
Allan lagi- lagi berdecak kesal. Ia sudah mencari ke kota- kota besar, ibu kota Indonesia; Jakarta dan hasilnya nihil, Bandung juga Nihil, Surabaya? Jogjakarta? Bali? Ia tak menyangka jika nama Rena akan tersebar begitu banyak di satu negara, namun dari sekian kali ia mencari ia belum menemukan Rena- nya, Rena yang terus menghantui pikiran Allan, wanita yang berhasil masuk melewati dinding hati kerasnya Allan.
‘ kemana lagi aku harus mencari? ’ ucap Allan melihat lembaran kertas dengan puluhan nama yang sama. Sudah lebih dari satu bulan ia terus mencari, dari satu rumah ke rumah yang lain. Hingga akhirnya Allan terbang menuju ke kota Solo
Solo(Surakarta), kota terbesar ketiga di pulau Jawa bagian selatan, Indonesia dan merupakan kota yang memiliki budaya batik yang kental seperti Yogyakarta dan kuliner berupa serabi, dodol, dawet dan masih banyak lagi, kota sejuta kuliner.
Setelah beberapa menit dari bandara Allan dengan segera mencari dari satu rumah ke rumah yang lain yang memiliki anak perempuan bernama Rena Ayu Puspita tanpa memikirkan kondisinya yang sudah lelah, hingga akhirnya Allan sampai di rumah sederhana bercat putih dengan gaya klasik dan berbagai tanaman hias dan tanaman Buah berjejer di halaman rumah mereka. Dengan rasa berdebar Allan mengetuk pintu, entah mengapa jika hatinya mengatakan jika ia semakin dekat pada Rena, ia berharap jika yang membukakan nanti adalah Rena. Jika tidak entah kemana lagi ia harus mencari, ia akan membayar orang lagi untuk mencari Rena meski harus kesegala penjuru dunia. Menghabiskan sisa harta dan sisa umurnya.
“ siapa?” suara laki- laki membukakan pintu.
“ apakah ada Rena?”
“ ya? Anda siapa, ya?” tanya laki- laki itu.
“ saya.., saya..”
‘ aku siapa? Aku harus mengakui sebagai siapa? Aku bukan lagi atasan Rena. Tidak mungkin aku mengakui mantan atasan Rena.’ batin Allan bingung. Karena selama ini yang membukakan pintu adalah wanita yang bernama Rena langsung. Kalaupun tidak biasanya tidak ada yang akan menanyakan itu dan langsung memanggilkan yang ditanyakan.
“ bilang saja ada yang mencarinya.” ucap Allan menamati pria yang baru saja membukakan pintu tersebut, pria muda, mungkin hanya sedikit lebih tua dari Allan. Tapi siapa? Apa lagi- lagi ini bukan rumah Rena yang Allan cari? Seingat Allan Rena hanya tinggal berdua dengan ayah- nya karena kedua saudara laki- laki- nya merantau keluar kota. Dan kebetulan dari sekian yang Allan temui di bukakan langsung oleh para wanita dengan nama yang sama; Rena!
“ ya?” jawab suara yang Allan kenali. seketika membawa kelegaan di hati Allan, Allan mengenali suara khas Rena dan senyum seketika menghiasi wajah Allan. Namun tidak dengan Rena, melihat Allan di hadapannya seketika, Rena buru- buru menutup pintu- nya, Allan yang mengetahuinya langsung mencegahnya.
“ tunggu! Dengarkan aku dulu.” ucap Allan meminta pengertian.
“ apa lagi Tuan si pembuat onar? Anda mau merusak kehidupan saya lagi hanya karena masa lalu yang bahkan saya tidak ingat jika tidak anda ceritakan?” ucap Rena sarkas.
“ Rena, aku minta maaf, aku mohon. Dengarkan aku dulu.” ucap Allan,
“ apa lagi yang harus saya dengar? Penghinaan anda?” ucap Rena, tampak wajahnya yang terluka. Allan yang melihatnya memeluknya.
“ lepas!” Rena meronta.
“ aku minta maaf Rena, aku kemari karena mencari- mu. Aku mohon maafkan aku.” ucap Allan lirih. Mendengarnya Rena melihat Allan, penampilan Allan yang dulu sangat rapi dan maskulin terlihat berbeda, wajah Allan yang terlihat jarang tidur, penampilannya berantakan dan ia kelihatan lelah.
“ lalu mengapa kau bahkan tidak pernah menghubungiku?” ucap Rena lirih matanya mulai berkaca- kaca.
“ maaf.” hanya kata itu yang bisa di lontarkan Allan. Dalam keheningan Allan menatap Rena, wajah yang begitu ia rindukan. Tampak ekspresi wajahnya yang begitu terluka karena luka yang di berikan Allan. Dan badannya yang lebih berisi di beberapa bagian terutama di bagian perutnya yang sedikit menonjol tertutupi kaos longgarnya, namun perubahan apapun pada Rena- Allan selalu tahu, karena bahkan setiap detail tubuh Rena sudah tercetak di pikiran Allan tanpa Allan sadari.
