
Tidak sopan rasanya jika aku makan di kamar pria dan aku tak memiliki meja makan. Ini semua karena ayahku tidak suka meja makan ku yang sudah di gunakan bahkan semenjak ibuku kecil. Alasannya karena sudah kotor dan hitam. Padahal, jika memang sudah hitam, kenapa tidak di cat ulang saja?
Aku rasa karena memang ayahku benci apa saja yang berhubungan dengan keluarga besarku. Tak heran, bagi ayah- karena keluarga besarku lah ibu sakit hingga tiada.
Apa yang semula terlihat kawan dan saudara- menjadi musuh kala pembagian warisan di mulai- saat eyang( nenek) ku tiada.
Yang semula membela menjadi menusuk.
Apapun, asal uang dan hak mereka jatuh ketangan mereka. Mereka bahkan lupa pengorbanan ibuku kala eyangku sakit dulu.
Tutup mata, tutup telinga dan tutup mulut.
Kurasa, itu adalah kata yang tepat saat eyangku sakit dan ibuku butuh pertolongan untuk merawatnya.
Namun saat eyang tiada, semua seolah mendekat, bukan menolong namun mendorong.
Mendorong agar jatuh.
Lupakan! Jika aku berlarut- larut dalam dendam orang dewasa aku akan kehilangan nafsu makan ku.
Aku memilih duduk di kursi tamu bersama direktur- karena akan sangat tidak sopan jika aku membiarkan nya makan sendirian.
Aku jadi membayangkan, bagaimana reaksi keluargaku ketika tahu aku tinggal dengan pewaris dari ASH-Group? Bahkan bekerja di bawahnya?
Pasti mereka akan berlomba dekat padaku.
Aku yang bahkan tak pernah di masukkan dalam group chat keluarga- mungkin karena di anggap tak penting.
Dan aku yakin setelah mereka tahu jika aku bekerja sebagai seketaris direktur utama Ash group- dengan tidak tahu malunya mereka menjadi orang yang sok kenal dan sok dekat denganku.
Cih!
Sok kenal? Mereka memang keluargaku namun hanya sedikit yang benar- benar tulus dekat denganku.
Aku tak mau mengolok orang lain, namun memang begitulah keluarga ku. Selalu melihat seseorang dari derajat. Kala memiliki status- aku akan di anggap, namun jika tidak- aku akan di tendang. Tidak heran jika ibuku dulu selalu memaksaku menjadi yang terbaik bahkan sampai menyetir apa yang kulakukan bahkan apa yang kuinginkan.
Ia ingin aku bisa masuk dalam lingkaran keluargaku.
Lamunku buyar kala aku mendengar bunyi ringtone handpone ku.
Salah satu orang yang berusaha dekat denganku- saat tahu bekerja aku di ASH-group.
“ kenapa kau tak membuka isi pesan itu? Siapa tahu isinya penting." tanya Direktur.
Tanpa melihatpun, aku tahu isinya tidak penting.
"Tidak masalah, hanya dari temanku, ia tahu jika aku bekerja di ash-group dan meminta nomor salah satu pejabat penting di Ash- group." ucapku yang tahu tanpa membacanya.
Ia adalah marketing di bagian saham. Orang penting dan besar pasti selalu menjadi incaran manis dari perusahaan yang menjual saham atas nama emas sebagai inti dari saham.
Direktur bertanya; mengapa aku bisa tahu jika para pegawai dari perusahaan saham ini tidak mendapat gaji atau bayaran jika tidak mendapatkan Klien;
tentu karena aku pernah menjadi bagian dari mereka.
Sayangnya aku tak memiliki skill meyakinkan Klien apa lagi orang.
Lagi pula ‘ kekasihku’ tak suka pekerjaan tidak menghasilkan uang, itu sebabnya aku memilih berhenti.
Atau lebih tepatnya; ia yang memaksaku berhenti.
Terkadang-maksudku, selalu- aku tak pernah berhasil bekerja karena ia yang tak pernah puas saat aku bekerja. Yang terlalu banyak pegawai pria, yang memiliki sistem gaji jika hanya dapat Klien. Oke, itu semua masih mending yang aku tidak habis pikir adalah;
Dia yang memintaku berhenti hanya karena jalannya jauh juga terjal.
