
“ bagaimana pestamu?” ucap Ray dengan nada riang kepada Andre.
“ kau tidak lihat bagaimana kusutnya wajahku?” ungkap Andre bersungut- sungut.
“ kenapa? Harusnya kau senang aku tak datang ke pesta itu sehingga banyk orang yang akan mengira kau aku.” ungkap Ray.
“ pertama. Itu pesta perusahaan, para karyawan kita sudah tahu jika aku itu Andre- sang wakil direktur.” ungkap Andre menunjukkan jari telunjukknya.
“ lalu? Meski karyawan kita tahu kau itu hanya wakil direktur tetap banyak wanita yang bisa kau goda.” heran Ray.
“ kedua.” ucap Andre terjeda.
“ yang menjadi bintang kemarin itu, adik juga daddy mu.
Aku tak menyangka jika Erick akan menjadi ancaman juga selain dari Uncle Allan dan dirimu.” ucapan Andre membuat Ray tertawa.
“ ooou, kurasa kau harus jadi anak dari Daddy Allan juga mommy Rena dulu agar bisa menyaingi kami.” canda Ray.
“ sialan.” ucap Andre tak bisa membalas karena memang harus di akui jika anak- anak dari Rena dan Allan semuanya tampan juga cantik.
“ dan ketiga, sepanjang hari kemarin mommy ku menyuruh pengawas untuk mengawasiku agar tak mengacau di pesta yang di adakan Aunt Rena.” ucap Andre kesal.
“ maksudmu wanita yang di depan? Aku pikir itu adikmu?” ucap Ray menatap Tama yang menunggu di depan ruangan Andre.
“ kau tahu sendiri mommy ku hanya punya satu anak dan itu aku!” ucap Andre kesal.
“ jangan marah, bro. Harusnya kau senang karena yang mengikutimu wanita.” ucap Ray tertawa.
“ kalau cantik, aku akan dengan senang hati di ikuti.” ucap Andre membuang mukanya.
“ aku pernah di ceritakan soal kisah Aunt Patricia dan Uncle Denny.” ucap Ray menyentuh dagunya.
“ lalu?” tanya Andre.
“ kau tahu istilah geting nyanding?” tanya Ray pada istilah daerah di Indonesia itu.
“ maksudmu, benci jadi cinta?” ungkap Andre.
“ ehem. Jangan sampai kau menjilat ludahmu sendiri, bro.” ucap Ray tertawa meninggalkan Ray.
“ in your dream.” ucap Andre dengan geram.
“ hai Tama!” sapa Ray.
“ halo tuan Ray.” ucap Tama menundukkan kepalanya.
“ tak perlu sesopan itu.” ucap Ray.
Ray menatap Tama dari ujung kaki sampai ujung kepala dan terpikir ide gila yang akan membuat sepupu sekaligus sahabatnya itu menjilat ludahnya sendiri.
“ bagaimana menurutmu soal Andre?” ucap Ray dengan berbisik- setelah melihat Andre yang sibuk dengan monitornya.
“ dia?” ucap Tama ragu.
“ tak apa- apa, ia takkan mendengarmu.” ucap Ray meyakinkan.
“ ia laki- laki teregois yang pernah aku temui, tuan. Tuan Andre juga sangat playboy. Jika bukan karena Mrs Patricia, saya juga takkan mau mengikuti pria sepertinya.” ucapan Tama membuat Ray terpingkal- pingkal.
‘ akan seru jika casanova itu jatuh cinta pada wanita polos ini.’
“ erm..., Tama apa kau tahu nanti malam akan di adakan pesta bisnis yang di selenggarakan perusahaan Long?” tanya Ray.
“ iya, Tuan? ” tanya Tama.
“ apa kau di tugaskan mengawasi Andre di sana?” tanya Ray.
“ iya.” jawab Tama seadanya.
“ apa kau akan menemaninya dengan pakaian itu?” ucap Ray menunjuk baju kebesaran Tama.
“ i.., iya, Tuan. Maaf saya bukan dari kalangan orang mampu- saya yatim piatu, tuan dan kebetulan hanya ini yang tersisa di gudang penyimpanan pakaian bodyguard.” ucap Tama malu.
“ apa Aunt Patricia tak memberimu uang saku?” tanya Ray.
“ Saya tak mungkin merepotkan Mrs Patricia lagi, Tuan. Saya sudah cukup berterima kasih karena beliau sudah merawat saya, memberi tempat tinggal bahkan menyekolahkan saya juga memberiku pekerjaan di tempat Mr Alan. “ ucap tama membungkuk.
“ begitu?” ucap Ray, setelahnya ia melihat Berta yang hendak memasuki kantor Ray- setelah sebelumnya membuatkan kopi pagi untuk Ray.
“ Berta.” panggil Ray.
“ ya, tuan?” heran Berta mengampiri Ray.
“ kau tahu tentang pesta bisnis yang akan di adakan nanti malam?” tanya Ray pada Berta.
“ rencananya aku akan memberikan undangan itu pada Andre, biar dia yang menghadiri pesta berkedok bisnis itu.” ucap Ray.
