
Keesokan harinya, aku sedikit terkejut melihat wajah direktur yang terlihat kesal. Aku juga mendapati jika wakil direktur tak masuk hari ini.
‘ apa yang terjadi dengan pesta semalam? Apa rencana yang di buat semalam soal Tama dan wakil direktur gagal?’ batinku.
“ hari ini wakil direktur tak masuk, apa terjadi sesuatu padanya?” ucapku berbasa- basi.
“ biarkan saja, aku memberinya ijin satu hari untuk menyelesaikan masalahnya.” ucap Direktur. Dari nada bicara yang ketus aku yakin ia memang kesal pada wakil direktur. Dan masalah apa yang di maksud? Ia menggagalkan pestanya? Tapi aku tak mendapatkan keluahan apapun dari perusahaan Long. Pasti ia kesal soal rencananya yang di buat soal wakil direktur dan Tama- gagal.
Namun saat aku bertanya lagi- Direktur hanya mengatakan jika ia lelah.
“ anda mau saya pijat?”
‘ astaga! Mengapa aku mengatakan hal itu? Mana mungkin juga ia mau aku pijat? Aku yakin ia lebih memilih SPA atau GYM dari pada di pijat biasa.’ sesalku karena aku keceplosan mengatakan hal itu.
aku reflek mengatakkannya karena ia mengatakan jika ia lelah. entah masalah perusahaan atau mungkin masalah wakil direktur. Tapi aku yakin jika ia tak ingin mengungkit masalah wakil direktur.
Satu hal yang tidak aku sangka adalah; ia mau aku pijat. Ia bahkan langsung merebahkan dirinya di kursi panjang.
‘ apa ia ingin aku memijat wajah dan kepalanya?’ batinku. Aku bergegas segera duduk di sebelah kursi panjang tersebut.
Sesungguhnya akan lebih mudah jika kepala direktur- aku pangku, namun kuasa itu akan sangat kelewat tidak sopan jika aku meminta seperti itu, jadi aku berusaha memijat kepala Direktur pelan.
“ kau mengingatkanku pada mommy ku, ia juga sangat pandai memijat, daddy ku bahkan sangat suka saat mommy memijat daddy.” ucap direktur memujiku.
‘ tentu saja, kekasihku saja menyukai pijatanku.’ dan kurasa sekali lagi- mulutku ikut berbicara atas apa yang kupikirkan. Aku dapat melihat jika direktur membuka matanya- setelah sebelumnya memejamkan matanya karena meikmati pijatanku.
Dan dari semua pertanyaan yang dapat kupikirkan bisa terucap di mulut direktur adalah; ia yang bertanya soal kekasihku atau bagaimana aku yang bisa bertemu kekasihku. Dan ia bertanya apakah aku ada niat menikah dengan kekasihku sekarang atau tidak?
“ ha ha, tidak.” ucap ku. Aku tertawa. Tentu saja, aku menertawai nasib ku yang seolah jalan di tempat. Bagaimana tidak? Daniel tak mau aku mengakhiri hubungan sementara ia tak memiliki niat dan tujuan untuk masa depan.
Oke! Aku mengakui jika dirinya pernah mengajakku menikah tapi ke- engganan lah yang membuatku menundanya selama ini. Ya! Aku mulai enggan dengannya.
Itu sebabnya aku hanya memberi satu syarat, yaitu;
Aku ingin menikah dengannya hanya jika biaya nikah itu berasal dari tabungan! Dan bukan dari tanggungan!
Kalian mengerti kan maksud kata- kata tanggungan disini? Aku tak ingin ia meminjam hanya untuk menikahi ku!
Aku tak ingin masa pernikahan yang seharus nya bahagia masih memiliki beban tanggungan yang entah bisa di bayarkan atau tidak! Jika semua tanggungan nya saja aku yang harus mengatasinya- apakah kalian pikir ia benar- benar akan bisa memiliki tabungan?
Tentu jika ia bisa memiliki tabung aku takkan di biarkan menjalani hubungan hingga 7 tahun tanpa sebuah kepastian. Jika ia bisa memiliki tabungan tentu saja ia takkan mengomeli ku dan marah- marah padaku hanya karena aku tak bisa membelikannya sebuah permintaan konyol! Sebuah kuota internet!
“ kenapa?” heran direktur.
‘ kenapa ia tampak sesemangat itu? ia senang aku tak memiliki niat untuk menikah atau karena pijatanku menyembuhkan rasa lelahnya?’ batinku.
“ ia memang tipe yang asyik untuk di ajak berkencan, namun untuk ber- rumah tangga aku rasa dia sendiri belum siap.” ucapku.
“ belum siap? Tapi umurnya sudah termasuk tu erm..., maksudku matang.” ucap Direktur.
‘ maksudnya; Tua?’ batinku tertawa.
