
Entah bagaimana dua insan ini lebih memilih duduk di kasur sambil menikmati wine nya dalam keadaan hening. Meski terus menyesap wine nya, tampak jika ekor mata Destara menatap pada Emily yang tak juga menampilkan tanda- tanda mabuk meski telah menyesap beberapa gelas alcohol.
Tampak jika Destara menghela nafasnya.
“ kenapa? Tanya Emily.
“Em.”
“Ya?”
“ Aku menyukaimu, masih sangat menyukaimu.” Ungkap Destara menundukkan kepalanya.
“Kenapa kau masih menyukai ku? Sekarang kau adalah seorang direktur, pasti banyak para wanita yang secara sukarela mengantri untuk tidur dengan mu.” ungkap Emily memancing.
“Kau tahu, Em? Aku datang bukan untuk memamerkan jika aku kini pantas bersanding denganmu karena sekarang aku juga seorang direktur- karena aku tahu alasan kau menolakku karena semata bukan karena aku yang tak pantas denganmu yang merupakan putri seorang direktur. Aku tahu alasan kau meolakku karena keenggananmu. Dari sekian banyak yang mendekatimu semua semata karena tahu kau adalah seorang putri direktur- tidak ada yang benar- benar tulus mendekati mu karena ingin mendekatimu. Aku mengerti karena akupun kini merasakannya. Orang yang dulu membully ku kini menjilat kakiku dan mengelu- elukan aku.”
“Lalu? Mengapa kau mengadakan reuni ini?” Tanya Emily.
“Bukankah dulu aku pernah mengatakan jika mengalahkan dengan kekerasan takkan berakhir baik. Dan aku membuktikannya, bukan padamu namun pada orang- orang yang meremehkan aku. Aku tak perlu menggunakan kekerasan untuk membungkam mereka, aku hanya tinggal membuktikan jika aku bisa menjadi lebih baik dari mereka.” Ungkap Destara.
“Dan kini mereka terbungkam sendirinya. Tanpa aku menyelisik mereka seperti daddy mu pun aku tahu siapa saja yang menggunakan topeng dan tidak.”
“Sekarang kau benar- benar berubah.” Ucap Emily tertawa.
“Ada satu yang tak berubah Emily.” Ucap Destara menatap dengan intens mata Emily.
“Benarkah? Apakah itu?” Taya Emily tersenyum manis.
“Rasa cintaku padamu.” Ucap Destara mulai mencium bibir Emily. Emily terdiam, tak berontak, tak juga membalas. Destara menjauhkan wajahnya untuk sekali lagi menatap wajah cantik seorang Emily. Begitupun dengan Emily menatap ke dalam mata Destara mencari kebohongan dalam mata pria itu. Namun wanita itu tak menemukannya. Mata Destara sama persis seperti ketika Allan menatap Rena. Hanya ada rasa cinta saat daddy nya itu menatap mommy nya dan itulah yang terpancar di mata Destara saat ini.
“ tapi jika kau tak menyukaiku..” ucap Destara menggantung karena Emily menutup mulut Destara dengan telunjuknya.
“ bisakah kau menghentikan kebiasaan suka menyimpulkan seenaknya?” ucap Emily geram.
“ ya?’ heran Destara.
“aku diam bukan berarti aku tak mau, aku tak membalas bukan berarti aku tak menyukai ciumanmu.” ucap Emily memelan di akhir kata- membuat Destara hanya membulatkan matanya.
“ aku juga menyukaimu, sudah sedari awal aku mengenalmu.” ungkap Emily.
“ ap? Tapi dulu aku sangat gendut!” ucap Destara terkejut.
“ jadi itu sebabnya kau merubah penampilanmu?” tanya Emily.
“ ya...” ucap Destra mengusap tengkuknya.
“ apa menurutmu cinta sejati akan memandang rupa?” tanya Emily. Destara tak menjawab.
“ tapi... mengapa kau menolakku?” tanya Destara.
“ kalau kau masih ingat- aku tak menolakmu, aku hanya terdiam dan kau menyimpulkan jika aku tak menerimamu.” ungkap Emily- membuat Destara membulatkan matanya.
“ ta.., tapi kau bahkan tak mengkonfrimasi kata- kataku.” ucap Destara.
“ karena aku tak tertarik berkencan, kau tak lupa kan? Saat itu aku masih 15 tahun?” tanya Emily.
“ ja.., jadi..” ucap Destara menggantung.
“ hem?” tanya Emily.
“ apa kau akan menerimaku saat aku menyatakan perasaanku lagi padamu, Em?” tanya Destara.
“ bertanyalah pada Daddy ku, boleh tidaknya aku berkencan dari keputusan Daddy.” ungkap Emily.
“ aku harap daddy mu tak se-arogant mertua- mertua di film.” ucapan Destara membuat Emily tertawa.
Destara hanya diam menatap Emily yang tertawa.
“ kenapa?” tanya Emily.
Destara tak menjawabnya malah mencium kembali Emily dan tampak jika wanita itu mulai membalas Ciuman Destara meski terasa sedikit kaku.
“ kau cantik, senyumanmu lebih cantik lagi, bolehkah senyum ini hanya untukku?” ucap Destara mengelus bibir Emily.
“ kau sekarang pandai merayu. Sudah berapa banyak wanita yang kau rayu, hem?” tanya Emily.
“ hanya kau seorang.” ungkap Destara.
“ benarkah? Kau tampak sangat pandai berciuman.” ungkap Emily.
“ insting seorang pria- mungkin.” ucap Destara mulai mencium Emily kembali- sedikit ***** dan mulai mendorong tubuh Emily agar berbaring. Tampak jika Destara menaruh pelan gelas winenya yang telah kosong dan meraih gelas Emily juga yang telah kosong- menaruhnya ke nakas samping tempat tidur.
Destara menjauhkan wajahnya kembali meski tubuhnya kini telah mengukung Emily.
“ bolehkah?” Tanya Destara dengan suara parau. Entah karena alcohol atau karena suasana yang mendukung- Emily memilih menggangguk. Melihat Emily yang menggangguk Destara mulai mencium kembali wanita yang sedari dulu sudah ia cintai.
0o0
hai hai hai maau si penulis amatir ini jarang up jangan membully author an tetap setia aca karya author ya >_<
kalau ga nanti nyesel soalnya habis ini ada ++ nya ^_^