
"Apa? kau bertemu dengan direktur sebelum nya tapi kau tak tahu jika itu dia?” ucap Alea tak percaya.
“ ya, aku tak pernah tertarik berita politik sebelumnya, siapa yang tahu jika orang yang kutemui di Lift itu adalah direktur utama Ash Group saat ini?” ucapku lirih.
“ apa lagi, waktu itu ia mengakui namanya adalah Rick.” lanjutku.
“ okey, aku bisa memahami jika kau tak tahu seperti apa wajah direktur utama saat ini, karena memang berita tentang beliau sendiri tak terlalu banyak di karenakan Beliau tak suka di liput. Yang membuat ku tak habis pikir adalah kau yang berani meneriaki seorang direktur.”
“ apa boleh buat, mungkin aku sedikit trauma atau ada kenangan tak mengenakkan soal di bohongi jadinya aku sedikit marah saat tahu ia membohongiku.” lirihku.
“ karena kelakuan kekasihmu?” heran Alea.
“ ya.”
“ setelahnya, aku berusaha bercanda dengan direktur karena aku merasa tak enak padanya menunggu terlalu lama di rumahku karena aku melupakan kunci ku di hotel. Siapa yang menyangka jika pria menyebalkan datang dan posesif nya mengacaukan segalanya.” geramku.
“ aku tak menyangka ada ya- pria menyebalkan seperti itu.” geram Alea yang sudah ku ceritakan segalanya soal Daniel. Karena memang tak ada lagi yang kututupi kepada Alea. Begitupun aku yang sudah mengetahui segalanya soal Alea.
“ padahal aku baru saja duduk di kursi seketaris, aku takut jika gara- gara laki- laki posesif itu aku harus pulang ke negaraku dengan tidak hormat-Mengingat direktur yang secara tiba- tiba memajukan jadwal kepulangan kita. Apa lagi setelah melihat pria tua itu datang dan mengacau, direktur lebih banyak diam.”
“ tapi belum tentu juga kau akan langsung pulang dengan tidak hormat.” ucap Alea sementara aku hanya bisa terdiam.
Dan secara kebetulan, perbincangan kami malah buyar karena suara bell apartment ku.
“ siapa?” heranku.
“ ayah?” ucapku terkejut melihat ayahku yang ada di depan pintu apartment ku.
“ ayah kan sudah bilang jika ayah ingin berkunjung ke Apartement mu, kenapa kuncinya tak bisa di buka?” heran ayahku.
“ a.., ah. Kuncinya masih nempel di pintu.” ucapku melihat kunci apartment ku yang masih terpasang di pintu, karena memang apartment ku adalah apartment yang murah meriah. Yang hanya menggunakan kunci manual.
“ ya sudah, ayo masuk dulu, yah.” ucapku mempersilahkan ayahku masuk.
“ lho? Ini siapa, Ta?” heran Ayahku.
“ ini, Alea, yah. Temanku di kantor. Alea, ini ayahku.” ucapku memperkenalkan Alea dan Ayahku. Akhirnya pembicaraan mengalun mulai dari perkenalan diri hingga pertanyaan seputar Alea atau bagaimana Alea bisa bertemu denganku.
Namun perbincangan hangat itu terhenti kala aku mendengar suara telephone.
‘ direktur menelphone ku? Ini bukan soal pemberhentian tidak hormat kan?’ batinku takut. Aku memilih untuk menjauh saat mengangkat telephone agar ayah ku tak mendengar pembicaraan ku melalui telephone.
Aku memutuskan menelphone di kamar ku.
“ hallo?”
Hallo? Berta?’ jawab suara Direktur dari seberang.
“maafkan saya.” ucapku Reflek.
‘ maaf? Untuk apa?’ heran direktur.
“ maaf karena saya sudah memarahi bahkan meneriaki anda. Maaf sudah membuat anda menunggu di depan rumah saya. Maaf...” ucapku terpotong.
‘ tunggu! Kenapa kau meminta maaf? Aku tak mempermasalahkan kau meneriaki ku karena memang aku yang bersalah karena membohongimu. Soal menunggu itu juga bukan salahmu. Dan bercanda, itu juga tak masalah, ayolah! Jika kita tak bercanda pikiran kita akan terasa penat.’ ucap direktur menenangkan aku.
