
“ kenapa kau malah ikut aku kekantor?” geram Allan karena Patricia malah mengikutinya kekantor.
“ kak Alicia sedang pergi kontrol ke rumah sakit memeriksa calon baby- nya dan aku tidak ingin sendirian dengan kakak laki- lakiku, bisa- bisa aku harus mendengarkan omelannya sendirian.” rujuk Patricia. Satu- satunya yang ia takuti dan tak bisa ia bantah adalah kakak laki- lakinya. Jika sampai kakak- nya itu marah ancaman yang membuat Patricia tidak bisa berkutik adalah credit card- nya yang akan di bekukan Alan.
“ siapa suruh masih jadi anak nakal, kau seharusnya sudah membantu bisnis kakakmu, Patricia.” geram Allan terus masuk ke ruangannya. Begitu tiba di ruangan Allan, Patricia menghampiri Rena. Sebenarnya ia memang di haruskan beristirahat, namun Rena merasa dirinya sudah lebih baik dan masih bisa bekerja.
“ Rena.” sapa Patricia.
“ ya, Nona?” jawab Rena sopan. Karena Patricia adalah adik dari sahabat Boss- nya.
“ kau lebih baik hati- hati.” ucap Patricia jahil, tidak mempedulikan tatapan jengah Allan.
“ hati- hati?” jawab Rena.
“ ada wanita lain yang mengincar kak Allan.” ucap Patricia yang di jawab tawa kecil oleh Rena.
‘ rupanya ini masih soal sandiwara tentang kekasih yang di sebutkan boss?’ batin Rena.
“ siapa itu nona?” jawab Rena. Pura- pura tertarik.
“ entahlah, wanita itu mengatakan namanya Nina.” ucap Patricia terlihat raut wajah tak suka.
“ anda bertemu dengan Nina?” tanya Rena sedikit terkejut.
“ kau kenal dengannya?” tanya Patricia antusias.
“ dia teman seangkatan saya nona.” jawab Rena jujur.
“ kau? Bagaimana kau bisa berteman dengan wanita ular itu?” tanya Patricia tak percaya. Tampak Allan yang menyunggingkan seulas senyum mengejek melihat raut wajah Patricia yang mengtakan Nina adalah wanita ular.
“ em, kami teman seangkatan beda jurusan yang kebetulan satu kelas di salah satu mata kuliah saya dulu.” ucap Rena setelah mengingat awal pertemuannya dengan Nina.
“ huh! Kau tidak cocok berteman dengan wanita itu, kau dan dirinya bagai langit dan bumi, yah harus kuakui dia cantik hanya sifatnya….,” baru mau Patricia meluahkan kekesalannya, ia terkejut ada seseorang didepan pintu ruangan Allan yang menunggunya.
“ kak Alan?” ucap Patrica panik, menatap Allan yang telah memegang ponselnya.
“ sudah kakak bilang jangan merepotkan Allan. Ayo pulang!” ucap Alan menarik adiknya agar pulang.
“ kak Allan, kamu jahat.” rengek Patricia.
“ disini bukan tempat bermain anak kecil, nona.” ucap Allan dengan nada mengejek. Lalu melirik ke Rena sekilas.
“ kembali bekerja, ini bukan sesi curhat.” ucap Allan melihat Rena yang menatap Patricia dibawa pergi Alan.
“ maafkan saya tuan.” ucap Rena. Melanjutkan pekerjaannya. Setelah kembali duduk ke kursi kebesarannya. Allan melirik ke Rena sejenak.
“ kau tidak apa- apa?” ucap Allan menatap Rena, wajahnya memang sudah terlihat lebih baik, namun Allan dapat merasakan pergerakan wanita itu tidak segesit biasanya.
“ ya?” heran Rena.
“ kau sudah lebih baik? Bukankah kata dokter kau harus istirahat 3 hari full? Aku memberimu ijin tidak masuk sampai besok.” ucap Allan khawatir.
“ saya tidak apa- apa tuan. Tuan bisa lihat saya sudah bisa berdiri tegap.” canda Rena. Melihatnya Allan tersenyum.
“ jadi yang anda maksud adik sahabat itu…, tuan Alan?” ucap Rena ragu.
“ ehem? Kau kenal dia?” tanya Allan memastikan.
“tidak, saya hanya penasaran karena nama anda dan tuan Alan mirip.” ucap Rena sambil tertawa kecil.
“ ya, yang berbeda hanya nama belakang kami saja.” ucap Allan beranjak ke sofa- nya.
“ Rena.” ucap Allan memanggil Rena.
“ ya?”
“ pijat, aku.”
“ ya?” ucap Rena bingung.
“ kau mau aku mengatakannya berapa kali, aku memintamu memijatku.” ucap Allan meninggikan nada suaranya, membuat Rena terkejut. Entah mengapa mendengar Rena membicarakan orang lain membuatnya kesal.
“ ta.., tapi tuan, bagaimana dengan pekerjaan saya?” ucap Rena bingung.
“ aku yakin kau bisa menyelesaikannya hari ini meski memijatku.” ucap Allan tidak sabar. Akhirnya Rena mau tidak mau beranjak kekursi di sebelah Allan.
“ anda menyukai pijatan saya rupanya.” canda Rena mencoba memijat Allan. Allan tidak menjawabnya.
“ apa anda mau saya pijat punggung anda? Anda terlihat lelah.”ucap Rena menawarkan.
“ itu karena anda belum merasakannya.” tawa Rena. Ia hanya ingin meredakan marah dari boss- nya tanpa maksud apapun. Melihat candaan Rena yang menyingsingkan lengannya membuat Allan tertawa lalu memilih untuk duduk.
