
Hari pertama aku bekerja di LN aku sedikit kesusahan, tak lain dan tak bukan karena aku tak terlalu fasih berbahasa inggrish meski aku tahu apa yang mereka ucapkan. Beruntung aku berkenalan dengan sesama teman magang yang juga berasal dari Indonesia. Dari dialah aku sedikit bisa berbahasa international tersebut.
Itu sebabnya, saat aku melihatnya di marahi, aku yang berasal dari Devisi perancangan menyediakan diri bertanya mengapa Alea- temanku yang berasal dari Devisi perancangan itu sampai di marahi.
Ternyata Alea merusakkan komputer yang di gunakan untuk mengajari temanku itu. Tidak bisa di sebut rusak juga, hanya tiba- tiba error padahal data yang sudah senior nya buat belum di save sama sekali. Beruntung aplikasi yang di gunakan sangat aku kuasai, itu sebabnya dengan secepat kilat aku bisa membetulkan data yang hilang dan mengetik ulang apa yang di tulis oleh senior itu.
Disana aku akhirnya sadar apa itu bakatku. Seni adalah duniaku, disanalah aku menemukan kebebasan namun aku menyadari jika pekerjaan ini adalah bakatku.
Itu sebabnya, mengetahui bakatku membuatku tidak di sukai, sebagai anak baru, tentu banyak senior yang tak suka akan pujian yang di berikan padaku, itu sebabnya tampak jika mereka sengaja memberikan banyak pekerjaan kepadaku yang terbilang pegawai baru ini.
Dari pada banyak bisa di bilang ini keterlaluan, aku bahkan tak bisa melihat ke arah depan karena banyaknya dokumen yang harus aku serahkan ke atasan ku yang ada di lantai 30.
Beruntung ASH group tidak memakai sistem pembeda untuk lift bawahan atau atasan.
“ tolong lift 30.” ucapku pada seseorang, laki atau perempuan? Entahlah, aku tak dapat melihat dengan siapa aku berbicara karena banyaknya dokumen yang harus aku bawa.
Aku sama sekali tak mendengar ada jawaban meski aku tahu orang itu memencet tombol, mungkin tombol yang ku minta dengan lantai tujuannya. Ya, biar bagaimana pun ini adalah LN dan bukan Indonesia yang mengenal kesopanan; jika berbicara harus menjawab.
“ kau mau ke lantai berapa?” tanya ku basa basi.
“40.” jawabnya. Astaga nada bicaranya ini dingin sekali.
“ begitu? bisakah kau membantuku membawakan berkas ini? Ini sungguh berat.” sejujurnya, aku bukanlah wanita yang manja, namun dari suara yang aku dengar- dia ini seorang pria kan? Apa ia tak bisa berbasa basi membantuku membawakan sebagian bawaanku? Pria ini tidak gentlemen sama sekali ya? kesalku.
Setidaknya, tanpa menjawab pria itu masih mau membawakan setengah barangku. Ini mngingatkanku akan Daniel. Jika pria itu, mungkin ia malah akan meminta aku membawakan barangnya sementara pria itu memainkan gadget nya. Yang alasan membalas pembeli online nya atau sebagainya.
Jika kalian berpikir ia mendua, sayangnya tidak. Jika ia benar- benar mendua aku akan menggunakan alasan itu untuk berpisah darinya dan tak perlu bersusah- susah ke LN.
Ia tipe setia, sayangnya sifat pemaksanya itu yang membuatku jengah.
Sudahlah dari pada mengingat pria tua itu lebih baik menatap ke arah pria yang sudah membantuku.
“ aku Roberta Ayu, kau bisa memanggilku Berta.” ucapku berbasa basi. Setelah di lihat lagi, pria ini cukup tampan dan gagah dengan tinggi semampai dan tubuh yang tegak yang aku yakin pria itu lebih tinggi dari pada Daniel.
“ aku.., “
“ kau?” kenapa untuk menyebutkan namanya, ia tampak seperti berpikir begitu? Apa ia mengalami amnesia hingga tak mengetahui namanya sendiri? Batinku.
“ Rick, ya, namaku Rick.”
“ Rick? Aku mau bersalaman denganmu sayang aku masih membawa barang berat ini.” canda ku. tak bisa di sebut bercanda- juga, jika aku bersalaman dengan pria itu dapat di pastikan jika aku akan menjatuhkan dokumen di tanganku.
“ tak apa.” ucap Ray, membalas senyum Berta.
Oh, seandainya ia sedikit ramah dan membalas ucapanku ia akan mendapat point plus, senyunya cukup menawan. batinku
“ apa kau baru bekerja di perusahaan ini?” tanya pria itu.
“ hem, begitulah. Aku baru sebulan bekerja disini.” ucap ku jujur.
“ ooo..”
“ Erm.., Berta.” panggil pria itu.
