The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 naluri seorang ibu



Mungkin ada yang bilang naluri seorang ibu lebih kuat dari apapun di dunia ini. Dan begitulah yang di rasakan Patricia ketika secara tiba- tiba Denny mengajaknya ke Swiss dengan pesawat pribadi Allan.


“ kak, Allan jujurlah padaku mengapa kita semua ke Swiss.” ucap Patricia histeris.


Allan tak menjawabnya, tampak jika Ray, Allan, Alan juga Denny saling menatap, bingung harus menjelaskan pada Patricia.


“ Ray! Emily! Katakan sesuatu padaku! apa terjadi sesuatu pada Andre?” ucapan Patricia membuat semua orang semakin bungkam.


“ Patricia, aku mohon kamu tenanglah dulu. Setelah kamu tenang, kami pasti akan mengatakan padamu.” ungkap Rena mencoba memberi tahu Patricia.


“ aku sudah tenang, sis. Aku mohon katakanlah padaku, itu lebih baik dari pada aku yang tak tahu apapun dan membiarkan segalanya terlewat begitu saja tanpa aku mengetahui nya.” ucap Patricia.


Tampak jika Rena menatap Denny yang tengah memeluk Patricia sebelum akhirnya mengangguk.


Akhirnya dengan terpaksa Rena memberi tahu keadaan Andre pada Patricia. Histeris? Tak ada seorang ibu yang takkan histeris mengetahui jika anaknya kini tengah berada di tengah- tengah hidup dan mati. Semua yang berada di pesawat Allan hanya bisa berdoa semoga sahabat, keponakan dan putra mereka baik- baik saja.


Segera setelah tiba Di bandara International Swiss, Patricia melajukan kakinya untuk berlari menuju rumah sakit tempat dimana Andre dirawat.


“ tananglah, Patricia! Apa kau mau ke Rumah sakit dengan berlari? Tenanglah, kak Allan sudah menyiapkan kendaraan untuk ke rumah sakit tempat Andre di rawat.” Ucap Denny menangkan istrinya.


“ Ayo! Patricia!” ucap Allan dari dalam mobil.


Tanpa pikir Panjang Patricia segera menaiki mobil yang telah di sediakan Allan sebelum akhirnya  Allan segera melesat ke rumah sakit tempat Andre melakukan operasinya.


Segera setelah Patricia menapaki rumah sakit, wanita itu segera menuju tempat Andre melakukan operasi.


“ Tama!” panggil Patricia ketika melihat Tama yang terduduk ketakutan.


“ Aunt?” ucap Tama, tampak jika pandangan wanita muda itu terasa kosong.


Seketika Patricia merasa harus kuat, jika bukan dirinya, siapa orang yang akan menguatkan wanita lemah ini? Tampak jika Patricia langsung memeluk wanita muda itu. Tama yang di peluk tiba- tiba oleh Patricia entah bagaimana jiwanya yang hilang seolah kembali dan entah mengapa, rasa nya dada nya begitu sesak. Tanpa sadar tangis terdengar di bibir Tama.


‘ harusnya aku tak semarah itu pada Andre.’


‘ seharusnya aku tak usah ke Swiss.’


‘ seharusnya aku memaafkan Andre.’


‘ harusnya akulah yang berada di sana menggantikan Andre.’


Begitulah kata- kata yang di ucapkan Tama berulang- ulang membuat siapa saja yang mendengarnya merasakan pilu karenanya.


“ ini bukan salahmu, Tama.” ucap Patricia mengelus punggung Tama.


“ ini bukan salah siapa pun, Tama, kau berhak marah atas apa yang di lakukan Andre, dan mungkin ini adalah ke inginan Tuhan untukmu dan Andre. Jika ia tak bertemu denganmu ia takkan berubah dan jika kau tak ke Swiss kau takkan mengerti perjuangan dan sebesar apa cinta Andre padamu. Semua ini sudah ada garis takdirnya.” ucap Rena menenangkan.


“ dan jika kau tak ke Swiss mungkin akulah yang berada di sana menggantikan Andre bersimbah darah.” ucap Anna yang datang menghibur Tama.


Tama terdiam, meski tampak air mata belum juga surut dari mata indah Tama. Berjam- jam mereka di liputi kecemasan hingga lampu ruang operasi akhirnya mati dan Erick keluar dari dalam ruang operasi itu menggunaan baju operasi lengkap.


“ Erick, bagaimana keadaan Andre.” ucap Allan, sementara para perempuan tampak masih terduduk karena lemas dan takut mendengar kabar soal Andre.


“ operasinya sukses. Namun ia masih dalam kondisi kritis sehingga ia belum bisa sadar sepenuhnya. Kita berdoa saja agar masa kritis Andre terlewati.” ucap Erick dengan ke profesional. di sini ia hanyalah seorang dokter yang menangani pasiennya.


“ ba.., bagaimana jika ia tidak bisa melewati masa kritisnya?” tanya Tama ketakutan.


“ ada kemungkinan ia akan coma.” ucap Erick jujur.


“ apa.., apa kami bisa menjenguknya?” tanya Patricia.


“ menjenguklah, satu- persatu, ia masih butuh istirahat.” ucap Erick.


Beberapa waktu setelahnya tampak jika Erick mengajak para pria untuk mengobrol secara pribadi.


“ kau pasti memiliki rahasia sehingga kau mengajak kami semua kesini?” tanya Ray.


“ apa ini soal Andre?” tanya Alan.


“ ya, bisa di bilang begitu.” ucap Erick berusaha melihat ke sekeliling.


“ sebenarnya, Andre tak tertusuk sampai ke lubang vital, daya serangnya juga lemah karena hanya menggunakan pisau buah yang kecil. Yang jadi masalah adalah, karena tampakya Andre berusaha mencabut pisau itu hingga luka yang ada menjadi semakin lebar.” ucap Erick.


“ apa itu membahayakan?” tanya Denny.


“ membahayakan sie tidak hanya saja..” ucap Erick mengantung.


0o0


hai! hai! hai!


yuk dukung terus author dengan tinggalin jejak


jangan lupa like juga follow nya ^_^


karena jejak kalian yang bkin author semangat untuk berkarya <3