The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
pov Patricia Dia juga mencintaiku?




Aku tidak tahu bagaimana namun yang aku tahu ia dengan mudahnya membawa tubuhku sampai ke pinggir kolam, dia bahkan terus menggendongku hingga kekamar tempat yang ia pesan setelah sebelumnya ke resepsionist dan memesan kamar serta baju ganti untuk kita pakai.


“ sshh.., sudah.., sudah aman sekarang jangan takut lagi.” sejujurnya ini kali pertama aku mendengar pria yang ada didepanku ini berkata selembut ini. Tubuhku gemetar, aku kedinginan dan aku takut. Takut jika para pria yang bahkan aku lupa namanya itu kembali mengejarku. Takut jika saat dia pergi, ia akan kembali ke para wanita yang tadi mengerumuninya. Dengan banyaknya wanita yang tadi mengerumuninya aku terpaksa mengakui jika pria ini memang tampan.


Aku memaksanya sedikit posesif, setidaknya jika pria ini tak memiliki perasaan yang sama padaku bolekah aku egois? Biarkan aku puas bersamanya sebelum akhirnya aku melepasnya.


Sampai suara ketukan kamar mengganggu kami. ‘sial, menganggu saja.’ batinku kesal, aku ingin bersamanya, setidaknya hingga malam ini berakhir.


“ kau mau kemana.” tanyaku setelah Denny memberiku sepasang baju ganti. Aku merengkuhnya- memeluk tubuhnya dengan posesif, setidaknya aku ingin menikmat dadanya yang hangat, dapat kurasakan detak jantungnya berdetak kencang. Kesalkah? Tak suka aku peluk? Aku tak peduli. Setidaknya hanya sampai malam ini selesai.


“ aku akan memesan kamar yang berbeda.” ucap Denny.


“ jangan tinggalkan aku, aku takut sendirian.” ucapku sebagai alasan.


“ ssh.., aku masih akan di sini hanya di kamar yang berbeda.”


‘ huh! Apa segitu nyakah kau tak ingin berada di satu kamar denganku? Kau begitu membenciku? Sang Wanita bar bar?’ batinku terluka. Tanpa sadar air mata kembali mengalir kepipiku. Aku sudah tak peduli akan makeup yang luntur mengotori pipiku. Atau penampilanku sekarang. Dari awal ia memang tak penah menganggapku wanta.


‘ kenapa rasanya sesakit ini? Bahkan rasanya lebih menyakitkan dari pipiku yang di tampar tadi.’ batinku. Aku mulai terisak, aku membuat alasan agar ia mau tidur bersamaku malam ini.


“ Patricia, kau ini perempuan dan aku ini laki- laki, tak mungkin aku tidur bersama mu.”


“ selama ini kau tak pernah menganggap aku perempuan, anggaplah malam ini kau juga tidur dengan hanya dengan anak kecil.” karna memang begitulah yang terjadi.


‘ huh! Aku yang mengucapkannya menggunakan mulutku namun mengapa rasanya aku yang merasakan sakit mengakui fakta bahwa pria ini hanya menganggapku anak kecil.’ batinku.


“ Patricia aku mohon mengertilah.” ucap Denny. Aku mendesaknya, terus mendesaknya, yang kuingini hanyalah tidur bersama, memang apa susahnya?


“ Patricia! Aku harus Pergi!” ucap Denny tak tahan lagi.


“ katakan dulu kenapa!” ungkap Patricia tak mau kalah.


” karena aku menyukaimu, Patricia!”


‘ ap.., Apa? Aku tak salah dengarkan? Denny menyukaiku? Pria ini juga menyukaiku?’ batin Patricia.


Aku menyembunyikan wajahku di dadanya, tak ingin Ia melihat wajahku sekarang ini, aku bisa meyakinkan diriku jika wajahku seperti udang rebus sekarang. Aku mengeratkan pelukanku, rasanya sangat senang ketika tahu jika pria ini memiliki perasaan yang sama denganku. Aku menatap wajahnya mencoba mencari pembenaran dari ucapannya. Namun sedetik kemudian pria itu merengkuh wajahku dan mencium bibirku.


