The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
Pov Berta bertemu pria tua



Setelahnya, aku mengenyahkan pikiran ku yang mengatakan seolah aku sedang berkencan dengan seorang direktur. Aku tak ingin berharap lagi dan di kecewakan lagi. Itu sebabnya yang bisa aku lakukan adalah fokus terhadap pekerjaanku.


“ lho? Ta?” panggil sebuah suara.


“ Daniel?” jawabku.


‘ sial! Kenapa pria itu ada di sini?’ batinku kesal.


“ aku pikir kau masih di LN.” ucap pria itu.


“ ya, kebetulan aku sedang ada tugas lapangan di sekitar sini.” ucap ku memaksakan tersenyum.


“ ini.” tanya Pria itu menatap direktur tidak suka.


‘ astaga, jangan lagi!’ geramku melihat keposesifan Daniel.


“ ini..., atasanku di kantor.” ucapku jujur.


“ mr. Ini Daniel.” ucapku kepada direktur.


“ dia kekasihku.” aku terpakasa mengakuinya sebagai kekasihku. Aku hanya tak ingin ia mencari gara- gara di sini. Di hadapan direktur ku! Aku sudah meneriakinya, bercanda padanya dan jika sampai pria posesif itu mencari gara- gara, aku benar- benar akan pulang dengan tak terhormat.


‘ tunggu! Kenapa aku melihat raut kecewa di wajah direktur waktu aku mengakui Daniel sebagai kekasihku?’ batinku heran.


“ Daniel, ini atasanku di kantor.” ucapku melanjutkan sesi perkenalan ini.


“ Daniel.” ucap Daniel menjulurkan salam.


“ Ray.” ucap Direktur menerima uluran tangan Daniel.


“ sedang apa kau disini?” tanyaku.


“ aku menemani Fredy mencari makan.”


“ aku sudah selesai membeli, ayo pulang, Lho Berta?” ucap Fredy datang.


“ hai, Fredy.” ucap ku melambaikan tangan.


‘ syukurlah Fredy datang.’ batinku lega. Seandainya aku bisa telepathy, mungkin aku akan menyuruh Fredy; Cepat pulang dan bawa pria posesif itu dari sini! Aku tak ingin mencari keributan disini.’


“ kau disini?” tanya Fredy.


“ hem, ada urusan proyek di sekitar sini.” ucapku berbasa basi.


‘ ayolah, mengapa malah mengajakku berbincang.’


“ begitu? ya sudah. Lagi pula niat kita hanya membeli untuk di bungkus, kita tinggal dulu ya, ayo bro.” ucap Fredy.


‘ akhirnya.’ batinku lega.


“ ya. sudah dulu ya.” ucap Daniel.


“ dia kekasihmu?” tanya direktur.


‘ seandainya bisa aku tak ingin mengakui ya sebagai kekasih.’


“ dia tampak lebih tua darimu.” tanya direktur menatap Daniel yang mulai menjauh.


“ ya, dia beda sepuluh tahun dariku.” ucapku jujur.


“ what? Sepuluh? Dia lebih tua dariku?” ucap direktur tak percaya.


“ sudahlah, ayo kita bahas pekerjaan kita, tuan.” ucap ku jengah.


‘ karena aku memang tak ingin membahasnya, membuat mood ku turun saja.’


🍂🍂🍂


Setelahnya tampak jika direktur terlihat lebih diam dari biasanya, ia bahkan memilih menghentikan peninjauan proyek lebih cepat dari yang dia ingini.


‘ kenapa?’ heranku.


‘ apa aku membuat kesalahan?’ batinku takut.


Aku takut. Sangat takut. Takut jika karena Daniel sekali lagi apa yang ingin ku capai tak bisa ku capai. Ya ini tak bisa di bilang salahnya juga. Aku meneriaki seorang Direktur dan malah membuatny menunggu begitu lama, aku bahkan bercanda dengannya.


Aku harus pulang untuk menenangkan diriku.


🌸🌸🌸


“ kau kenapa?” heran Alea saat menemui ku di parkiran perusahaan dan hendak mengantar aku pulang.


Aku memilih menggeleng kan kepalaku dan menunduk lesu, berharap Alea tak melihat wajah sedih ku.


Alea yang melihat aku menggeleng hanya terdiam dan memilih untuk memakai Helm nya lalu mengendarai motornya. Aku yang melihatnya hanya duduk di belakang Alea.


Hening! Itulah yang aku rasakan. Padahal biasanya, mulut Alea tak berhenti mengajakku mengobrol.


‘ apa Alea tahu aku menyembunyikan sesuatu’


‘Ia juga kecewa padaku’? Batinku takut. Takut aku akan kehilangan teman sebaik Alea. Apakah kami masih dapat berteman meski aku tak lagi bekerja di Ash Group?


“ sekarang, katakan padaku.” ucap Alea membuyarkan lamunku.


“ ha?” heranku. Aku melihat ke sekeliling dan baru menyadari jika aku sudah berada di depan pintu apartment ku. Ini memang kebiasaanku ketika melamun, aku bahkan tak sadar sedang berjalan ke arah mana.


“ sekarang sudah bukan di kantor. Pasti kau memiliki masalah kan? Jika kau tak menceritakannya di kantor aku sudah mengantar mu pulang ke apartment mu.” ucap Alea menangkup pundakku.


Aku menatap Alea dengan tidak percaya. Dari pada berbicara aku lebih memilih memeluknya


...😢😢😢😢...


...Koq sepi? Karena author jrg up ya😢...