The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
s2 untuk sebuah maaf



“ bukankah setahu saya- teman mommy itu Psycholoq?” heran Andre.


“ yap. Aku memang psycholog dan yang menemukan kau pingsan di jalan itu aku, tapi tak mungkin aku membiarkan seseorang di jalan hanya karena aku bukan seorang dokter kan?” ucap Dr Anna.


“ dasar bodoh.” ucap Tama sarkas.


“ Tama, jangan berkata seperti itu!” ucap Dr Anna menengahi.


Andre menatap Tama yang seolah tak mau menatap wajah pria itu, seketika wajah pria itu menjadi sendu- bukan karena Tama yang memakinya namun karena ia tahu jika Tama terluka karena dirinya hingga menyebabkan wanita itu mengalami trauma.


Dr Anna yang mengetahui jika Andre terus menatap Tama- kemudian tersenyum dan menghembuskan nafasnya, ia tahu jika Andre sungguh- sungguh mencintai Tama, karena sedari awal Anna telah mendengar penuturan Andre yang mengira jika dirinya telah mati. Namun karena kebodohannya ia melukai wanita itu. Hanya butuh waktu agar Tama bisa membuka hatinya.


Anna tahu jika sesungguhnya wanita muda itu juga menyukai Andre, itu terlihat dari Tama yang khawatir ketika Anna membawa Andre dalam keadaan tak sadarkan diri. Namun karena luka yang di sebabkan Andre- wanita itu membangun dinding kokoh untuk menutup perasaannya pada pria itu.


“ kurasa kalian perlu bicara berdua, jadi aku akan meninggalkan kalian sendiri.” ucap Dr Anna beranjak dari duduknya.


“ Dr.” ucap Tama dengan nada takut.


“ tenanglah, aku ada di ruangan sebelah. Jika ada apa- apa, teriak saja.” ucap Dr Anna yang tahu jika Tama masih merasakan sedikit Trauma di tinggal berdua dengan Andre.


“ Tama.” ucap Andre lirih. Ia tahu jika Tama takut padanya karena ulah dari pria itu sendiri- tapi tetap terasa menyakitkan kala mengingat jika wanita itu- bahkan enggan menatapnya.


“ kalau kau sudah sembuh pulanglah, untuk apa kau kemari?” ucap Tama tetap tak mau menatap Andre.


“ Tama, aku kemari untuk minta maaf padamu.” ucap Andre lirih.


“ dimaafkan, karena itu- pulanglah.” ucap Tama jengah.


“ Tama aku mohon padamu, jangan menghindariku.” ucap Andre beranjak dari duduknya.


“ kau mau apa?” gertak Tama. Ketika Andre mendekatinya seketika Tama memasang kuda- kuda untuk melindungi tubuhnya. Namun ia begitu terkejut melihat Andre yang bersimpuh di depannya.


“ apa yang kau lakukan?” ucap Tama bingung akan tingkah Andre.


“ aku mohon maafkkan aku, Tama.” ucap Andre masih dalam posisi bersimpuh.


“ kau tidak dengar aku bilang- jika kau telah aku maafkan.” ucap Tama mengalihkan pandangannya.


“ tidak! Kau belum sungguh- sungguh memafkanku! Jika kau memafkanku, lantas mengapa kau tak mau menatap wajahku?” ucap Andre bersikeras.


“ Kenapa kau sampai melakukan ini? huh!” tanya Tama jengah.


“ itu bukan suka! Itu obsesi!” ucap Tama menunjuk dada Andre.


“ tidak! Aku sungguh- sungguh menyukaimu.” ucap Andre menangkup bahu Tama.


“ huh! Begitu gampangnya kau mengatakan suka. Kau pasti juga sering mengatakannya ke berbagai wanita, huh?” ucap Tama melepaskan tangkupan tangan Andre.


“ aku serius. Hanya padamu aku merasakan ini, Tama. Aku bahkan seperti tak bisa lagi menyentuh wanita karena yang ada dalam bayangku hanya wajahmu saja.” ucap Andre.


“ aku sudah bilang! Itu obsesi! Bukan perasaan suka!” ucap Tama meninggalkan Andre.


“ Tama!” ucap Andre tak percaya jika Tama akan meninggalkannya.


“ kau tak apa- apa?” tanya Anna menepuk punggung Andre.


Andre tak menjawabnya hanya menggeleng lemah.


“ jangan besedih, aku yakin Tama juga pasti menyukai mu.” ucapan Anna membuat Andre menatap teman mommy nya itu.


“ benarkah?” tanya Andre dengan mata berbinar.


“ ya, hanya saja trauma nya mungkin membuatnya mengalahkan rasa suka nya padamu dan hatinya mungkin tengah membangun tembok kokoh agar kau tak masuk lebih dalam dan mengacaukan hatinya.” ungkap Anna.


“ apa yang harus kulakukan, Dr?” ucap Andre lirih.


“ kau harus selalu ada di sisinya dan ada saat ia membutuhkan.” ucap Anna.


“ tapi Dr lihat sendiri, dia bahkan enggan bersamaku.” ucap Andre sendu.


“ itu sebabnya jangan sampai ia melihatmu.” ucap Anna.


“ lindungi ia dari baiik bayangan.” lanjut Anna.


“ tapi jika aku melindunginya dari balik bayangan, bagaimana ia akan tahu jika aku selalu ada untuknya.” ucap Andre.


Bersabarlah dan biar waktu yang mengikis tembok hati Tama.” ucap Anna menepuk bahu Andre dan meninggalkan pria itu sendirian dan merenungi makna kata- kata dari sahabat mommy nya itu. Ia menatap pintu dimana Tama pergi dan meningalkannya.


‘ apapun untuk sebuah maaf darimu.’ batin Andre.