
Setelah hari minggu aku gunakan untuk meng- charge energiku dengan tidur seharian-setelah ber- chat- ria dengan direktur, senin pagi aku di kejutkan dengan kedatangan saudari kembar direktur.
Bukan terkejut akan sapaannya namun pada penampilannya.
Saat ini Emily menggunakan baju kantoran pada umumnya, dengan Blazer dan celana kain.
Selama ini aku selalu melihat jika ia selalu menggunakan pakaian bebas yang sesuai dengan style nya. Itu sebabnya aku sedikit terkejut karena ia benar- benar datang dengan style orang kantoran.
‘ jadi yang kudengar ini benar? Ia akan mengantikan wakil direktur? Aku pikir pesan dari direktur itu hanya candaan saja.’
“ kenapa kau memanggilku nona?” heran Emily.
‘ tentu karena kau adalah saudara dari direktur. Itu berarti ia juga atasanku- kan?’
“ saya dengar jika anda akan menggantikan kerja wakil direktur, dan berarti anda atasan saya, itu sebabnya saya memanggil anda Nona.” ungkap ku jujur.
Emily yang mendengar penjelasan Berta hanya menatap Ray.
“ dia juga memanggilku tuan dengan alasan yang sama, nona wakil direktur.” ucap direktur saat di tatap oleh Emily.
‘ ikatan batin saudara kembarkah?’ batinku yang melihat jika direktur seolah tahu jika Emily bertanya padanya hanya dengan melihat tatapan saudari kembarnya tersebut.
“ panggil aku dengan sebutan nama saja, Berta.” pinta Emily.
“ tapi di kantor saya adalah bawahan anda.” ucapku yang tak dapat di bantah Emily. Aku menatap ke arah direktur.
‘ mengapa ia tertawa? Kata- kataku lucu, ya?’ batinku bertanya.
“ ngomong- ngomong saya tak menyangka jika anda tahu soal bisnis seperti ini, setahu saya anda seorang design juga seniman.” ungkap ku karena rasa penasaranku- mengapa tiba- tiba saudari dari direktur ini secara tiba- tiba ingin mengantikan tugas kantor wakil direktur.
“ hem? Bukankah kau juga sama denganku? Lebih suka seni dari pada hal- hal yang berhubungan bisnis seperti ini. Dan jika kau saja bisa maka akupun juga bisa.” ungkap Emily ringan.
“ ya, tapi berbeda dengan anda, bakat anda di bidang seni sangat luar biasa.” karena memang begitulah aku melihat hasil karyanya.
“ hanya ada remeh temeh dan tawa ketika saya mulai terjun di bidang seni ketika mulai kuliah dulu.” ucapku saat mengingat bagaimana pandangan keluargaku dulu.
Apa lagi ketika aku yang tak melanjutkan kuliahku.
Dan aku menyadari, aku memang menyukai seni, namun saat aku terjun ke dunia seni bakatku seolah hanya berkembang setengah- setengah. Antara aku yang tak bisa melanjutkan bakatku karena terhalang biaya atau karena aku yang tak bisa konsentrasi pada satu hal. Aku juga cenderung ceroboh- sehingga meski ideku terbilang segar dan baru- hasilnya tak pernah memuaskan.
“ saya mencintai pekerjaan saya. Dan saat sudah di hadapkan dengan komputer atau laptop saya menyadari itulah bakat saya dan kesukaan juga dunia saya adalah seni.” ungkapku. Karena hanya saat di hadapan laptop saja kecerobohanku tak berpengaruh. Dan karena aku bisa menyelesaikan ketikanku lebih cepat- aku selalu mengoreksi lagi sebelum menyerahkan hasil akhirnya ke direktur.
“ dia benar, sis. Kau tahu seberapa cepat ia dalam mengetik dan mempelajari sesuatu.” ungkap direktur.
‘ he he. Direktur memujiku.’ batinku bangga.
“ bukankah kau mengatakan kau menyukai seni?” heran Emily.
“ ehem. Tapi saya sadar jika saya tak memiliki bakat dalam bidang seni. Saya menyukainya dan masih melakukannya ketika sedang stress. Dan saat saya sudah melakukannya seolah beban saya menghilang.” ungkap ku.
“ kenapa kau bisa mengatakan kau tak memiliki bakat di dunia seni?” heran Emily.
“ saya akui jika saya memiliki segudang ide, namun saya juga mengakui jika saya ceroboh, saya lebih banyak melakukan kesalahan dari pada menciptakan sebuah karya.” ungkapku.
Dan ujung dari semua itu adalah; aku yang semakin diremehkan.
“ kurasa itu hanya karena kau tak pernah sungguh- sungguh belajar, kau baru memulai mengenal seni saat umurmu sudah masuk usia dewasa.” ungkap Emily.
“ dan saya baru mengenal laptop dan komputer ketika memasuki dunia kerja.” ucapku.
“ meski begitu saya percaya diri akan ide- ide saya, saya bahkan pernah membuat dosen pembimbing saya yang awal nya meremehkan saya takjub dan memuji saya.” ungkapku.
Mungkin, itu juga yang menjadi alasan mengapa bakatku hanya berkembang setengah. Di saat aku yang tak memiliki uang untuk membeli sebuah aplikasi aku berusaha mencoba meminta pada teman seangkatan bahkan adik tingkatku, namun kata tidak lah yang aku terima.
Antara memang laptopku yang tak kuat menahan beban aplikasi atau mereka yang iri dan takut bakatku berkembang melebihi mereka.