
Aku bertanya soal kekasih karena penasaran- apakah Direktur benar- benar tak memiliki kekasih, dan dia malah bertanya soal wajahnya.
Sejujurnya aku bukan orang yang menilai dari wajah, aku bahkan bukan type orang yang menghapal wajah terlebih dahulu. Mungkin, karena keluarga ku lah, aku memiliki kebiasaan selalu menunduk. Aku di haruskan selalu mengalah meski aku tak salah bahkan aku selalu di kalahkan oleh saudaraku yang lebih muda. Mungkin karena itulah adikku bahkan selalu semena- mena padaku.
Yang membuatku sedikit terkejut adalah;
Ia yang bertanya soal hubunganku dengan kekasihku. Apakah ia bertanya sama seperti aku yang bertanya padanya karena penasaran? Atau karena perkataan Alea yang mengatakan soal; direktur menyukai ku itu benar?
Sial. Mungkin wajahku sedang memerah sekarang, aku senang dan dadaku berdebar dengan kencang. Aku tak mau berharap, namun aku tak dapat menghentikan debaran hatiku.
Aku menghadap ke jendela agar direktur tak dapat melihat wajahku sekarang dan aku berusaha membuat suaraku sebiasa mungkin dan tak terlihat gugup ataupun terbata.
Aku tak mendengar direktur bertanya lagi- hingga aku melirik ke arah direktur dengan ekor mataku.
Tidak heran jika banyak wanita yang menyukai direktur.
Ia adalah pria yang tampan, masa depan gemilang dan yang pasti adalah...,
Ia seorang Direktur.
Seandainya ia memang menyukaiku, aku jadi penasaran;
Apa alasan ia menyukaiku.
Maksudku...,
Lihat aku!
Aku pendek dan tak ada yang bisa aku banggakan sama sekali dari hidupku. Aku bahkan hanya lulusan sekolah menengah atas. Dulu aku memang keluarga berada. Namun itu dulu. Sekarang?
Mengapa di saat keluarga ku meremehkanku direktur malah menyukaiku?
Pertanyaan- pertanyaan itu terus membayangi ku hingga membuat ku tak sadar jika telah sampai di negaraku.
Setelah mengambil barangku, aku bergegas keluar dari pesawat. Sesaat aku melihat jika direktur sedang berbicang dengan pilot dan copilot- mungkin ia mengucapkan terimakasih karena telah mengantar dengan selamat sampai tujuan. Tak heran jika sampai sekarang perusahaan Ash-group selalu berjalan dengan baik, mungkin- karena mereka yang selalu memperlakukan bagian dari Ash- Group dengan baik.
Setelahnya, kami bergegas menuju mobil yang sudah di siapkan untuk kami berkendara selama di Indonesia.
Sekali lagi, aku melihat jika direktur menyapa pegawai yang telah menunggu di bandara dengan kendaraan untuk direktur.
Setelah mengucapkan terima kasih, direktur langsung masuk menuju mobil tersebut. Aku duduk di kursi samping direktur, karena kebetulan ada sopir yang mengantar direktur dan aku menuju rumah ku. Awalnya aku ingin duduk di kursi penumpang di depan, namun direktur menyuruhku duduk di sampingnya, katanya ada pekerjaan yang harus di bahas.
Aku sendiri tidak bisa fokus menjawab pertanyaan Direktur, aku sedikit takut akan kamar yang akan di tempati direktur nanti. Aku memang sudah mengatakan pada ayahku jika direktur dan aku akan tiba di rumah, namun aku tak yakin jika kamar sudah di persiapkan untuk direktur dengan baik. Apa lagi aku tak mengatakan jika Ray itu seorang Direktur.
*** πΈπΈπΈ ***
Sesampainya di rumah, pintu di kunci, itu menandakan ayahku ada dirumah. Jika kunci terpasang di pintu, meski aku memiliki kunci cadangan sekalipun aku takkan bisa membukanya- terpaksa aku harus membunyikan bell rumah.
β Ayah! Aku sudah katakan jika aku akan tiba.β gerutuku.
β ayah lupa.β ucap ayahku sambil tertawa.
β ayo masuk.β pintaku pada direktur.
β sure.β
Syukurlah, ayahku benar- benar membersihkan kamar yang akan di tempati direktur, dan kasur sudah di ganti dengan kasur spring-bed. Aku takut jika direktur tak bisa tidur jika tidur dengan kasur busa atau kasur kapuk, jadilah aku mengirim sejumlah uang untuk ayahku membeli kasur spring- bed.
Direktur langsung duduk di tepi kasur berukuran single bed tersebut. Direktur memang orang yang terbiasa dengan hal sederhana, namun itu tak melunturkan pesonanya.
Sepanjang hari itu, direktur menceritakan soal keluarganya. Dari sana aku tahu ia seorang yang hangat, padahal saat bekerja ia tampak seperti boss arrogant dan dingin dalam bisnis. Tak terlalu banyak bicara saat bekerja dan hanya berbicara masalah pekerjaan jika sedang berbisnis, sangat berkebalikan dengan Daniel yang type banyak bicara untuk menyenangkan pembeli dan melupakan orang yang ada di sekitarnya.
Saat direktur bekerja dan mulai rapat sekalipun, direktur selalu mengikut sertakan aku dalam perbincangan mereka.
Untuk pelajaranmu kedepannya. Begitu alasan direktur.
Bahkan saat bertanya tentang pembicaraan yang tak ada hubungannya dengan pekerjaan direktur hanya beralasan;
Saat serius memang sepantasnya serius dan saat santai ada baiknya kita bersantai jika selalu serius, kita akan cepat menua- bukan? Ucapnya tertawa.
Tanpa sadar, waktu berlalu dengan cepat. Aku berniat kembali kekamar setelah memberi sarung bantal dan sprei- karena aku tahu jika direktur pasti butuh istirahat.
Namun aku merasa direktur sedang mengerjaiku.
Bagaimana tidak mengerjai? ia tak ingin aku berbicara formal. Ia seorang direktur! Selain tidak sopan aku juga tidak terbiasa. Dan karena itulah ia ingin aku memasak untuknya.
Saat aku dan dia tak memakai bahasa formal, aku merasa berbicara dengan temanku dan lupa jika yang sedang berbicara padaku adalah seorang direktur. Apa lagi saat ia sedang bercanda denganku.
Meminta ayahku memasak untuknya?
Yang benar saja. Apa lagi aku melihat tadi isi kulkas kosong dan aku takut jika aku yang memasak takkan sesuai dengan seleranya. Aku takut memasak racun untuknya!