
Di satu Sisi, Berta yang sedang tugas keluar tak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang sedang menggambar ditaman. Karena tertarik, Berta mendekati wanita yang terpaut hanya 2 tahun lebih tua dengan dirinya itu.
“ kenapa kau menatapku seperti itu” ucap wanita itu yang tahu jika Berta menatapnya.
“ wuah, apa kau memiliki mata di punggungmu?” ucap Berta yang terkejut akan pertanyaan wanita itu tiba- tiba, ia bahkan tak melihat wanita itu menengok kearahnya.
“ bayanganmu menghalangi Matahari.” ucap wanita muda itu.
“ maaf, aku hanya tertarik dengan gambarmu.” ucap Berta.
“ tak ada yang istimewa dengan gambarku.” ucap wanita itu.
“ memang, tapi tak ada yang lebih berharga dari bisa melakukan apa yang diinginkan.” ucap Berta mengenang.
“ apa kau tidak bisa melakukan apa yang kau inginkan?” tanya wanita itu.
“ dari dulu, peraturan keluarga ku sangat keras, apa yang kuingini dan kulakukan semuanya di atur, aku sangat suka seni namun ibuku tidak memperbolehkanku masuk ke sekolah seni dan mengharuskanku sekolah di sekolah Negeri.” ucap Berta jujur- karena memang begitulah yang di lihat dari mata wanita itu.
“ namaku, Emily, kau bisa memanggilku; Em.” ucap wanita itu.
“ aku Roberta, wanita keturunan Indonesia, kau bisa memanggilku; Berta.” ucap Berta menerima salam dari Emily.
“ Indonesia? Mommy ku juga berasal dari Indonesia.” ucap Emily tertarik dengan cerita Berta.
“ wah? Apa ku bisa berbahasa Indonesia?” tanya Berta.
“ sedikit.” ucap Em dengan malu.
“ ngomong- ngomong sedang apa kau disini?” lanjut Em.
“ aku sedang tugas luar. Untuk inspeksi lapangan.” ucap Berta jujur.
“ oh? Kau bekerja dimana?” tanya Em.
“ Ash- group.” ucap Berta.
“ Ash- Group? Itu perusahaan daddy- ku.” ucap Em tak menyangka.
“ benarkah? Kau anak dari pemilik Ash- Group?” tanya Berta tak percaya.
“ ya tapi sekarang, adik kembarku yang meneruskannya.” ucap Em.
“ adik kembar? Kau memiliki saudara kembar?” tanya Berta.
“ tak ada yang merepotkan jika kau berusaha. Dan yang pasti Daddy mu pasti senang jika anaknya meneruskan perusahaannya.” ucap Berta tersenyum.
“ kau benar, tapi daddy memang tak pernah memaksaku untuk meneruskan perusahaannya, ia ingin yang terbaik untuk anak- anaknya dan satu- satunya yang memiliki bakat bisnis sepertinya hanya lah adik kembarku, meski terkadang aku suka membantu adik kembar ku itu.” ucap Em tersenyum.
“ kau beruntung memiliki orang tua dan keluarga yang menyayangimu.” ucap Berta sendu.
“ apa orang tuamu tak menyayangimu?” heran Em.
“ ibuku telah tiada, dan aku memang masih memiliki keluarga, namun hubunganku dengan adikku tak begitu baik dan ayahku sekarang memilih untuk menghabiskan masa tua nya di kampung halamannya.” ucap Berta mengenang.
“ kau hanya memiliki adik?” tanya Emily.
“ aku memiliki kakak laki- laki, namun dia telah menikah dan memiliki keluarganya sendiri, tak mungkin aku merepotkannya dan keluarga kecilnya.” ungkap Berta.
“ kenapa kau tidak dekat dengan adikmu?” heran Em.
“ entah? Bagaimana pun ia anak bungsu jadi tak heran ia menjadi sedikit egois, terkadang dia memang suka iri ketika aku dekat dengan ayah atau mendiang ibuku.” ungkap Berta.
“ itu tak ada hubungannya, aku juga memiliki adik lainnya selain adik kembarku dan dia tak pernah berbuat semenyebalkan itu padaku.” ungkap Emily tak terima.
“ atau mungkin juga karena kesalahanku di masa lalu?” ungkap Berta mengingat- ingat.
“ apa itu?” heran Emily.
“ dulu, aku pernah menemukan beberapa berkas dan ratusan Video men to men milik Adikku, karena aku merasa geli aku menghapus semua berkas adikku yang isinya ratusan itu.” ucap Berta tanpa beban.
“ uwah, adikmu menggelikan.” ungkap Emily merinding mendengar kata- kata video men to men yang di katakan Berta.
“ ya, mungkin juga karena itu, ibarat buah simalakama, jika mengadu ia malu, namun jika tak mengadu tentu ia akan kesal setengah mati, folder yang aku hapus hampir ribuan belum video dan sebagainya.” ungkap Berta duduk di samping Emily.
“ ok, sekarang aku tahu kenapa adikmu membencimu.” ucap Emily masih merasa geli.
“ ngomong- ngomong kau lucu, kau mau berteman denganku?” ungkap Emily.
“ tentu, sayangnya aku harus kembal kekantor, jadi aku akan meninggalkanmu sendiri disini.” ucap Berta melihat jam nya.
“ oke, nanti aku akan kekantor dan menyapamu.” ucap Emily melambai pada Berta yang tampak menjauh menuju angkutan umum.
0o