
Setelah aku kembali dari tugas lapangan ada seorang pria yang menunggu di mejaku.
‘ siapa?’ batinku.
“ maaf anda siapa?” heranku. Dan reaksinya yang seolah terkejut itu lebih membuatku heran.
“ Roberta! Kau tak tahu siapa beliau ini? Beliau ini adalah Andre Wijaya! Wakil direktur kita!” ucap manajer di devisi ku.
Apa? Untuk apa wakil direktur ingin berbicara denganku? Bukan karena aku yang berbicara tak sopan pada saudari direktur kan? Atau jangan- jangan Emily mau membully ku? Batinku bertanya- tanya.
“ ma.., maafkan saya, ada apa kedatangan anda kemari, tuan? Apakah saya melakukan kesalahan?” ucapku.
“ tidak! Aku hanya ingin memberi berita bagus untukmu.” ucap pria itu. Tampak jika ia menelisik tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kepala.
“ berita baik apa yang membuat anda kemari langsung?” heranku.
“ apa kau bersedia naik tingkat menjadi seketaris pribadi direktur utama kita?” ucapannya membuatku terkejut.
“ apa? saya naik jabatan menjadi seketaris pribadi direktur?” ucapku hampir memekik- karena terkejut, antara senang dan bingung. Tak mungkin karena aku berteman dengan saudari direktur membuatku naik tingkat kan?
“ ya, ini sebuah kesempatan bagimu.” kenapa aku merasa kata- katanya kurang meyakinkan? Ia saja melihat ku dari atas ke bawah seolah mengatakan; apakah aku mampu?
Pasti ia hanya di suruh menyampaikan saja, ini seolah bukan keputusannya sendiri. Apakah benar- benar permintaan Emily?
“ tapi, tuan... kenapa? Saya baru saja bekerja menjadi pegawai selama sebulan disini.” lihatlah tatapan iri para rekan kerja sekaligus senior ku disini. Apakah mereka hendak membunuhku lewat tatapan mereka? Batinku risih.
“ menurut Direktur kau orang yang pantas menduduki kursi seketaris, selama ini, kursi seketaris sudah lama kosong karena memang, baginya tak ada seorangpun yang di akui direktur kita pantas menduduki kursi Sekataris pribadinya.” ungkap pria itu.
“ makanya, lantas..., kenapa saya?” heranku. Aku bahkan baru bekerja kurang dari sebulan disini.
“ karena bagi direktur kemampuanmu itu cocok menempati kursi seketaris, dia tahu, jika kau ini adalah pegawai di bagian divisi perancangan namun kau dengan lihai membetulkan bagian divisi pengembangan yang bukan bidangmu, jadi Direktur yakin akan kemampuanmu, apa lagi setelah di koreksi lagi ide darimu termasuk segar dan menarik.” ucap pria itu. Tunggu? Ia menyelidiki soal aku? Seluang apa- hingga direktur utama menyelidiki satu persatu karyawannya yang aku yakin lebih dari ratusan itu- belum termasuk beberapa perusahaan cabangnya.
“ tapi...” ungkapku ragu.
“ kenapa? Soal gaji tentu gajimu akan naik berkali- kali lipat.” ungkap pria itu berusaha meyakinkan aku. Astaga tuan! Jangan katakan apapun soal bayaran disini atau aku akan mati karena tatapan iri orang- orang yang menatap ke arahku.
“ apa saya mampu tuan? Saya hanya lulusan sekolah menengah atas, saya memang pernah kuliah namun saya belum memiliki title sarjana.” ungkapku mengecilkan suara. Jangan sampai seniorku yang ber- title lebih tinggi padaku mendengarnya, atau aku benar- benar bukan hanya merasakan yang namanya di bully.
“ soal itu kau tak usah khawatir, perusahaan menilai bakatmu bukan pendidikanmu, bahkan ada juga yang lulusan Sarjana hanya memilih menjadi security, karena ia merasa tidak mampu. Tapi dengan bakatmu meski kau tidak memiliki title kau mampu belajar menjadi seketaris yang baik.” ucapnya.
“ baiklah.” ucapku ragu. Iyakan saja. Aku tak tahan lagi melihat tatapan membunuh senior ku.
“ oke, mulai senin depan kau bisa langsung menempati kursi seketaris tepat menjadi satu ruangan dengan direktur utama, hanya terhalang sekat. Untuk barangmu, bawa saja barang pribadimu, tugas- tugasmu besok akan di ambil alih oleh pegawai yang lain.” ungkap pria itu lalu meninggalkanku sendirian dengan tatapan membunuh para senior lain.
Aku yakin setelah semua ini aku akan di hadang dan di bully para senior di sini.
🌸🌸🌸
suka ga?
author berharap kalian suka😊😊😊