
“ apa keputusanmu sudah tepat, Honey?” ucap ayah Rena pada Rena.
“ iya, dad. Rena merasa ini sangat tepat, setelah keluar dari Ash Group, Rena takkan mungkin melamar di perusahaan manapun, jadi buat apa Rena bertahan di sini? Lagi pula daddy- kan memang sangat ingin tinggal di rumah Mommy.” ucap rena mantap.
Melihat anaknya akhirnya ayah Rena hanya bisa pasrah menyerahkan keputusan kepada Rena. Akhirnya dengan langkah pasti Rena menuju bandara meninggalkan negara tempat ia jatuh cinta pada masa lalunya menuju tempat kelahiran mendiang ibunda- nya tercinta.
Di dalam pesawat Rena terus menatap jendela pesawat yang menampilkan keadaan suasana kota yang semakin terlihat menjauh. Tampak setitik air mata jatuh di pelupuk mata indah Rena yang buru- buru di hapus oleh Rena.
Ada hati Rena yang terluka di balik senyum palsunya.
Sejak kapan Rena jadi pandai menutupi perasaanya?
Sejak ia di sakiti oleh orang yang di cintainya? orang yang menganggap malam mereka bersama hanya sebagai permainan, orang yang tega menuduhnya. Dan orang yang juga tak kunjung menghubunginya seolah Rena hanyalah sesuatu yang tak penting.
‘ selamat tinggal.’ batin Rena menangis.
0o0
Dan sekarang saat semuanya sudah lebih tenang, disinilah Allan. Didepan rumah bercat putih khas milik Rena.
‘ apa yang harus kukatakan? ‘ maaf?’ atau ‘ aku hanya gelap mata?’’ batin Allan menyusun kata- kata di kepalanya. Ia akhirnya memencet bel, satu kali tidak dibukakan. Dua kali tidak juga di bukakan. Allan mulai emosi, pintunya di ketuk dengan keras. Karena tak juga ada yang membukakan. Allan hendak menelpon Rena, namun di luar jangkauan. Berkali- kali menghubungi- pun hasilnya selalu sama; di luar jangkauan.’ ia mencoba memencet bel kembali dan mengetuknya.
“ tuan mencari siapa?” tanya seseorang di sebelah rumah Rena. Ia melihat Allan yang terus mengetuk pintu Rena.
“ ah? Saya mencari Rena yang tinggal disini, apa ia sedang pergi?” tanya Allan pada orang itu.
“ rumah itu sudah lama kosong, tuan. Saya dengar sie pindah.” ucap wanita paruh baya itu.
“ saya tidak tahu. Sudah, ya tuan. Saya masih harus masak.” ucap wanita paruh baya itu.
‘ apa? Pindah? Pindah kemana kamu Rena?’ batin Allan, panik, terkejut, amarah menjadi satu, ia ingin marah. Apa lagi ponsel Rena tak kunjung bisa di hubungi.
“ BUAGH!!” Allan meninju dinding rumah Rena. Kenapa Rena tak memberitahunya, namun ia juga tahu Rena tak memiliki kewajiban memberi tahu Allan. Sekarang Allan bukan siapa- siapa Rena. Allan telah memecat Rena, tak ada lagi alasan Rena memberitahu Allan.
Seketika itu juga penyesalan datang, Allan menghubungi Alan, menyuruh mengerahkan semua anak buah untuk mencari Rena.
“ Alan!”
‘ ada apa Allan?’ jawab Alan dari seberang telephone.
“ cari Rena!” ucap Allan dengan nada perintah.
‘ hah?’ ucap Alan bingung.
“ CARI RENA!! CARI KEBERADAAN WANITA ITU!!” ucap Allan tak sabar, tanpa menunggu jawaban Allan menutup panggilannya. Allan bergegas menuju kantor Alan.
“ ada apa dengan Rena?” ucap Alan melihat kedatangan Allan di kantornya.
“ Rena menghilang! Aku sudah kerumahnya, tetangga- nya mengatakan jika ia sudah pindah.” ucap Allan frustasi.
“ aku sudah mengatakan jika kau harus menghubunginya, dulu.” ucap Alan menyalahkan Allan.
“ AKU TIDAK PEDULI, ALAN!! Segera kerahkan anak buahmu, jika perlu sadap satelit pemerintah, cari keberadaan Rena di segela penjuru negeri ini!” perintah Allan dengan nada penekanan.