
Senin pagi, kehidupan kantor lebih ramai dari hari lainnya, bagaimana tidak, setelah merasakan liburan, otak di haruskan kembali berpikir dengan keras. Tidak beda dengan Rena. Setelah kepulangannya ke indonesia dan harus balik ke NYC dan hanya beristirahat selama 4 jam untuk ia kembali bekerja seperti biasa.
“ Rena?” sapa Allan.
“ ya tuan?” tanya Rena.
“ kau kelihatan lelah, kau tidak apa- apa?” tanya Allan.
“ ha ha ha, saya tidak apa- apa, tuan, hanya sedikit jetlaq karena perbedaan waktu disini.” ucap Rena.
“ maaf saya tidak bisa menemani anda merayakan kelahiran anak tuan Alan.” ucap Rena menatap Allan.
“ tidak apa, aku sudah mengatakan jika kau tidak bisa datang.” ucap Allan sambil menamati berkas laporan.
‘ lagi pula jika kau datang aku pasti hanya akan di hujani beribu pertanyaan dari Alicia atau Alan.’ batin Allan yang mengenal betul sifat sahabatnya yang sangat ingin tahu tersebut.
Jam makan siang. Allan mendapatkan pesan dari informan- nya.
‘ miss Nina menunggu di cave depan kantor, ada kemungkinan ingin menemui anda atau mengajak ribut miss Rena.’ satu pesan itu membuat Allan merasa was- was. Jika yang di incarnya adalah dirinya ia bisa tidak menanggapi wanita itu, namun jika Rena…
‘ kondisi badannya sedang tidak baik, bisa gawat jika wanita itu bertemu dengan Rena, ia bisa sakit lagi seperti tempo hari lalu.’ batin Allan.
“ tuan, ini sudah jam makan siang, saya pamit kekantin.” ucap Rena membawa bekalnya hendak kekantin di seberang kantor berkumpul dengan para karyawan yang lain.
“ tunggu!” ucap Allan menghentikan Rena.
“ ya?” Rena menghentikan langkahnya.
“ ayo kita makan bersama.” ucap Allan akhirnya.
“ ya? Tapi saya membawa bekal tuan.” ucap Rena memperlihatkan bekal- nya.
“ bekalmu untukku.” ucap Allan menarik tangan Rena.
---
Mobil Allan melintas, terlihat Nina yang juga bergegas menuju motornya.
“ tuan, kita mau kemana?” ucap Rena setelah hening beberapa saat.
“ kau mau makan apa?” ucap Allan akhirnya. Pandangannya masih fokus pada jalanan didepannya.
“ tapi saya bawa bekal.” ucap Rena memperlihatkan bekalnya lagi.
“ sudah aku bilang, itu untukku. Jadi sebagai ganti- nya, biarkan aku menggantinya.” ucap Allan memaksa.
“ eh? Anda belum tentu suka masakan buatan saya.” ucap Rena hendak menolak.
“ kau yang masak?” tanya Allan menatap bekal buatan Rena. Rena hanya mengangguk.
“ aku akan makan apapun buatanmu.” ucap Allan mengalihkan ke pandangan didepannya.
“ kalau begitu…, saya mau sosis saja tuan, yang besar.” celoteh Rena, entah mengapa itu terlihat sangat menggemaskan.
“ bagaimana dengan pizza?” ucap Allan menawarkan.
“ saya hanya mau sosis tuan, anda pasti tidak pernah memakannya, itu memang biasa jadi topping tapi saya mau sosis utuh yang besar pasti enak.” ucap Rena senang.
“ kau ini anak kecil, ya?” ucap Allan tertawa.
“ tapi saya suka.” gerutu Rena. Allan hanya menamati pipi Rena yang merona karena Allan meledeknya. Dan saat mobilnya berhenti karena lampu merah, ia mendekat ke wajah Rena dan membisikkan sesuatu.
‘ apa kau mau sosis- ku? Bisa di makan tapi jangan di gigit.’ canda Allan. Allan menatap wajah Rena yang merona malu lalu melanjukan laju mobilnya kembali saat lampu sudah hijau.
( COMENT APA KEK BIAR GA SEPI BAT KAYA KUBURAN >_<)