“ ya, memang. Dia sendiri sering mengajak saya menikah- tapi saya selalu menolaknya. Dia memang sudah dewasa dalam segi umur namun tidak dewasa dalam bersikap, anda bisa lihat sendiri bagaimana dia saat aku berdekatan dengan lawan jenisku- bukannya aku tak menyukai saat ia cemburu, namun ia sedikit protektif bahkan terlalu posesif. Terkadang cemburunya berlebihan, bahkan ia pernah melempar barangku sebagai pelampiasan, yah meski aku akui ia takkan melukai ku. Terkadang ia juga kerap menyalahkanku ketika mengalami masalah kenapa tak membantunya.” ungkapku.
“ dia memanfaatkanmu?” geram direktur.
Ya, tak heran, hampir semua yang aku ceritaan soal kelakuan kekasihku semuanya mengatakan jika Daniel memanfaatkan aku. Aku sendiri mulai merasa begitu.
“ tidak bisa di bilang memanfaatkan, ia biasanya menjanjikan mengambalikannya. Aku tak pernah memintanya mengembalikannya, terkadang aku hanya ingin ia mengantinya dengan mengajakku pergi ke suatu tempat- seperti kencan, namun ketika ia tak bisa dan aku menagih janjinya ia selalu menyuruhku mengertinya. Dan itu selalu setiap saat.” ucapku.
Aku membelanya bukan karena aku masih memiliki rasa perhatian padanya. Aku hanya tak ingin mengatai . karena aku sendiri tahu rasanya di katai orang lain.
“ wooo, dia pria yang sangat menyebalkan.” ucap Direktur.
“ ya.” ucapku menghela nafas berat. Tak heran jika Direktur saja sampai mengatai pria itu. Aku sendiri merasakan bagaimana menyebalkannya orang seperti itu.
“ kenapa kau er..., tak putus dengannya.”
“ inginnya.” ucapku menghela nafas putus asa.
“ kenapa tak kau lakukan? Maksudku ermm..., putus dengannya? Aku yakin kau akan mendapatkan pasangan yang lebih baik.” ucap direktu.
‘ mengapa direktur sepenasaran ini? Tak mungkin juga seorang direktur sampai sepeduli itu terhadap masalah karyawannya kan?’ batinku heran.
“ anda takkan percaya sudah berapa kali aku meyakinkan kekasihku untuk berpisah.” ucap ku terawa. Ya! Aku menertawakan keinginan tahuan Direktur. Yang tiba- tiba semangat mengetahui aku yang ingin putus dari kekasihku. Kelakuannya seolah anak kecil yang menginginkan permen.
“ kekasihmu tak mau?” heran direktur.
Seandainya ia mau berpisah denganku semuanya takkan serumit ini. Namun seandainya ia mudah untuk berpisah denganku mungkin aku juga takkan berpikiran untuk ke LN.
“ ya, meski saya bisa mengerti, waktu 7 tahun bukan hal yang sebentar bukan? Anda tahu? Aku sudah mencoba mengatakan dari yang lembut hingga kasar namun ia tak juga mengerti.” ucapku.
Ya! Tahulah makna lembut. Aku berkata terus terang penuh kehati-hatian jika aku ingin putus dari Daniel dan Kasar?
“ aku mendekati pria, berkenalan dengan lawan jenisku hanya untuk meyakinakan jika aku tak lagi ingin berhubungan dengannya.” ungkapku.
Aku menatap wajah Direktur yang seolah tak percaya aku bisa melakukannya. Apa wajahku sepolos itu hingga direktur tak percaya jika aku bisa melakukan hal yang menurutku extreme seperti itu?
“ ya...., meski aku tak nyaman dengan itu semua, aku hanya ingin kekasihku tahu jika aku ingin mengakhiri hubungan ini setelah kita berakhir tentu aku akan berhenti mendekati pria dan memilih berada di rumah- mendesign dan berkarya.”lanjutku.
‘ mengapa ia menghembuskan nafas seperti itu?’ batinku.
“ dan kekasihmu tak mengerti itu?” tanya direktur.
Oh, ayolah! Ia bukan saja tak ingin mengakhiri hubungan malah mengataiku! Mengataiku!
Itu yang membuatku memilih pergi ke LN dari pada menghadapi pria egois seperti itu.
🌸🌸🌸
Setelahnya, aku kembali ke meja kerjaku dan Direktur kembali bersenandung riang dan melanjutkan kerjanya.
‘ apakah karena pijatanku yang memang dapat menyembuhkan rasa lelahnya atau karena mendengar aku yang ingin putus dari kekasihku?’ batinku.
*
‘ ngomong- ngomong, apa yang terjadi pada pesta semalam? Rencana soal wakil direktur dan tama tidak berhasil ya?’ batinku masih merasa heran.
😮😮😮😮