
Di sisi lain ada Nina yang baru saja menjenguk Mrs Vanessa pulang dengan penuh senyum licik, ia baru saja menemukan titik lemah atasan Rena dan membuat skenario agar Allan membenci Rena. Jika Allan tidak bisa jatuh kepelukan Nina, maka begitu juga dengan Rena.
Dalam mobilnya, Nina mengetikkan sesuatu sebelum akhirnya mengirimkannya dan terus tertawa sendiri dalam mobilnya.
0o0
Setelah itu tak henti- hentinya Allan menatap Rena, berada diruangan berdua, tengah malam, hanya ada Rena dan Allan, seorang pria dan wanita dewasa. Memikirkannya membuat Allan kesusahan menelan saliva- nya sendiri. Nafasnya memberat dan dia mulai mendekati Rena.
Karena Allan mengajaknya sampai Sore, semua pekejaan Rena yang harusnya selesai hari itu juga jadi terbengkalai, akhirnya Rena mau tidak mau harus lembur di kantor menyelesaikan pekerjaannya.
‘ sial, kenapa bibirnya tampak lebih m*ng@irahkan dari pada biasanya.’ batin Allan mulai bergejolak. Apa lagi melihat beberapa kali Rena mengigit bibir bawahnya untuk mengatasi rasa kantuk- nya.
“ Rena.” ucap Allan yang telah duduk di sofa panjangnya.
“ ya, Tuan?” ucap Rena melirik ke arah Boss- nya itu yang memanggilnya.
“ kau tidak lelah?” tanya Allan dengan suara sedikit parau.
“ ha ha ha, lelah, Tuan, tapi tuan bilang hari ini harus selesai jadi saya sedang berusaha menyelesaikannya.” ucap Rena tertawa.
“ Tuan jika mau pulang, pulang duluan saja. Nanti setelah selesai saya akan langsung mengirimkannya ke email- tuan.” ucap Rena merasa tidak enak karena Boss- nya itu harus ikut lembur menemaninya.
“ mana mungkin aku membiarkan wanita di kantor selarut ini sendirian.” ucap Allan sebagai alasan.
“ kalau begitu tuan tidur saja dulu nanti saya bangunkan saat saya selesai dengan bagian saya.” ucap Rena.
“ Rena.” panggil Allan lagi.
“ ya?”
“ kemarilah.” ucap Allan menyuruh Rena mendekat.
“ ya?” ucap Rena bingung.
“ kemarilah.” ulang Allan lagi.
Dengan bingung Rena mendekat ke sisi Allan. Baru mau mendekat tangan Rena- di raih Allan dan di tariknya.
Wanita itu tak menolaknya, ia mulai mengikuti alur ciuman Allan, saling *******, bersilat lidah meny*sapi bibir bawah dan atas bergantian. Satu tangan Allan berada di belakang t*ngkuk Rena dan satunya berada di pangkuan Rena memeluk pinggang Rena dengan intens, memperdalam ciuman mereka. Dan baru berhenti saat nafas mereka habis.
“ ap.., apa saya melakukan kesalahan sehingga anda menghukum saya?” tanya Rena bingung tampak wajah merona- nya. Allan tak menjawabnya hanya menyingkirkan rambut Rena ke belakang telinganya.
“ tidak.” ucap Allan dengan nada yang masih berat.
“ aku menciummu karena ingin menciummu.” ucap Allan mulai membaringkan tubuh Rena di sofa panjang itu mengukung Rena di atas tubuh Rena.
“ tu.., tuan.” ucap Rena bingung melihat kelakuan Boss- nya. Namun tubuh wanita itu tak sepenuhnya menolaknya.
“ diam! panggil aku Allan, kau ini lebih tua dari aku.” ucap Allan mulai m*ny*sapi leher jenjang Rena.
“ ta… tapi anda boss- saya.” ucap Rena sedikit menggigit bibir bawahnya saat Allan mulai meraba d**a besar rena yang masih tertutup kemeja kantornya.
“ berisik.” ucap Allan menggendong Rena ke ruangan rahasia di balik lemari. Rena tak menyangka akan ada ruangan rahasia di balik lemari kerja Allan, kelihatannya di gunakan hanya jika Allan di haruskan lembur di kantornya, selama ini Rena sama sekali tidak pernah melihat Boss- nya itu menggunakan kamar itu.
Allan meletakkan Rena di kasur ukuran king size- nya, ini kali pertama Rena melihat kasur sebesar ini, bahkan kasur di hotel tidak sebesar dan seluas ini. Allan kembali menciumi bibir Rena, Rena tak menolaknya dan pasrah saat Allan terus merasai bibir Rena. Sebagai wanita dewasa mungkin ia juga sedikit mendambakan hal yang selalu di bicarakan teman- teman wanita di kantornya yang telah menikah. Sambil mencium Rena tangan Allan yang bebas mulai membuka setiap kancing kemeja Rena. Melepaskannya, membiarkannya terlempar hingga ke lantai.
“ tu.., tuan.. aku mohon hentikan, saya.., saya.” rancu Rena. Namun kelihatannya gairah menutup panca indra Allan,
Rena menutup matanya, berusaha menormalkan nafasnya, namun ia tak menyangka beda sentuhan akan beda sensasi pula.
Tanpa disadari Allan telah membuka sisa kain di tubuhnya, berada di sela kaki Rena dan mulai mengarahkan miliknya pelan- pelan.
“ aku akan pelan- pelan.” ucap Allan sebelum akhirnya mencium Rena lagi.
Mereka terus berpelukan dalam beberapa waktu membiarkan miliknya tetap berada di dalam hangatnya milik pasangannya. Sampai akhirnya Allan mulai menciumi pipi Rena yang telah basah oleh keringat dan mulai mengeluarkan miliknya.
Allan sedikit tertegun melihat banyaknya *** yang meluber di tambah dengan bercak darah segar yang mengotori kasur, sebagian menempel di miliknya dan sela paha Rena. Allan baru saja melakukan pelanggaran! Melakukannya tanpa pengaman. Mereka orang dewasa yang sama- sama matang tak mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi. Namun bahkan sampai sekarang Allan masih bimbang dengan perasaanya sendiri
Rena yang baru saja bisa menormalkan deru nafasnya menyadari Allan yang tertegun melihat sela paha Rena.
“ aku akan membersihkannya.” ucap Rena mengambil bajunya dan pergi kekamar mandi di samping ruangan rahasia Allan untuk membilas badannya.