“ ya?” tanya Berta.
“ apa kau tahu siapa direktur utama di perusahaan ini?” tanyanya.
“ erm...?” ucapku berpikir. mengingat. berpikir. Aha!
“ yang aku tahu, ia masih muda namun sudah memiliki prestasi, tampan dan di sukai hampir seluruh pegawai di perusahaan ini.” ucap ku mengingat kepribadian Allan Ashton. Meski yang aku dengar setelah tn. Allan pensiun- anak nya lah yang meneruskan menjadi direktur perusahaan ini. Sayangnya aku tak mengikuti berita politik dan aku tak terlalu tertarik tentang siapa dan bagaimana rupa direktur sekarang. Semua yang aku ucapkan berdasarkan opini yang aku dengar dari perbincangan teman- teman kantor.
“ apa kau tak tahu wajahnya?” dari pada tak tahu aku lebih tak peduli. Batinku.
“ tidak dan tak ingin tahu.” ucapku jujur.
“ kenapa? Kau tidak ingin dekat dengan beliau dan membuatmu gampang naik tingkat?”
‘ sayangnya aku tak tertarik seperti itu, memiliki penghasilan, bertahan dalam pekerjaan ini dan yang pasti menghindar dari kekasihku itulah alasan aku bekerja.’ batinku.
“ bagiku, hubungan antara aku dan para petinggi itu bagaikan langit dan bumi, aku tak kan pernah berharap jika aku sampai dekat dengan para petinggi itu. lagi pula aku ingin naik tingkat bukan karena dekat dengan siapapun, melainkan karena usahaku sendiri- karena aku memang layak untuk naik tingkat.” ucapku.
‘ lagi pula jika hanya karena aku di puji saja aku sudah di bully, bayangkan jika aku naik tingkat karena dekat para atasan di ASH group? Bisa- bisa akan ada racun di makanan ku.’ batinku takut.
“ aku dengar Direktur itu seorang pria yang tampan.” perasaanku saja atau memang pria ini sedang memuji dirinya sendiri? Kenapa ia seolah tak terima aku tak mengenal siapa direktur utama Ash- group saat ini?
“ apa bedanya? Semua pria itu sama saja, jika tidak tampan ya rupawan.” jawabku asal. Selama ini aku memang tak dapat menilai rupa seseorang itu tampan atau rupawan.
“ aku masih heran dengan para wanita di kantorku, yang berloma- lomba ingin agar terlihat menarik agar menarik perhatian si Direktur kita, mereka bahkan selalu berias diri kapanpun di saat mereka senggang. Mereka mengatakan jika sang direktur sangat tampan, apa bedanya memangnya dengan para pria lainnya?” Bagiku wajah bukanlah segalanya, dari pada wajah, mungkin aku lebih tertarik akan sifat mereka. Mungkin itu sebabnya aku bisa menyukai Daniel dulu. Dulu, aku mengenalnya sebagai pibadi yang periang dan bebas. Namun semenjak aku mengetahui jika pia itu memiliki sifat pemaksa, entah bagaimana dari pada suka lebih banyak jengahnya. Dan yang membatku kesal adalah- dia yang tak kunjung ingin berpisah dariku namun malah mengataiku.
“ mungkin karena ia lebih tinggi dan gagah?” ucapnya membuyarkan lamunku.
‘ kurasa ia memuji dirinya sendiri.’ batinku.
“ Apa yang menarik? Masih sama- sama manusia, sama- sama tinggal di planet yang sama? Kecuali jika direktur kita itu Alien mungkin aku baru akan tertarik untuk mencari tahu- apa bedanya para manusia bumi dengan cara hidup Alien itu.”
‘ astaga kebiasaan lama, mulutku yang tak bisa berhenti berbicara jika sudah berbicara dengan orang yang membuatku nyaman. Padahal aku juga baru mengenalnya. Lihat! Ia bahkan menahan tawanya mendengar ucapanku!
' Astaga ini memalukan!’ batinku malu.
“ ngomong- ngomong, kau dari divisi apa?” tanya pria itu. Dan tepat saat itu lift terbuka.
“ Divisi perancangan, Kau?” tanyaku melangkah keluar setelah menerima semua berkas nya kembali yang tadinya di bawa pria itu.
“ aku?” ucap pria itu, dan saat itu, pintu Lift akan menutup.
“ Aku seorang Direktur utama sekaligus pewaris Ash- Group.” ucap pria itu dengan tersenyum, sayangnya pada saat Itu pintu Lift akan menutup sehingga hanya samar- samar yang aku dengar.
‘ pria itu pandai bercanda.’ batin ku.
Atau aku saja yang salah dengar?
🌸🌸🌸
hai hai hai
suka ga?
maaf jarang upload
moga kalian ga mrninggalkan author hanya karena author jrg upload ya😊