“ kau hamil?” ucap Allan lirih. Ia begitu takut menghadapi berbagai kemungkinan, kemungkinan bahwa itu adalah bayinya atau Rena melupakannya dan memilih pria lain, mungkin pria yang tadi membukakan pintu untuknya. Biar bagaimana- pun mereka hanya sekali melakukannya dan itu sudah terjadi lama sekali. Sudah setengah tahun mereka tak bertemu, ada kemungkinan jika Rena berpaling dan memilih meninggalkannnya.
“ apa itu urusanmu Tuan pembuat onar? Kenapa kau tidak mengurusi masa lalumu atau soal harga dirimu?” ucap Rena kembali sarkas.
“ Rena. Aku mohon maafkan aku. Aku salah waktu itu! Aku terlalu marah, hatiku di penuhi emosi, maafkan aku yang telah menuduhmu, maaf.” ucap Allan berlutut.
“ apa kau tahu betapa frustasinya aku saat tahu kau pindah dan aku tidak tahu dimana kamu? Aku bahkan mencarimu sampai kepelosok negri, berakhir di negri- mu dan aku tak peduli meski aku harus menghabiskan sisa hidupku untuk mencarimu.” ucap Allan memperlihatkan berlembar- lembar nama Rena.
“ kenapa? Kenapa kau sampai mencariku? Untuk kau permalukan lagi? Untuk kau hina lagi?” ucap Rena tampak bulir air mata mulai mengalir di mata indah Rena. Hatinya tersakiti, ia begitu terluka namun ia juga merindu.
“ tidak, Rena. Tidak! Aku mohon dengarkan aku dulu.” ucap Allan memeluk Rena lagi.
“ lalu apa lagi? Tidak puaskah kau membuatku menderita? Bahkan setelah aku lepas darimu, tak ada lagi perusahaan yang mau menerimaku! Kau menghancurkan cita- citaku. Aku membencimu!” ucap Rena menangis. Berusaha memberontak dari pelukan Allan.
“ tapi aku mencintaimu!” ucap Allan akhirnya.
“ aku mencintaimu, Rena.” ucap Allan lagi. Mengeratkan pelukannya. Rena terdiam, tak percaya apa yang baru saja didengarnya. Air mata belum berhenti mengalir dari mata indah Rena.
“ kau bohong.”
“ aku tidak bohong. maafkan aku, maafkan aku yang tidak langsung mencarimu, maafkan aku yang tidak langsung menghubungimu, ego- ku menguasaiku, aku terlalu malu mengakui jika ini salah paham dan tanpa sadar aku melukai- mu, maafkan aku Rena.”
“ Allan? Apa aku tidak salah dengar?” isak Rena.
“ aku akan mengatakannya berkali- kali Rena. Aku mencintai- mu.” ucap Allan meraih wajah Rena agar menatapnya.
“Maafkan aku yang terlalu mementingkan egoku hingga tidak tahu perasaanku sendiri, kau tahu Rena? Kehilanganmu membuatku sadar akan segalanya. Kehilanganmu membuat seperti ada sesuatu yang kosong di hatiku.”
“ Allan.” ucap Rena memeluk Allan. Membenamkan wajahnya di dada Allan, pria yang ia rindukan. Membuat nafas lega keluar dari mulut Allan.
“ apakah itu artinya kau memberiku kesempatan kedua atau pria yang tadi membukakan pintu memusnahkan segala harapanku?” ucap Allan ragu. Rena tertawa kecil.
“ pria tadi? Maksudnya kak Denny?” ucap Rena sambil bersemu merah. Seketika rasa takut memenuhi Allan, apakah Rena benar- benar melupakannya ?setelah Allan akhirnya menyadari perasaanya?
“ apakah kau ingat aku pernah bercerita soal sepupu- ku yang membuat- ku mendapat julukan tangan besi?” ucap Rena sambil menahan tawa. Allan akhirnya paham maksudnya.
“ apakah dia..?” ucap Allan ragu.
“ ya, dia sepupu- ku.” kata- kata Rena seketika membawa kelegaan dalam hatinya.
“ jadi bayi ini?” ucap Allan mengelus perut Rena.
“ bayi ini adalah anak dari seorang pria yang tidak bertanggung jawab yang melakukannya dalam keadaan sadar namun malah melupakannya hingga berminggu- minggu. Bahkan berbulan- bulan.” ucap Rena dengan nada sarkasme tapi terasa menggemaskan di mata Allan.
“ bodohnya aku menuduh wanita sepertimu bisa melakukannya.” ucap Allan mencium Rena. Dari ciuman menjadi *******. Cukup lama sampai Rena kehabisan nafas.
“ apakah saya bisa kembali bekerja sebagai seketaris?” ucap Rena setelah menimbang.
