
Terlepas dari rasa kesalnya, Berta harus menunjukkan ke profesional nya dalam bekerja. Dan memang harus diakui jika sifat konyol Ray seolah lenyap di hadapan berkas- berkas yang harus di tangani dan pekerjaan kantor. Berta melirik dari balik sekat kaca penghalang antara meja Ray dengan dirinya, tampak jika sekarang telephone celuler bertengger di telinganya sementara tangannya masih sibuk mengetik sesuatu di laptop pribadinya dengan tangan lainnya memegang berkas yang harus di teliti sebelum di tandatangani.
Berta yakin jika Ray sedang menggunakan bahasa negara yang terkenal dengan artis juga boyband nya, Korea- saat berbicara di telephone saat ini.
‘ baiklah, aku harus aku menunjukkan jika aku di tunjuk untuk menduduki kursi seketaris ini bukan karena memiliki hubungan spesial dengan Direktur tapi karena kemampuanku.’ batin Berta semangat pada berkas baru yang di tanganinya.
Karena tak ada reaksi dari Berta- Ray melirik ke arah wanita yang sedang asik dengan layar laptopnya tersebut.
‘ sial, aku berusaha terlihat keren namun masih belum dapat menarik simpatinya.’ batin Ray kesal karena Berta tak merespon pesona yang sengaja di perlihatkan Ray.
‘ tapi wanita itu memang cerdas, ia dengan cepat belajar padahal aku hanya mengajarinya sebentar dan dia bisa langsung mengerti padahal dia tidak terlalu banyak tanya. aku pikir ia masih kesal denganku ternyata itu cara menyerap apa yang di pelajari- nya.’ batin Ray kagum.
Ray menatap Berta lekat, semakin di lihat entah mengapa semakin membuat Ray ingin melihat wajah manis Berta. Manis? Kata yang tepat untuk menggambarkan wajahnya. Bagaimana tidak manis? rambut hitam panjang gelombangnya sangat cocok untuk wajah semi bulatnya, bulu mata yang lentik dan panjang menyembunyikan warna mata hazel- Berta. Hidung yang mungil namun terasa pas dengan bibirnya yang tipis yang semakin terlihat sexy karena telah terpoles oleh warna merah darah.
Punggungnya yang tegak\, bahunya yang tegap\, d**a nya yang besar dan P****t nya yang sekal. Astaga\, hanya menatapnya saja membuat Ray merasa kegerahan.
“ tuan, anda tidak apa- apa?” tanya Berta yang melihat Ray menghembuskan nafasnya dengan mulut.
“ te.., tentu saja, tidak. Maksudku aku tidak apa- apa, apa kau sudah mempelajari tugasmu?” tanya Ray gelagapan.
“ ya, saya sudah mengatur jadwal sesuai yang anda ajarkan.” ucap Berta memeriksa Email langsung dari tab yang di berikan Ray.
“ baiklah kemari, dan jelaskan!” pinta Ray.
“ pertama, anda ada janji temu dengan Direktur XX di lapangan Golf nanti jam 1 siang, janji temu makan dengan nona Chan- Artis yang sedang ng- Hits untuk membicarakan urusan memintanya menjadi cover produk baru kita di Resto XY lalu inspeksi lapangan meninjau Proyek cabang di Indonesia yang baru berjalan.” ucap Berta.
“ berikan janji temu dengan artis Chan itu kepada Andre. Dan batalkan janji Temu bermain Golf, sisanya ayo kita Inspeksi lapangan.” ucap Ray mengambil Jasnya yang tersampir di kursi kebesarannya.
“ ap...? maksud ku, kenapa anda memberikan janji temu itu kepada pak wakil direktur? Dan membatalkan janji temu dengan direktur XX?” heran Berta.
“ aku tidak terlalu tertarik dengan Artis- siapalah namanya, dia pasti akan merayuku untuk menunjang namanya, sementara aku merasa tak terlalu penting hanya menemani Golf jika tak ada hubungannya dengan kerja sama pekerjaan. Bukankah masih lebih penting Inspeksi lapangan karena itu benar- benar menyangkut pekerjaan.” ucap Ray menggenakan Jaz nya. Kata- kata Ray membuat Berta tersenyum.
“ tentu saja, atasan itu panutan bawahan, jika sebagai atasan tak kompeten maka jangan heran jika bawahanmu tak kompeten dan setia padamu, bertahun- tahun daddy ku mengajari hal itu, itu sebabnya meski dulu terkenal arogan, banyak karyawan yang menyanjungnya. Karena memang ia sangat kompeten pada pekerjaannya.” ucap Ray.
“ dan jangan memakai bahasa yang sopan. Pakai bahasa yang kau gunakan padaku sebelumnya saja.” pinta Ray.
“ tapi ini di kantor dan anda atasan saya.” ucap Berta.
“ baiklah, kalau begitu jika tidak di kantor jangan memakai bahasa yang formal.” ucap Ray berjalan keluar ruangan untuk melakukan inspeksi lapangan.
***
Tak butuh waktu lama tiba di Indonesia dengan menggunakan Jet pribadi milik keluarga Ashton, cukup 15 menit, sudah sampai di Negara yang terkenal dengan seribu pulau, seribu bahasa dan Adat kepercayaannya. Karena Indonesia adalah negara tempat kelahiran Mommy nya- Rena, maka tak heran jika tampak Ray tak asing lagi dengan negara tersebut, bahkan meski menyupir sendiri tanpa di bantu pemandu, Ray tampak dengan lenggang dan mahir memainkan Stirnya ke lokasi dimana pembangunan Proyek berlangsung.
Di sela memantau langsung proses berjalannya Proyek itu, tampak jika ekor mata Ray sesekali melirik wanita yang baru saja ia tunjuk menjadi seketaris pribadinya. Berta benar- benar sangat profesional dalam pekerjaannya yang baru ia lakukan; melakukan inspeksi lapangan, mencatat apa yang Ray katakan dan hal- hal yang biasanya Ray lakukan sendiri karena sebelumnya tak ada orang yang dapat Ray percayai menanggung kursi seorang seketaris pribadinya.
“ karena kita melewatkan jam makan siang dan sebentar lagi jam pulang kantor, bagaimana jika kita ke restoran di dekat sini?” ungkap Ray melihat arlojinya.
“ boleh, tapi baju ku penuh dengan keringat dan kebetulan rumah saya berada di dekat sini, bagaimana jika kita mampir sebentar, Tuan?” ungkap Berta yang tahu jika Proyek kerjanya berlangsung di daerah dekat rumah nya, itu sebabnya ia sengaja tidak membawa baju ganti saat perjalanan proyek lapangan mereka.
“ rumah mu, di dekat sini?” tanya Ray antusias.
“ ehem.” ungkap Berta mengangguk.
“ baiklah.” ucap Ray semangat.
0o0
hai! hai! hai!
author lagi seneng jadi melanggar janji yang up sehari sekali lho. dan up lagi
jangan lupa hadia buat author ya ^_^