The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 pov Berta who?



Aku sudah mengurus segalanya untuk kepergian kami kami ke Indonesia. atau bisa di bilang kepulananku.


Bagaimana tidak bisa di bilang pulang? Saat di Indonesia- direktur mengatakan akan tinggal di rumahku sebagai penghuni kost ku, itu berarti aku akan pulang ke rumahku- bukan?


Emily juga sudah di ajari soal urusan kantor, dan tuan Allan juga siap menggantikan posisi Ray sementara kami di Indonesia.


Namun tiba- tiba telephone masuk ke ponsel Ray.


“ Halo! APA!” ucap Ray memekik setelah mendapat panggilan telephone.


‘ dari siapa? Hingga direktur memekik seperti itu.’ batinku.


“ ada apa?” tanya Emily juga tuan Allan.


“ Berta, undur lagi perjalanan proyek kita menuju Indonesia.” ucap Ray terlihat panik.


‘ apa kenapa?’ heranku.


“ ada apa, son? Kenapa kau terlihat panik?” tanya tuan Allan.


“ Andre tertikam di perutnya! Sekarang ia sedang di rumah sakit menunggu untuk operasi darurat, Erick langsung terbang kesana begitu di kabari oleh rumah sakit di Swiss.” ungkap Ray tampak panik.


‘ apa? Apa yang terjadi di Swiss hingga wakil direktur kecelakaan seperti itu? Ada yang mengincarnya, ya?’ heranku.


“ APA!” ucap Allan terkejut.


“ kabari aunt patricia juga uncle Denny, Ray.” ucap Emily yang sama terkejutnya.


‘ Apa? Maksudnya ibu wakil direktur? Bagaimana jika ia pingsan mendengar anaknya kecelakaan seperti itu.’ batinku ikut panik membayangkan yang tengah terjadi.


“ jangan! Lebih baik kita kabari Uncle Denny dulu dan jangan langsung mengabari Aunt Patricia, aku takut, ia takkan kuat mendengar kabar ini. Dad, siapkan jet pribadi mu!” pinta Ray.


Tapi....


Tunggu? Jet pribadi?


Sekaya apa keluarga Ashton? Batinku gigit jari.


Apa dayaku yang mau pulang ke Indonesia saja tunggu gajian😭


“ saya akan disini selama anda menjenguk wakil direktur Andre tuan.” ucapku.


Aku memutuskan berada disini saja, mengurus urusan perusahaan, meski khawatir, biar bagaimana pun aku mengerti, jika tak bisa membiarkan perusahaan dalam keadaan kosong seperti ini. Berbeda dengan perjalanan proyek, ini menjenguk keluarga mereka. Sehingga pasti sebagai keluarga tak mungkin tak mengunjungi keluarganya yang terluka.


Setelahnya, aku melihat mereka langsung bergegas keluar perusahaan, mungkin akan langsung ke Swiss melihat keadaan wakil direktur.


Aku tersenyum.


Membayangkan..., jika itu keluargaku.


Seandainya ada salah satu dari kami yang terluka akankah mereka sepanik itu? Mengunjungi secara bersamaan ke rumah sakit karena khawatir?


Aku rasa jawabannya tidak! Aku jadi ingat saat nenek ku sakit. Keluraga ku seolah menutup mata, telinga dan mulutnya. Mereka hanya memberi pesan khawatir tanpa pernah mengunjungi. Jika mengunjungi itupun sekali saat awal nenek di nyatakan sakit. Namun di penghujung hidup nenek? Di saat keluarga ku pontang panting mengurus nenek yang sakit- kemana keluarga besarku?


Mereka bagai menghilang di telan bumi. Sementara saat nenek tiada, mereka berebut datang. Bukan karena peduli, namun karena memperebutkan harta warisan.


Bagai musuh dalam selimut. Menusuk diam- diam saat kami lengah. Itulah arti dari keluarga besarku. Mungkin itulah alasan mengapa aku tak dekat dengan keluarga besarku.


Namun melihat keluarga Ashton membuatku menghangat. Mereka saling menyayangi satu sama lain. Meski di mulut saling mengejek, namun hati mereka saling peduli.


‘ okey! Aku harus tunjukkan jika aku bisa membantu direktur! Tunjukkan jika kau memang patas menjadi seketaris pribadi direktur Berta.’ batinku menyemangati diriku sendiri.