Terkadang aku tidak habis pikir dengan pria tua yang satu itu. Apakah sebelum menyuruhku melamar di sana ia tak pernah memikirkan kondisi seperti itu? Biar bagaimana pun, bahkan ialah yang mengantarku ketempat aku melamar kerja saat itu dan dialah yang menyuruhku melamar disana.
Itu adalah salah satu alasan aku tak menyukainya. Ia tak pernah memikirkan apa yang terjadi didepannya sebelum melangkah.
Kesal, namun kekesalanku buyar kala direktur ingin menemui temanku di bagian saham itu.
Aku melarangnya karena saham yang harus ia beli ada tarif minimal agar temanku memiliki gaji d tempat itu.
200 juta!
Dan direktur menganggap itu sebagai hanya?
Nyut! Kepalaku tiba- tiba pusing.
Aku memang bukan type yang melihat uang. Namun mengatakan uang dalam bentuk ratusan juta itu sebagai hanya membuatku paham jika aku ini hanya butiran debu di kaki seorang Ashton.
Direktur mengingatkan tentang Gaji...
Memangnya gajiku seberap besar? Aku tak begitu mempedulikannya saat tanda tangan kontrak kerja- karena bagiku, memiliki pekerjaan itu lebih dari cukup. Dan aku hanya sembarang mengirim uang pada ayahku saat aku meyuruhnya membeli perlengkapan ruangan untuk direktur. Dan sisanya untuk uang saku ayahku.
Bahkan saat di tanya ayahku aku hanya menjawab lumayan. Tak mungkin juga aku mengatakan jumlah gajiku- aku tak ingin orang tahu aku bekerja sebagai seketaris di Ash- Group dan membuat para keluargaku bagai anjing yang menjilat kaki ku.
Jika melakukan hal itu aku tak ada bedanya dengan mereka yang menyombongkan diri mereka. Biarlah aku diam, bahkan di saat mereka menghina ku.
Yang terpenting adalah aku bisa melakukan apapun dengan hidupku tanpa bergantung pada keluargaku.
Direktur berkata jika aku tak pernah membeli tas atau cosmetic dengan gajiku.
ayolah, aku hanya akan terlihat aneh dengan cosmetic yang tebal, bayangkan saja;
Wajah baby face ku terlihat tua. Iuh.....
Dan tas? Ayolah, aku orang yang bebas. Aku menerima jika itu tas samping yang ringan. Namun..., tas wanita yang harus kupegang di lengan? Lenganku akan bengkok nanti karenanya.
Aku memilih membaginya pada yang membutuhkan dari pada memamerkan uangku.
Membaginya? Tentu saja bukan pada orang yang sudah bergelimang harta- terutama keluargaku. Ada orang yang lebih pantas dari pada mereka yang sudah memiliki atap untuk berlindung dari panasnya matahari dan dinginnya angin malam- yang memiliki kasur dan selimut yang nyaman untuk tidur- yang hampir setiap hari bahkan setiap kali mereka ingin makan - mereka akan mendapatkannya.
‘ Kita bekerja untuk mencari makan dan memenuhi
kebahagiaan kita. Jika sudah memiliki semua nya namun uang yang kita miliki masih berlimpah, bukankah ada baiknya kita membagi sebagian dari rejeki kita?' itulah pedoman dalam hidupku.
Tak peduli orang mau berkata apa. Ada yang memuji, ada yang berkata aku munafik.
Aku katakan sekali lagi;
Aku
Tidak
Peduli!
Yang ku bayangkan adalah; kala orang yang kita beri mendoakan aku, tak ada yang lebih menghangatkan hatiku dari pada itu.
Dengan begitu kita juga akan menyebarkan kebahagiaan itu dan membuat kebahagiaan semakin besar?
Aku menatap ke arah direktur yang terus menatapku.
“ kenapa kau malah menatapku? Apakah makanannya tidak enak? Mau aku belikan yang lain?” tanyaku.
“ tidak. Maksudku, ini cukup.” ucap direktur mulai memakan makanannya.
Makanan rumahan khas Indonesia.
Akupun memilih menghabiskan makanan yang membuat aku rindu masakan Indonesia itu sebelum akhirnya memberihkan semua piring kotor di dapur dan beristirahat setelah sebelumnya aku mengirim pesan balasan ketemanku yang mengatakan;
Aku akan ke perusaaan temanku membawa orang dari Ash- Group. Tanpa menyebutkan siapa dan kedudukan apa yang akan akan aku bawa bersamaku