“ begitu? Biar saya akan mengatur ulang jadwal anda.” ucap Berta menekan tabnya.
“ lalu setelah ini akan ada jadwal apa lagi?” tanya Ray masih di depan Tama.
“ tidak ada, hanya menandatangani berkas di kantor, makan siang, kembali ke kantor dan rutinitas kantor lainnya.” ucap Berta.
“ bagus, kau ajak Tama untuk memilih baju.” ucap Ray menunjuk Tama.
“ ha?” heran Berta dan Tama bersamaan.
“ dia, Tama, wanita yang di utus mommy nya Andre untuk mengawasi wakil direktur kita.” ucap Ray memperkenalkan Tama.
“ lalu? Apa hubungannya dengan memilih baju?” heran Berta.
“ ya, kau tahukan? Andrea yang akan menghadiri pesta dan pastinya Tama akan selalu mengikuti dia. “ ucap Ray.
“ lalu?” heran Berta.
“ kau temani ia berbelanja, pilihkan baju yang pas untuknya agar mempesona, juga beberapa kosmetik.” ucap Ray menyerahkan black card. Kartu kredit tanpa batas.
“ apa? Tidak usah tuan.” Tama akhirnya ikut bersuara.
“ kau tak mungkin kan ikut ke pesta dengan baju ke besaran seperti itu.” ucap Ray.
“ be.., begitu, kalau begitu, miss, mungkin kita lebih baik beli kemeja kerja dan jass saja tak usah dengan kosmetik.” ucap Tama merasa tak enak.
“ tidak! Berta, belikan ia satu set gaun dengan stiletto yang akan menunjang tinggi badannya, beberapa perhiasan juga cosmetic.” ucap Ray.
“ apa?” heran Berta juga Tama. Melihatnya Ray mengajak Berta untuk masuk ke ruangannya yang kedap suara.
“ kau tahu tabiat Andre- kan?” ucap Ray setelah menutup pintunya ruangannya yang berada di sebelah ruangan Andre.
“ er.. menurut yang saya dengar ia seorang perayu wanita.” ucap Berta setelah mengingat berbagai rumor tentang Andre.
” yap, dan wanita yang di suruh Aunt Patricia- mommy dari Andre itu sangat berkebalikan dari selera Andre.” ucap Ray.
“ apa anda ingin membuat tuan Andre jatuh cinta pada Tama?” heran Berta. ia sudah tahu jika Andre memiliki seseorang yang di tugaskan mengawasinya oleh wakil direktur terdahulu yaitu ibu dari Andre itu sendiri.
“ tepat! Runtuhkan keyakinannya yang mengatakan ia takkan jatuh cinta pada wanita seperti Tama.” ucap Ray.
“ Ap? Wah, Tuan Andre sangat keterlaluan mengatai wanita itu, menurutku ia cukup manis jika di dandani.” ucap Berta menatap Tama dari balik ruangan berdinding kaca.
“ kau juga setuju kan? Aku percaya pada kemampuanmu dalam mendadani dia, dan buat sang casanova itu menjilat ludahnya sendiri.” ucap Ray menyerahkan balck cardnya.
“ apa pinnya?” tanya Berta.
“ erm..\, ****.’ ucap Ray jujur.
“ kenapa anda semudah itu memberikan pinnya kepada saya? bagaimana jika saya menggunakan uang dalam black card ini untuk kebutuhan saya?” ucap Berta tak percaya.
“ aku percaya padamu.” ucap Ray.
“ lagi pula jika kau ingin membeli sesuatu beli saja pakai itu.” ucap Ray.
“ te.., tentu saja saya takkan melakukan hal itu, tuan. Gaji saya saja sudah cukup besar- menurut saya, atau anda bisa memotong gaji saya- nanti jika saya menggunakannya.” ucap Berta.
“ sudahlah- cepat pergi menggunakan mobil kantor, sebelum hari mulai siang.” ungkap Ray.
“ eh? Tapi saya tidak bisa menyetir.” ucap Berta.
“ kau naik apa jika ke kantor?” heran Ray.
“ jalan, atau mungkin bus?” ucap Berta jujur.
“ kau tak memiliki motor?” heran Ray.
“ saya tak bisa naik motor, sepeda saja tak bisa.” ucap Berta tertawa kikkuk.
“ baiklah, karena jadwalku hanya menandatangani berkas, aku akan menemani kalian sekalian makan siang di luar.” ucap Ray memakai jas nya.
“ kalau begitu saya kembalikan black card anda.” ucap Berta menyerahkan Black cardnya.
“ tak perlu, kau juga pakailah untuk membeli keperluanmu.” ucap Ray.
“ saya bilang tak perlu, tuan.” ucap Berta menaruh Black card Ray ke kantong belakang Ray.
Ray tak menyangka jika Berta akan memaksa mengembalikan black card kepada Ray, ini kali pertama ray menemui wanita yang tak suka di berikan uang. Ray menatap punggung Berta yang keluar ruangan Ray dan mengajak Tama berbicara. Ray tersenyum sebelum akhirnya menyusul ke dua wanita itu.
0o