
“ Apa? Direktur benar- benar mengunjungimu?” ucap Alea tak percaya.
“ sstss.” ucapku agar Alea mengecilkan suaranya karena kita memang sedang berada di pantry perusahaan karena aku sedang membuatkan coffee untuk direktur.
“ aku sudah bilang kan! Direktur itu menyukai mu!” ungkap Alea dengan girang.
“ aku belum yakin jika ia benar- benar menyukai ku.” ucapku ragu.
“ haish! Kau ini! Bahkan semua dugaan yang kuucapkan semua terbukti! Lalu mengapa kau masih ragu?” Heran Alea.
“ Alea, kau lihat kan! Dia ini direktur sedangkan aku hanya seorang karyawan biasa! Apa yang membuatku istimewa? Hingga ia bisa menyukai ku? Bahkan pertemuan kita tak bisa di bilang istimewa.” ucapku terus meragu.
“ soal itu aku tak tahu! Aku bukan direktur! Tapi yang aku katakan ini adalah kebenaran! Aku yakin jika direktur menyukai mu.” ucap Alea menyemangati ku.
“ sudahlah! Aku terlalu ngobrol hingga melupakan coffe untuk direktur.” ucapku mengalihkan.
“ oke! Oke! Jangan lupa istirahat nanti mentraktirku.” ucap Alea sebelum aku meninggalkan pantry.
🌸🌸🌸
“ Berta.” panggil direktur saat aku sudah tiba di ruangan Direktur dan menaruh secangkir coffee pesanan nya.
“ ya, tuan?” heranku menghampiri Direktur yang berada di depan ruangan wakil direktur.
‘ siapa wanita yang ada bersama direktur? Dari wajahnya aku merasa ia seumur denganku. Apa dia kekasih direktur?’ batinku mulai ada perasaan tak suka yang mengganjal di hatiku.
“ kau tahu tentang pesta bisnis yang aka di adakan nanti malam?” tanya Direktur.
“ ya, pesta yang di selenggarakan oleh perusahaan Long.” ucapku menatap tabku.
“ rencananya aku akan memberikan undangan itu pada Andre, biar dia yang menghadiri pesta berkedok bisnis itu.”
‘ lagi?’ Batinku.
“ begitu? Biar saya akan mengatur ulang jadwal anda.” ucapku menegatur ulang jadwal yang ada di tabku.
“ lalu setelah ini akan ada jadwal apa lagi?” tanya Direktur masih di depan seorang perempuan.
“ tidak ada, hanya menandatangani berkas di kantor, makan siang, kembali ke kantor dan rutinitas kantor lainnya.”
“ bagus, kau ajak Tama untuk memilih baju.” ucap Direktur menunjuk perempuan yang sedari tadi bersamanya.
“ ha?” heranku dan perempuan itu bersamaan.
“ dia, Tama, wanita yang di utus mommy nya untuk mengawasi Andre- wakil direktur kita.” ucap Ray memperkenalkan Tama.
‘ooo.’ batinku, lega. Lega? Apa aku cemburu? Oh! Astaga! Apa hakku untuk cemburu! Direktur bahkan tak pernah mengatan apapun soal perasaannya. Dan kita tak memiliki hubungan apa- apa.
“ lalu? Apa hubungannya dengan memilih baju?” heranku. Berusaha mengalihakn perasaanku.
“ ya, kau tahukan? Andre yang akan menghadiri pesta dan pastinya Tama akan selalu mengikuti dia. “ ucap direktur.
‘ dia bodyguard dari wakil direktur?’ batinku menatap perempuan yang memang berdiri di depan ruangan wakil direktur.
“ lalu?” heranku.
“ kau temani ia berbelanja, pilihkan baju yang pas untuknya agar mempesona, juga beberapa kosmetik.” ucap Direktur menyerahkan black card.
‘ kartu apa ini? Kartu kredit dengan visa tanpa batas?’ batinku cukup terkejut pada kartu yang di berikan dengan gampangnya oleh Direktur.
“ apa? Tidak usah tuan.” perempuan itu akhirnya ikut bersuara.
