The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 bakat dan kesukaan



“ ngomong- ngomong, saya tak menyangka jika anda tahu soal bisnis seperti ini, setahu saya anda seorang design juga seniman.” ungkap Berta.


“ hem? Bukankah kau juga sama denganku? Lebih suka seni dari pada hal- hal yang berhubungan bisnis seperti ini. Dan jika kau saja bisa maka akupun juga bisa.” ungkap Emily ringan.


“ ya, tapi berbeda dengan anda, bakat anda di bidang seni sangat luar biasa.” ungkap Berta.


“ dan kau tidak merasa bakatmu luar biasa?” heran Emily.


“ hanya ada remeh temeh dan tawa ketika saya mulai terjun di bidang seni ketika mulai kuliah dulu.” ucap Berta lirih.


“ itu sebabnya kau terjun ke dunia bisnis ini?” heran Emily.


“ tidak juga.” ungkap Berta.


“ ya?” heran Emily.


“ saya mencintai pekerjaan saya. Dan saat sudah di hadapkan dengan komputer atau laptop saya menyadari itulah bakat saya dan kesukaan juga dunia saya adalah seni.” ungkap Berta.


“ dia benar, sis. Kau tahu seberapa cepat ia dalam mengetik dan mempelajari sesuatu.” ungkap Ray.


“ bukankah kau mengatakan kau menyukai seni?” heran Emily.


“ ehem. Tapi saya sadar jika saya tak memiliki bakat dalam bidang seni. Saya menyukainya dan masih melakukannya ketika sedang stress. Dan saat saya sudah melakukannya seolah beban saya menghilang.” ungkap Berta.


“ kenapa kau bisa mengatakan kau tak memiliki bakat di dunia seni?” heran Emily.


“ saya akui jika saya memiiki segudang ide, namun saya juga mengakui jika saya ceroboh, saya lebih banyak melakukan kesalahan dari pada menciptakan sebuah karya.” ungkap Berta.


“ kurasa itu hanya karena kau tak pernah sungguh- sungguh belajar, kau baru memulai mengenal seni saat umurmu sudah masuk usia dewasa.” ungkap Emily.


“ dan saya baru mengenal laptop dan komputer ketka memasuki dunia kerja.” ucap Berta. Emily terdiam- lagi- lagi ia tak bisa mengalahkan kata- kata Berta.


“ meski begitu saya percaya diri akan ide- ide saya, saya bahkan pernah membuat dosen pembimbing saya yang awal nya meremehkan saya takjub dan memuji saya.” ungkap Berta tertawa.


***


“ sekarang, aku sudah membantumu. Jadi jangan tunda kepergianmu- karena pria tak bertanggung jawab satu itu.“ taulah maksud Emily tak bertanggung jawab di sini.


“ aku tak bisa langsung pergi.” ungkap Ray.


“ kenapa?” heran Emily.


“ aku masih harus mengawasimu, Sis. Kau baru pertama memegang bisnis ini.” ungkap Ray.


“ jangan khawatir, biar daddy yang menemani sister mu, kau kunjungi proyek kita saja di Indonesia.” ungkap Allan.


“ Dad?” hera Emily juga Ray.


“ memang! Tapi bukan berarti daddy akan melepas begitu saja perusahaan yang sudah lama grandpa kalian bangun. Lagi pula daddy masih sangat sehat.” ungkap Allan.


‘ tentu saja. Jika daddy tidak sehat takkan mungkin selalu mencumbu Mommy meski telah memasuki kepala 5.’ ucap Ray pelan.


‘ syukur dunia sudah menciptakan k****m\, jika tidak- aku akan memiliki banyak adik nanti.’ balas Emily.


***


“ jadi rencana meninjau proyek di Indonesia tidak jadi di undur?” tanya Berta.


“ ya, daddy ku untuk sementara akan kembali meduduki kursi direktur sementara aku meninjau proyek ke Indonesai, dan kursi wakil direktur sudah di tempati Emily, jadi kita tak perlu menunda perjalanan kita.” ungkap Ray menggaruk kepalanya.


“ kalau begitu saya akan mengurus hotel tempat kita menginap.” ungkap Berta.


“ tak perlu.” ungkap Ray.


“ ha?” heran Berta.


“ aku dengar ayahmu akan membangun kost- kost an dan  dari pada mngeluarkan banyak uang kita bisa meyewa kost ayah mu selama satu bulan, jadi meski kita di sana hanya beberapa hari- ketika kita tak kembali kita tak perlu lagi bingung.” ungkap Ray.


“ tapi kost yang di bangun ayahku rencananya akan di bangun untuk kost putri.” ungkap Berta.


“ benarkah? Tapi waktu aku bertanya pada ayahmu, ia mengijinkanku untuk kost di sana.” ungkap Ray.


“ benarkah? Kapan anda bertanya pada ayah saya?” heran Berta.


“ saat aku menjemputmu dan kau berdandan sangat lama.” ucap Ray.


“ jadi anda berpendapat dandan saya lama?” jawab Berta.


‘ aku berkata soal apa, hingga ia bertanya soal itu?’ batin Ray hanya terdiam ketika mendapat pertanyaan seperti itu dari Berta.


“ brother, kau harus mengetahui kamus soal wanita sebelum mendekati wanita.” ucap Emily.


“ satu, ia tak suka di katai gendut.” balas Allan.


“ dua, ia tak suka di singgung soal dandannya.” balas Emily lagi.


“ dan tiga semua wanita itu benar dan tak suka di salahkan.” ucap Emily tertawa di balas tawa juga oleh Allan.


Ray hanya menatap saudari dan daddy tersebut sambl mengangkat sebelah alisnya.


“ itu baru beberapa dari sekian kamus tentang wanita.” jawab Emily yang tahu maksud tatapan saudara kembarnya tersebut.


0o