“ lalu mengapa anda mempercepat jadwal kepulangan kita?” heranku.
‘ a.., karena mommy dan daddy ku mengadakan pesta.’
“ pesta?” tanyaku.
‘ ya, pesta penyambutan adikku. ungkap direktur.
“ apakah anda hanya mengundang saya?” tanya Bert. ‘ oh, astaga Berta! Jangan lagi berharap karena itu hanya akan membuat mu kecewa.’
“ tidak, semua karyawan di undang.” ungkap Ray.’ sudah kuduga.’ batinku.
“ sayang sekali saya tidak dapat ikut.” ungkapku.
“ ap? Maksudku.., kenapa?” ucap Ray setelah sempat memekik .
‘ ada apa disana- hingga ia memekik seperti itu? Apa ada kecoa?’ batinku yang heran mendengar suara memekik direktur.
“ ayah saya baru saja datang, tak enak rasanya meninggalkannya sendiri sementara saya bersenang- senang.” ungkap Berta
“ kau dekat dengan ayahmu, ya?” tanya direktur.
“ sebenarnya tidak, saya tiga bersaudara dan di antara saudaraku akulah yang paling berani pada kedua orang tuaku. Namun penyesalan datang saat saya kehilangan ibu saya. Semenjak itu apapun yang terjadi sebisa mungkin saya akan memilih menghabiskan waktu dengan ayah saya- orang tua saya satu- satunya.” ungkapku.
🌸🌸🌸
Setelahnya, aku kembali menemui Alea dan juga ayahku.
“ siapa?” heran Ayah.
“ oh, tn. Ray, ayah. “ jawabku.
“ ap? Dir...” ucap Alea terpotong karena aku megisyaratkan untuk tidak melanjutkan kata- katanya.
“ ada apa?” heran ayah.
“ tidak. Hanya urusan pekerjaan.” ucapku gugup. Untung aku sudah mengatakan kepada Alea soal aku yang tak mengatakan kepada keluargaku jika aku sekarang duduk di seketaris pribadi Direktur pada keluarga ku.
🌸🌸🌸 rooftop apartment🌸🌸🌸
“ ada apa direktur menelphone mu?” heran Alea setelah memilih berbicara di rooftop apartment ku.
“ ia mengajakku soal pesta.”
“ pesta?” heran Alea.
“ ya, adik bungsu direktur baru saja pulang dan keluarga mereka hendak mengadakan pesta.” ucapku.
“ ia tak mneyebutkan apapun soal kalian yang tia- tiba pulang proyek- lebih cepat dari jadwal?”
“ ya, ia bilang alasan ia pulang lebih awal karena keluarganya ingin mengadakan pesta, dan kurasa alasan mengapa ia terus- terusan diam karena sedang memikirkan hadiah yang akan di berikan adiknya tersebut.” ucapku.
“tuh, sudah kubilang jika beliau diam bukan karena kamu. Kau saja yang terlalu khawatir.” ucap Alea menenangkan ku.
“ ya, kurasa aku terlalu paranoid. Mau bagaimana lagi, ini kali pertama aku berada di posisi ini dan aku tak ingin aku membuat apa yang dikataka adikku soal aku yang takka bertahan lama di perusahaan induk ASH group menjadi nyata.” ungkapku.
“ kurasa jika tahu kau berada di kursi seketaris- semua rambut kriwil adikmu akan rontok.” ucap Alea tertawa. Karena aq memang sudah memberikan foto adikku pada Alea.
“ haha, lucu rasanya wajah kotak jika botak.” ucapku membayangkan wajah adikku jika kepalanya botak.
“ aku cuma bilang sampai rontok, kenapa kau membayangkan sampai botak?’ goda Alea.
“ benarkah?”
“ katakan sejujrunya jika kau membayangkan adimu botak, Roberta.” goda Alea.
“ oh, Alea. Jangan menggodaku.” ucapku tertawa. Entah mengapa semua keresahan di hatiku sedari tadi menguap begitu saja saat direktur meneloponku tadi. Dan mood ku kembali naik dengan bercerita pada Alea
😊😊😊