“ posisi seketaris telah di tempati oleh Bella.”
“ siapa?”
“ seketaris baru.” kata- kata Allan membuat Rena sedikit kecewa. Allan tertawa melihat reaksi Rena.
“ namun masih ada satu yang posisinya yang kosong.”
“ apa itu?” ucap Rena penasaran
“ menjadi istriku.” ucap Allan kembali mencium Rena, menggendong Rena menuju kamarnya yang ditunjukkan Rena tanpa melepaskan ciumannya.
Mengunci pintu kamarnya dan menaruh Rena dengan lembut ke kasurnya. Melepas ciumannya sebentar sebelum akhirnya kembali mencium bibir sexy Rena. **********, saling beradu lidah,Allan berusaha membuka terusan Rena. Namun Rena menolaknya.
“ kenapa?” geram Allan.
“ NO COMENT.” ucap Rena menyilangkan lengannya di dada besarnya
“ Rena.” geram Allan.
“ ini di Indonesia, Tuan. Bukan di LN. Kita bisa di amuk warga jika ketahuan melakukannya disini, kamarku tidak kedap suara.” ucap Rena mengingatkan.
“ kita ke hotel.” ucap Allan hendak menarik tubuh lengan Rena.
“ Ap? Tidak!” Rena menolaknya.
“ kenapa?” ucap Allan heran.
“ kita belum menikah, jika kita ketahuan sekamar berdua bisa di amuk SATPOL PP dan di tangkap.”
“ ribet banget negaramu, ayo kita kembali ke LN.” ucap Allan tak percaya.
“ aku udah ga bisa kerja lagi buat apa ke LN?” ucap Rena membalas Allan.
“ aku sudah melamarmu.”
“ tuan, kau tadi dengar- kan? Pekerjaan ini cita- citaku! Setelah mommy- ku, apakah tuan juga mau mengabaikan cita- citaku?” ucap Rena mengiba.
“ baiklah, kau bisa melakukan tugasmu.” ucap Allan kalah
“ lalu Bella?”
“ maksudmu Isabella? Dia seketaris sebelum kamu, namun mengundurkan diri karena suaminya ingin ia menjadi istri rumah tangga dan ibu rumah tangga.” ucap Allan, awalnya ia ingin mengerjai Rena tak menyangka jika ia akan kalah dengan Rena.
“ lalu?”
“ lalu sementara kamu ga ada dia gantiin sementara.” ucap Allan jujur.
“ jadi aku masih bisa masuk lagi?” ucap Rena dengan girang.
“ hem?” ucap Allan kalah.
“ ga kamu pecat lagi?” ucap Rena masih berada di bawah kukungan Allan.
“ga.” ucap Allan cepat.
“ ga kamu tuduh lagi?
“ en…, engga.” ucap Allan sedikit merasa tidak enak, ia mulai merasa bersalah saat ingat apa yang dilakukannya.
“ ga akan kamu cekik lagi?” kata- kata Rena seolah telah menghujani Allan dengan ribuan jarum yang menusuknya.
“ Rena, aku mohon maafkan aku. Aku sangat terbakar emosi saat itu hingga tidak bisa berpikir jernih.” ucap Allan mengiba.
“ Tuan, jika tuan tidak bisa sepenuhnya percaya pada saya, bagaimana saya bisa percaya pada tuan jika nanti saya menikahi tuan?” ucap Rena sopan seolah tak mengenal Allan. Membuat hati Allan semakin tersayat.
“ tuan tahu sendiri saat ini saya sedang mengandung, saat kemarin tuan melakukannya saya masih bisa menerima karena tuan hanya mengancam saya, namun jika tuan sampai mengancam nyawa anak saya, saya bukan hanya akan hilang dari kehidupan tuan namun juga dunia ini.” kata- kata Rena sekali lagi bagai batu besar yang menghantam dada Allan.
“ Rena.., aku mohon maafkan aku. Saat itu aku terlalu mementingkan ego- ku, aku berjanji akan berubah, aku mohon beri aku kesempatan kedua.” ucap Allan membenamkan wajahnya di dada Rena.
“ jangan berjanji padaku, berjanjilah pada anakmu.” ucap Rena melembut, mengelus rambut Allan. Allan menatap Rena yang tersenyum lembut kepadanya sebelum akhirnya mencium perut Rena.
“ hay, baby…, maafkan Daddy, ya pernah membuat Mommy- mu sedih, Daddy janji akan menjaga kalian berdua. Jadi yakinkan mommy- mu untuk memaafkan daddy.” ucap Allan seolah berbicara pada anaknya. Rena tertawa.
“ belum di maafkan Dad, jadi dad harus berusaha agar mommy memaafkan dad.” ucap Rena meniru suara anak kecil. Membuat Allan tertawa bersama.
^_^ penulis amatir hadir kembali jangan lupa like, love dan ollow ya biar author semakin semangat upnya