersemu Merah.


“ Eh?” ucap Berta bingung, apa lagi karena tangannya di genggam Erick dengan intens.


Plack! Sebuah suara tamparan keras terdengar.


“ auw! Pak tua kenapa kau memukul kepalaku?” tanya Erick tak terima.


“ anak muda! Pertama, panggil aku Daddy, dad, father, Papa atau apalah terserah padamu. Kedua, dia ini hampir seumur kakak- kakakmu!” ucap Allan yang mengetahui jika anak bungsunya ini menyukai Berta, kelihatannya pesona Rena tanpa sadar telah membuat anak- anaknya jatuh hati, itu sebabnya ketika anak- anaknya melihat seseorang yang mirip dengan sosok Rena, mereka akan langsung jatuh cinta.


“ Eh? Berapa umurmu?” tanya Berta yang mengira jika Erick mungkin seumur dengannya.


“ 17, kau?” tanya Erick memastikan.


“ 25.” ucap Berta tak percaya. Karena Erick memang sangat tinggi di umurnya 17 tahun.


Kata- kata Berta meruntuhkan jiwa Erick, seketika ia menjadi seolah tubuh tanpa tulang.


“ biarkan saja, ia baru saja memasuki masa puber.” ucap Allan acuh.


‘ masa- masa mengenal jatuh cinta sekaligus patah hati- Secara bersamaan.’ batin Allan menyedot jus nya.


“ tapi itu berarti, ia dan kau terpaut jarak hampir 10 tahun kan?” heran Berta.


“ ya, sebenarnya, saat aku mengandung Emily dan Raymond di karenakan sebuah kecelakaan. ada sebuah kejadian dimana Allan tidak mengetahui jika aku mengandung anaknya sehingga aku harus membesarkan anak- anak yang kala itu masih di dalam kandungan- sendirian hingga usia kemamilan hampir memasuki 6 bulan.” ucap Rena mengenang.


“ Honey, i’ m so sorry.” ucap Allan lirih, mengingat hal itu selalu timbul rasa penyesalan yang amat sangat di diri Allan.


“ it’ s no problem, Darly.” ucap Rena mengelus Allan yang merajuk.


“ jadi karena itu Aunt, Trauma?” tanya Berta, sementara para anak- anak Rena juga Allan memilih melanjutkan makan mereka dan Erick memesan makanannya.


“ ya, bisa di bilang begitu, padahal anak- anak yang kala itu masih sangat kecil, menginginkan seorang adik, sebenarnya aku selalu meyakinkan jika anak- anak dari saudara jauhku juga merupakan adik mereka, tapi mereka bersikeras menginginkan adik sendiri, akhirnya aku memberanikan untuk hamil lagi kedua kalinya.” ucap rena mengenang.


“ dan akhirnya berhasil melahirkan Erick tanpa kendala?” tanya Berta.


“ jika di bilang tanpa kendala sie.., tidak juga. Ibu Hamil memiliki psychology yang lebih rentan dari pada yang lain. Dan kau tahu? Suami ku ini pernah memberiku kejutan Anniversary dengan berpura- pura selingkuh.” ucap Rena menatap Allan yang menciut karena rasa bersalah.


“ pasti sangat sakit.” ucap Berta tanpa sengaja.


“ tentu saja sakit, di kehamilan pertama aku sudah mengalami ujian dengan membesarkan sendirian juga di cemooh warga karena hamil tanpa suami dan di kehamilan kedua aku mendapatkan kabar jika suamiku bersama wanita lain.” ucap Rena menyesap kopi nya.


“ lalu?” tanya Berta.


“ aku meyakinkan diriku jika setiap keluarga memiliki ujiannya sendiri, tak ada yang sempurna. Tapi dalam hatiku jika Allan benar- benar mendua aku akan membawa anak- anak dan pergi jauh darinya- itulah janjiku dulu dengannya sebelum menikahi nya.” ucapan Rena seketika membuat Allan memeluknya.


“ sayang, aku mohon- maafkan aku. Aku berjanji tidak akan membuat kejutan seperti itu lagi.” ucap Allan merajuk. Rena hanya tertawa kecil dan mengelus kepala suaminya yang tak lagi muda itu.


“ panas- panas- panas.” ucap Emily dengan suara ala pengantar barang sambil mengibaskan kerah bajunya.


“ kurasa pendingin disini rusak, aku merasa gerah.” timpal Erick mengibaskan tangannya.


Sementara Berta hanya menciut melihat kemesraan para pasangan yang tak lagi muda- didepannya.


0o0


 hai! hai! hai!


tak lupa Author ingatkan untuk tinggalin jejak ya.