“ awas saja jika tidak berasa.” ancam Allan. Rena mendekatkan tubuhnya kebelakang tubuh Allan dan mulai memijit bahu pria itu. Allan tak menyangka jika Rena benar- benar pandai memijit. Bahkan tangan kecilnya benar- benar berasa di otot- otor Allan dan membuatnya jadi Rilex.
Namun terlihat Rena menghentikan pijatannya dan mengkibaskan tagannya, kelihatannya otot- otot Allan terlalu berat untuk tangan kecil Rena.
“ berbaliklah.” ucap Allan menyuruh Rena berbalik.
“ ya?”
“ kau sudah memijatku, kelihatannya otot- otot- ku terlalu berat untuk tangan kecil- mu, jangan sampai itu mempengaruhi kerjamu, berbaliklah biar aku bisa memijat- mu.” ucap Allan hendak memijat Rena.
“ tuan, tidak usah.” ucap rena hendak menolak.
“ berbaliklah.” ucap Allan singkat namun tegas, mau tidak mau Rena membalikkan tubuhnya dan Allan mulai memijit. Namun terlihat jika Rena malah merasa geli.
“ kenapa kau tertawa aku sedang memijatmu, bukan mengelitikimu?” heran Allan.
“ ma.., maaf tuan. Saya memang sensitive, mendiang ibu saya saja sampai marah- marah, karena saya minta pijat tapi saya malah tertawa.” ucap Rena menahan tawanya.
Namun Allan secara tidak sengaja memijat sedikit kearah dada, dan kini bukan lagi tawa, namun secara spontan keluar desahan kecil yang keluar dari mulut Rena.
“ ma.., maaf. Mungkin lebih baik saya kembali bekerja.” ucap Rena menutup mulutnya meninggalkan Allan dengan wajah yang memerah menahan sesuatu yang hendak keluar. Sebelum Rena benar- benar beranjak dari tempatnya duduk Allan menariknya, hingga tubuh Rena terduduk kembali, baru mau Allan mendekatkan wajahnya sebuah deheman mengagetkan Allan dan Rena.
“ ehem.”
‘ sial.’ umpat Allan dalam hati. Tampak Alan sedang berdiri di depan pintu menyunggingkan senyum penuh arti.
“ Rena bisakah kamu keluar.” ucap Allan sebelum Alan mengeluarkan kata- kata yang bisa memojokkannya. Rena mengangguk dan meninggalkan mereka berdua.
“ jadi.., tuan Allan yang terhormat, apa yang baru saja mau anda lakukan?” ucap Alan dengan nada mengejek. Ia mulai masuk ke sofa panjang dan duduk di depan Allan duduk.
“ sudahlah, kenapa kamu kemari lagi?” ucap Allan malas. Menyenderkan tubuhnya.
“ jangan mengalihkan Allan, aku tahu kamu menyukai- nya.” ucap Alan berusaha.
“ aku sudah bilang tidak, Alan.” ucap Allan membantah.
“ lalu apa tadi yang aku lihat? Kau mau menciumnya?” ucap Alan berusaha memojokkan Alan.
“ aku tidak menciumnya.” bantah Allan.
“ huh! Harusnya aku membiarkan kau menciumnya dan memfoto dirimu agar kau tidak bisa berkelit lagi. Aku bahkan melihatmu memijitnya.” ucap Alan frustasi.
“ itu karena aku melihatnya kelelahan memijatku, Alan.” Allan masih berusaha membantah.
“ kau harusnya ingat, Lan. Dirimu yang dulu tidak akan mau merepotkan dirimu sendiri seperti itu, dan apa itu kemarin? Aku bahkan mendengar kau mengantarnya ke dokter pribadi- mu untuk memeriksa Rena.” ucap Alan.
“ hanya karena aku meminta dokter Smith yang memeriksanya itu bukan berarti apa- apa.” bantah Allan.
“ kenapa kau tidak mau mengakui- nya?” ucap Allan menghembuskan nafas kesal.
“ mana mungkin aku menyukainya, Alan. Ia hanya seketarisku. Kau lupa, aku menerimanya hanya karena ingin mengancamnya.” ucap Allan memastikan.
“ huh! Terserah, kau sendiri yang mengatakan jika cinta itu sakral Allan, jika kau tidak mau mengakui cinta, jangan sampai kau menyesal karena kehilangan orang yang kau cintai.” ucap Alan bangkit dari duduknya. Allan tidak menjawabnya. Ia hanya melihat sahabatnya yang pergi meninggalkannya sendiri dengan pemikirannya.
Setelah memikirkannya, selama beberapa saat ia menatap Rena yang sedang berbincang dengan para karyawan lain.
‘ apa aku memang menyukai- nya?’ batin Allan.
‘ tidak! Aku menerimanya bekerja hanya untuk mengancamnya.!’ bantin Allan mendebat dengan dirinya sendiri.
‘ lalu kenapa sampai sekarang aku tidak mengeluarkannya setelah aku tahu ia bukan ancaman?’ Batin Allan mulai bimbang.
‘ tidak, aku tidak bisa memecatnya, progress- nya bagus dan aku tidak memiliki alasan memecatnya.’
‘ lalu apa arti perasaanku? Kenapa aku bisa kesal dia bersama orang lain, khawatir ketika sakit.’ Allan mengusap wajahnya kasar lalu memanggil Rena.
“ Rena, masuklah dan kembali bekerja.” ucap Allan memanggil Rena.
“ ya, Tuan.” ucap Rena masuk kembali ke dalam ruangan.
0o0