The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 do him love me?



Aku menatap kepada direktur yang sedang fokus mengemudikan motornya. Dari pada penasaran kemana direktur akan membawaku, aku lebih penasaran akan perasaannya saat ini.


Benarkah seorang direktur sepertinya menyukai ku? Pertemuan kita bahkan tak bisa di bilang istimewa. Aku bahkan tak merasa jika aku ini istimewa.


Aku berusaha menutupi wajah senyumku, namun entah bagaimana, senyum tak juga mau surut dari bibirku.


Bagaimana ini? Astaga! aku terlalu senang.


Sejujurnya, aku masih trauma untuk kembali jatuh cinta. Seingatku, dulu- Daniel juga pernah bersikap semanis ini waktu awal pacaran.


Seandainya Direktur benar-benar menyukai ku dan menyatakan perasaannya padaku, apakah suatu hari nanti direktur juga akan berubah?


Dia ini direktur, siapa juga yang takkan menyukainya! Apakah suatu hari nanti jika aku dan dia sudah bersatu akan ada hari dimana aku mendapati cintanya mulai pudar dan akan ada hari dimana ia mengatakan jika ia mencintai wanita lain?


Entah bagimana, senyum yang sedari tadi tak mau pudar- menyurut secara tiba- tiba. Ketakutan akan menjalin hubungan seolah menghantuiku. Aku takut akan batu sandungan percintaan. Antara berubah mejadi kasar suatu hari nanti atau datangnya wanita lain.


Namun lamun ku buyar kala direktur yang memanggilku. Kegundahan ku seketika hilang melihat pemandangan yang di tunjukkn direktur.


“ apa kau menyukainya?” ucapan direktur membuatku menatapnya. Aku melihat nya tesenyum menatapku. Tatapan yang bukan penuh damba melainkan tatapan sayang juga cinta. Apakah direktur benar- benar menyukai ku?


“ ini indah.” ucapku tersenyum dan memilih duduk di pinggiran Besi pembatas


“ saya pikir anda akan mengajak saya ke pesta lainnya.” ungkapku.


‘ bukankah seperti itu yang biasa di lakukan bangsawan? Berpesta! Menghamburkan uang, menunjukkan jika mereka itu memiliki banyak uang.’ batinku.


“ aku dengar kau tak suka tempat ramai, jadi aku mengantarmu kemari.” ungkap direktur. Sekali lagi aku terdiam menatapnya dan memilih tersenyum.


“ ya, saya lebih suka suasana sepi.”


“ kenapa?” tanya direktur.


“ disanalah aku menemukan duniaku, Seni! Aku suka apapun yang berhubungan dengan seni, lukisan, design, tari, music dan masih banyak lagi.” ucap ku memandang langit berbindang.


“ ya, itu terlihat.”


“ anda tahu? Dulu orang tuaku tak pernah menyetujui aku melakukan yang aku suka.” ucapku bercerita.


“ itu sebabnya kau terlihat tak menyukai keluargamu?”


‘ apa yang aku lakukan? Kenapa aku menceritakan keluarga ku atau soal aku yang tak dekat dengan mereka? Bagaimana jika ia membenciku karena aku tak menyukai keluargaku, atau mungkin malah mengira aku ini aneh.


“ aku bukan tak menyukai mereka, biar bagaimana pun mereka tetap keluargaku. Namun ada kalanya aku merasa jengah. Jika anda mau tahu, adikku sendiri bahkan pernah meremehkanku dengan kata- kata jika aku ini em.., stupid.” ucapku ragu.


“ ap? Kenapa?” heran Ray.


“ karena aku selalu diam, sehingga orang kerap menganggapku tak bisa.”


“ kenapa kau tak mengatakan jika bekerja sebagai seketaris pribadi direktur? Itu bisa meruntuhkan kesombongan adikmu.” ungkap Ray.


“ jika aku melakukan itu, maka aku tak ada bedanya dengan mereka.” ucap ku membuat direktur terdiam.


“ biar Tuhan sendiri yang meruntuhkan kesombongan mereka, yang harus kulakukan adalah menikmati hidup.” ucapku tertawa.


Pandangan mataku mungkin ke langit berbintang, namun ekor mataku menatap ke arah direktur yang tak juga lepas menatapku.


Aku masih ragu apakah seorang direktur sepertinya bisa menyukai aku, namun kurasa aku tetap harus mentraktir Alea esok hari.


🌸🌸🌸🌸