
“ ngomong- ngomong.., direktur menelponmu hanya untuk mengajakmu ke pesta?” heran Alea.
“ ya.”
“kenapa ia sampai menelponmu? Apakah kau tak mendapatkan undangannya?” heran Alea.
“ kurasa aku mendapatkannya, namun aku tak pernah tertarik soal pesta. Dan karena itu bukan pesta wajib, jadi aku cuma meletakkan undangan itu di tas ku.” ungkapku.
“ tapi.., kenapa aku merasa direktur memperlakukan mu secara khusus?” ucap Alea curiga.
“ khusus?” heranku.
“ ya, soal kau yang menduduki kursi seketaris saja sebenarnya sudah mencurigakan. Meski aku akui jika kau memang berbakat. Tapi Direktur bahkan sampai membiarkanmu meneriakinya, bersedia menunggu di depan rumah mu- terlalu lama dan secara khusus menelpon mu.” ungkap Alea.
“ oh, ayolah Alea! Jangan membuatku berharap! Aku takut jika aku akan kecewa! Lagi pula, dia ini seorang direktur! Bagaimana mungkin bisa meyukai aku yang hanya karyawan biasa?” ucapku tak ingin berharap.
“ aku yakin beliau mungkin terdiam waktu melihat kekasihmu- karena ia cemburu.” ucap Alea semakin menggodaku.
“ Alea.” ucapku antara geram dan malu.
“ mau taruhan?” ucap Alea menantang,
“ taruhan?” heranku
“ ya, aku yakin setelah ini direktur pasti akan menjemputmu ke apartment mu.” ucap Alea yakin.
“ bagaimana jika tidak?”
“ kalau tidak, aku akan jadian dengan adikmu!” ucap Alea mantap.
“ kau pernah aku ceritakan soal adikku bukan?” heranku.
“ ya, karena aku yakin aku akan menang pada taruhan ini.” ucap Alea yakin.
“ baiklah, bagaimana jika direktur memang datang ke apartment ku?” heranku.
“ kau cukup mentraktirku bagaimana?”
“ deal!” ucapku memberi salam tanda taruhan di mulai.
Aku membayangkan jika Alea akan menjadi adik tiriku. Namun siapa yang menyangka jika aku yang harus mentraktir Alea.
🌙🌙🌙
Tepat saat Alea pamit pulang, aku mendengar ada yang menekan bell pintu apartment ku, aku pikir jika ada barang Alea yang tertinggal di apartment ku- hingga ia balik lagi ke apartment ku.
“ biar ayah bukakan.” ucap ayahku keluar dari kamar, karena kebetuan aku memang sedang di dapur mencuci cucian kotor.
Apartment ku memang apartment sederhana, namun memiliki dua kamar tidur dengan kamar makan yang menjadi satu dengan ruang tamu dan dapur. Fasilitas nya juga cukup lengkap, ada TV di ruang Tamu dan lamari pedingin mini dengan kompor di dapur. Untuk kamar juga sudah lengkap dengan fasilitas tempat tidur single bed di masing- masing kamar. Satu kamar mandi yang menjadi satu dengan toilet dan balkon sederhana. Kebetulan aku tak suka pendingin ruangan yang di namakan AC sehingga saat udara panas salah satu alternatif yang aku gunakan adalah kipas angin yang aku bawa dari Indonesia.
“ ah, ya. Berta...” ucap Ayah memanggil ku.
‘ siapa?’
Aku begitu terkejut, karena apa yang di ucapkan Alea sebagai bentuk bercanda benar benar terjadi. Apakah direktur benar- benar suka padaku?
“ cantik.” dan satu ucapan yang di lontarkan benar- benar membuatku terkejut. Aku memang sempat terdiam saat direktur mengatakan hal itu.
“ eh? Emm. Makasih? Apa anda kesini hanya untuk mengatakan hal itu?” namun aku berusaha cuek karena aku tak ingin berharap.
“ eh.., emm. Maksudku aku menjemputmu.”
“ jemput?” tanya ayah.
“ ya, perusahaan mengadakan pesta bagi karyawannya, jadi aku berniat menjemputnya.” ucap direktur menatap ayah seolah meminta bantuan.
“ Berta, kenapa kau tidak menghadiri pesta perusahaan?” heran ayah.
“ aku tidak tertarik, ayah.” ungkapku.
‘ jangankan pesta perusahaan, pesta keluarga saja aku tak tertarik.’ batinku.
“ lho? Itu bagus untuk mempererat hubungan karyawan yang lain denganmu.” ucap Ayah.
“ kalau tidak suka dengan pesta, bagaimana jika kita buat acara sendiri?” ucapan direktur membuatku menatapnya.
sejujurnya aku tak ingin terus berharap, namun apa yang terus direktur lakukan membuatku terlena. Aku takut, jika aku hanya jatuh pada harapan dan malah di kecewakan karena terlalu berharap.
“ setidaknya kau harus menghargai aku yang sudah jauh- jauh menjemputmu.” ucap Direktur.
“ baiklah, aku ganti baju dulu dan mungkin berdandan.” ucapku masuk kekamarnya.
Meski aku tak ingin berharap. Entah engapa perasaan hangat tetap mengalir dan memenuhi dada ku hingga senyum ku tak juga surut meski aku ingin berhenti tersenyum.
Aku memang mengatakan jika aku hanya berganti baju, namun aku benar- benar membersihkan tubuhku sebersih mungkin. Aku bahkan mencukur semua bulu- bulu di kulitku, memakai baju yang memuat penampilanku semakin terlihat menarik dan mungkin sedikit berias diri. Aku terlalu bersemangat hingga lupa waktu.
“ Berta, jangan lama- lama berdandan, kau tak lihat atasanmu menunggu mu?” dan pertanyaan ayah membuatku menyadari jika apa yang kulakukan memang sudah memakan waktu cukup lama.
“ tinggal menata rambut sebentar ayah!” ucapku.
Rasanya aku ingin menghentikan waktu agar leluasa berdandan. Agak sedikit repot menata rambut ku yang mulai memanjang. Tanganku bahkan hampir saja mati rasa hanya untuk menyisir rambut panjangku.
Aku tak pernah menggunakan stiletto sebelumnya, namun kurasa aku akan menggunakannya untuk membuat kaki- kaki pendekku terlihat lebih panjang. Sedikit parfum Vanila ku semprotkan di belakang telinga juga pergelangan tangan karena aku tak begitu suka bau yang terlalu menyengat, meski aku menyukai bau itu.
Saat aku keluar dengan penampilan ku- aku mendapati jika Direktur memang terus menatapku dengan pandangan yang berbeda. Ia bahkan terdiam seolah lupa tujuan awal ia kemari.
“ tuan? Haloooo.” ucap ku membuyarkan lamun direktur.
“ a..., ah. Ya. Kau sudah siap? Ayo!” ucap direktur bergegas keluar. Melihat rasa gugup karena ketahuan terus menatapku- membuatku menatapnya. Aku tersenyum dan memilih berpamitan dengan ayahku dan bergegas menyusulnya.
🌸🌸🌸