“ kau tak mungkin kan ikut ke pesta dengan baju ke besaran seperti itu.” ucap Direktur.
“ be.., begitu, kalau begitu, miss, mungkin kita lebih baik beli kemeja kerja dan jass saja tak usah dengan kosmetik.” ucap wanita itu.
“ tidak! Berta, belikan ia satu set gaun dengan stiletto yang akan menunjang tinggi badannya, beberapa perhiasan juga cosmetic.” ucap Direktur.
“ apa?” heranku juga wanita itu. Melihatnya Direktur mengajakku untuk masuk ke ruangannya.
“ kau tahu tabiat Andre- kan?” ucap Direktur setelah menutup pintunya ruangannya yang berada di sebelah ruangan wakil direktur.
“ er.. menurut yang saya dengar ia seorang perayu wanita.” ucap ku setelah mengingat berbagai rumor tentang wakil direktur.
” yap, dan wanita yang di suruh Aunt Patricia- mommy dari Andre itu sangat berkebalikan dari selera Andre.”
“ apa anda ingin membuat tuan Andre jatuh cinta pada Tama?” heranku.
“ tepat! Runtuhkan keyakinannya yang mengatakan ia takkan jatuh cinta pada wanita seperti Tama.”
“ Ap? Wah, Tuan Andre sangat keterlaluan mengatai wanita itu, menurutku ia cukup manis jika di dandani.” ucap ku menatap wanita yang menjadi bodyguard wakil direktur dari balik ruangan berdinding kaca.
“ kau juga setuju kan? Aku percaya pada kemampuanmu dalam mendadani dia, dan buat sang casanova itu menjilat air liur nya sendiri.” ucap diekturmenyerahkan black cardnya.
“ apa pinnya?” tanya Berta.
“ erm.., ****.’ ucap Ray jujur. Mataku membulat sempurna, bagaimana bisa ia memberikan pin kartunya semudah itu?
“ kenapa anda semudah itu memberikan pinnya kepada saya? bagaimana jika saya menggunakan uang dalam black card ini untuk kebutuhan saya?” ucap ku tak percaya.
“ aku percaya padamu.” ucap direktur.
“ lagi pula jika kau ingin membeli sesuatu beli saja pakai itu.” ucap Ray.
“ te.., tentu saja saya takkan melakukan hal itu, tuan. Gaji saya saja sudah cukup besar- menurut saya, atau anda bisa memotong gaji saya- nanti jika saya menggunakannya.” ucapku gugup.
“ sudahlah- cepat pergi menggunakan mobil kantor, sebelum hari mulai siang.” ungkap Direktur
“ eh? Tapi saya tidak bisa menyetir.” ucap Berta.
‘ naik motor saja aku tak bisa.’ batinku.
“ kau naik apa jika ke kantor?” heran Ray.
“ jalan, atau mungkin bus?” ucapku jujur.
“ kau tak memiliki motor?” heran Ray.
“ saya tak bisa naik motor, sepeda saja tak bisa.” ucapku jujur..
“ baiklah, karena jadwalku hanya menandatangani berkas, aku akan menemani kalian sekalian makan siang di luar.” ucap direktur memakai jas nya.
“ kalau begitu saya kembalikan black card anda.” ucapku menyerahkan Black card milik direktur.
‘ lagi pula aku tak ingin khilaf.’ batinku.
“ tak perlu, kau juga pakailah untuk membeli keperluanmu.”
‘ direktur! Please! Aku tak ingin khilaf!’
“ saya bilang tak perlu, tuan.” ucapku memilih menaruh Black card direktur ke kantong belakang pria itu.
Aku hanya menatap Direktur yang terdiam saat aku melih meninggalkan ruangan Direktur dan mengajak bicara wanita yang menjadi bodyguard wakil direktur. Kurasa apa yang di katakan Alea memang salah! Direktur berbuat baik kepada semua orang! Bahkan bawahan seperti bodyguard wakil direktur saja- direktur tak segan- segan mengeluarkan uangnya, apa lagi untuk karyawan seperti ku.