Aku terkejut, namun ku tak berontak,aku menikmati setiap apa yang dilakukan padaku. Aku berusaha sebisa mungkin membalasnya namun aku tahu gerakanku sedikit kaku, ini kali pertama aku berciuman. Entah sejak kapan pria itu menuntunku kekasur karena aku terus memejamkan mata menikmati setiap apa yang pria itu lakukan padaku.


Dan hal petama yang kulihat saat aku membuka mataku adalah wajahnya yang terus menatapku seolah menelisik setiap inch wajahku. Setelahnya dapat kurasakan Denny kembali menciumku kini sedikit lebih menuntut. Aku tak tahu kapan dia membuka sisa kain ditubuhku, akupun tanpa sadar membuka satu persatu kancing di tubuh Denny.


Tampak lemak yang dulu ada- tergantikan oleh otot- otot hasil dari latihan keras menjadi bodyguard kakakku- saat aku menjatuhkan kemeja Denny kelantai. Akupun tahu pria ini juga menatap tubuhku dengan intens. Tubuhku tak seberisi kak Rena namun aku dapat melihat celana Denny tampak penuh sesak hanya karena menatap tubuhku.


Saat Lidahnya menyapu tubuhku aku jadi penasaran, seberapa banyak wanita yang pernah di puaskan lidahnya. Bagaimana bisa lidahnya selihai ini? Bahkan lenguhan dan desahan yang berusaha aku tahan datang karena permainanannya. Rasa sakit saat pertanyan itu seolah menguap karena sesuatu hal yang asing mendesak keluar. Tanpa sengaja aku menjambak rambut pria itu karena tak juga menghentikan aktifitanya.


Aku berusaha berteriak, namun yang keluar hanyalah pekikan kecil. Tubuhku bergetar berkali- kali baru ia menghentikan aksinya. Ia menatapku sejenak, baru kembali menciumku. Aku dapat merasakan rasaku sendiri dari mulutnya. Ini memalukan, batinku.


Berkali- kali aku kesusahan menelan saliva ku sendiri begitu aku melihat mliknya, ini kali pertama untukku, aku takut tak dapat memuaskannya.


Geraman dari Denny semakin menciutkan nyaliku, aku berusaha tak mengeluarkan ringisanku meski ini sungguh menyakitkan. Namun pekikan datang tanpa bisa kucegah saat Miliknya yang sungguh sesak- sempurna di dalam milikku.


Dapat kurasakan sesuatu mengalir dari sela milikku, aku rasa itu darah pertamaku. Aku berharap Denny takkan kecewa, karena aku bukanlah wanita yang ahli membuat miliknya nikmat. Aku menutup mataku, berharap ia tak melihat reaksi kesakitanku. Hingga aku merasakan ia kembali menciumku. Aku menikmati setiap apa yang dilakukannya hingga melupaka rasa sakit dan perih yang kurasakan. Tanpa sadar mulutku mengelurkan suara- suara aneh dan memalukan.


Aku berusaha tak mengeluarkannya namun milik Denny membuatku gila, aku seolah bukan diriku lagi. Aku tak bisa lagi mengendalikan tubuhku sesuai inginku. Tubuhku bereaksi terhadap apa yang dilakukan Denny.


Lagi dan lagi. Denny seolah tak pernah puas. Meski kuakui aku menikmatinya juga namun aku begitu kelelahan. Apa yang di makan pria ini sehingga ia begitu semangat? Tenaganya seolah tak pernah habis. Padahal sedari tadi aku hanya diam dan dialah yang terus memimpin. Hingga tubuhnya bergetar hebat. Dapat kurasakan ia akan mendapatkan pelepasannya.


Dia kembali menciumi ceruk leherku sebelum akhirnya melenguh panjang. Kurasa inilah akhir dari malam ini. Tubuhnya melemas dan menindih badanku dengan berat badannya, meski aku tahu ia tetap menopang tubuhnya agar tak terlalu menekanku. Ia melepas miliknya, menutupi tubuh polos kami dan berbaring disebelah tubuhku. Aku ingin mandi, badanku penuh dengan peluh keringat dan rasanya seluruh tubuhku lengket. Namun aku begitu lelah, aku bahkan seolah raga tanpa tulang.


Kurasa aku harus mengisi paru- paruku dengan udara dulu baru mandi. Namun tanpa sadar aku telah tertidur, entah berapa lama.