
Namun ternyata kak Rena kembali, memaafkan kak Allan dan langsung melangsungkan pernikahan mereka sehari setelah kepulangan mereka dan juga kedatangan seonggok rumah di halaman rumah kak Allan. Wajah bahagia tersemat di balik wajah pucat kak Allan, ini kali kedua aku melihat para kakak laki- laki ku menikah.
Bahagia? Pasti. Sedih juga pasti. Selamat datang rasa kesepian. Semua kakak laki- laki ku menikah dan semua nya telah memiliki anak. Dan aku akan semakin terabaikan.
“ kenapa, lu?” tanya seorang pria yang ikut didatangkan bersamaan dengan kak Rena. Dari kak Rena aku tahu namanya Denny Wijaya(29). sepupu kak Rena yang ikut tinggal karena kedua orang tuanya telah tiada. Nasibnya tak jauh beda denganku.
‘ kenapa pria Indonesia bisa seputih ini? Mereka benar- benar saudara jauh?’ batin Patricia melihat kulit pria itu seputih susu, bahkan sebagai pria kulitnya lebih halus dari pada aku.’ batinku.
“ eh, busyet. Aku tanya ga di jawab.” tanya Denny lagi.
“ suka- suka gue- lah.” jawab patricia sarkas.
Itu kali pertama perjumpaanku dengan saudara jauh kak Rena. Seingatku pria itu dulu sangatlah gendut, meski ia sama- sama tegap seperti kak Rena dan memiliki rambut yang sama ikalnya. Namun pria yang selalu di tugaskan kakak ku untuk bersamaku sangat berbeda dengan sebelumnya.
Pria kekar dan hem.., harus kuakui lumayan tampan meskipun tak setampan kak Allan. Entah sejak kapan mata ini selalu mencari pria itu, pria yang selalu berkata kasar padaku, selalu mengolokku. Mungkin karena kita sama- sama tak memiliki orang tua dan haus akan perhatian aku bisa memaklumi kata- katanya. Namun kata- kata terakhirnya membuatku terluka.
“ aku? Sama wanita bar- bar ini? Ih, ogah!” kata- kata itu menyakiti hatiku, aku membalas kata- katanya tak kalah sengit untuk menutupi hatiku yang terluka. Aku termenung lama di taman, aku melihat di sepenjuru taman, semua orang sedang memadu kasih dan juga bersama keluarganya dan disini? Aku sendiri. Aku hanya sendirian disini.
Air mataku mulai mengenang, satu- satunya yang ingin kutuju adalah makam tempat dimana kedua orang tuaku beristirahat selamanya. Disana aku menumpahkan segalanya, terkadang aku bertanya, kenapa mereka tak juga membawaku? Mereka tak meyayangiku kah?
Aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya, yang aku tahu ketika aku terbangun aku telah berada di kamarku tertidur dalam kamar dengan cat dominan silver dan perak, karena aku bukanlah wanita yang suka berbau girly.
“ kau sudah bangun?” tanya kak Alicia.
“ kak? Aku…”
“ kau tertidur di depan makam kedua orang tua mu dan pulang di gendong Denny.” ucap Alicia menaruh cookies dan susu coklat hangat ke nakas di samping tempat tidur Patricia.
“ ap…, apa bajuku…?” ungkap Patricia panik melihat bajunya telah berganti.
“ tenang, kakak yang ganti bajumu koq.” ungkap Alicia tahu maksud kegugupan Patricia. Membuat Patricia bernafas lega.
‘ apa itu artinya ia melihatku menangis?’
Dan kurasa ia memang melihatku menangis, semenjak saat itu ia sedikit berubah. ia sedikit lebih bisa menjaga kata- katanya, meski ia tidak banyak berubah masih suka menjahiliku, atau mungkin itu memang sifatnya yang jahil.
Mungkin istilah yang pernah aku dengar dari kak Rena benar adanya. Saat ia tak ada aku jadi mencari cara agar bisa bertemu dengannya, sekedar melihat wajah nya mungkin.
0o0
Hua sebentar lagi tamat nie >_<
siapa yang sebelumnya sempat su'udzon sama patricia?
ayo jujur ^_^
di kisahini sama sebelumnya di ambil dari sudut pandang patricia lho