The Troblemaker Is My Boss

The Troblemaker Is My Boss
S2 Apartement Berta



“ pesta?” tanya Berta.


“ ya, pesta penyambutan adikku.” ungkap Ray.


“ apakah anda hanya mengundang saya?” tanya Berta.


‘ inginnya begitu.’ batin Ray.


“ tidak, semua karyawan di undang.” ungkap Ray.


“ sayang sekali saya tdak dapat ikut.” ungkap Berta.


“ ap? Maksudku.., kenapa?” ucap Ray setelah sempat memekik karena terkejut- padahal ia sudah membayangkan atas apa yang akan terjadi di pesta penyambutan Erick.


“ ayah saya baru saja datang, tak enak rasanya meninggalkannya sendiri sementara saya bersenang- senang.” ungkap Berta.


“ kau dekat dengan ayahmu, ya?” tanya Ray.


“ sebenarnya tidak, saya tiga bersaudara dan di antara saudaraku akulah yang paling berani pada kedua orang tuaku. Namun penyesalan datang saat saya kehilangan ibu saya. Semenjak itu saya memilih menghabiskan waktu dengan ayah saya- orang tua saya satu- satunya.” ungkap Berta tersenyum.


Ah.., jadi itu sebabnya ia sangat menyukai suasana keluarga Ashton? Keluarganya mengingatkan suasana rumah yang sudah lama ia rindukan. Tak heran, ibunya telah tiada, hubungannya dengan ayahnya tidak terlalu dekat- karena ayahnya menganut kepercayaan mengutamakan anak laki- laki, kakak laki- lakinya telah memiliki keluarga dan hubungannya dengan adiknya tak begitu dekat.


***


Sabtu sore, hari dimana pesta penyambutan Erick di adakan.


“ kemana Ray, Dad?” tanya Emily.


“ biarkan saja adik kembarmu itu, kurasa ia sekarang sedang berusaha menggaet wanita yang ia sukai.” ungkap Allan yang tahu Ray menghilang sesaat sebelum diadakan pesta.


Melihat Ray mengingatkan Allan saat ia masih muda dan terus menyangkal perasaan pada Rena dulu- namun di sisi lain juga terus berusaha mencari dimana gadis yang sekarang menjadi istrinya itu berada. Yang berbeda adalah; Ray dengan pasti mengatakan jika ia menyukai wanita berasal dari negara yang sama dengan Rena itu.


‘ daddy tak bisa berbuat banyak karena ini menyangkut perasaan seseorang, son. Yang bisa daddy lakukan hanya mendukungmu dan berdoa semoga kau di persatukan dengan wanita yang kau cintai.’ batin Allan menatap langit sore hari di rumahnya.


0o0


 


Apartement sederhana, menampilkan kesederhanaan orangnya.


Ting Tong! Suara bel di bunyikan.


“ siapa?” ucap suara pria.


“ lho, anda?” tanya ayah Berta.


“ anda bis memanggil saya Ray. Atasan Berta.” ucap Ray menunduk untuk memberi rasa hormat pada calon mertuanya.


“ apakah Berta ada?” ucap ray setelah memberi salam.


“ ah, ya. Berta...” ucap Ayah Berta memanggil anak perempuannya.


Berta yang menggenakan pakaian saat bekerja sungguh menampilkan pesona wanita itu, namun Berta yang menggunakan pakaian santai juga membuat Ray tak berhenti menatap wajah Berta. Tak heran, meski Berta menggenakan pakaian lengan panjang namun pakaian itu malah mencetak bentuk tubuh Berta dengan sempurna. Dada yang sekal dan pundak yang tegap, di tambah dengan celana santai yang memperlihatkan kakinya yang jenjang belum lagi rambutnya yang di ikat tinggi memperlihatkan leher panjang.


“ cantik.” ucap Ray tak sengaja.


“ eh? Emm. Makasih? Apa anda kesini hanya untuk mengatakan hal itu?” heran Berta.


“ eh.., emm. Maksudku aku menjemputmu.”ucap Ray setelah menyadarkan diri dari rasa gugup.


“ jemput?” tanya ayah Berta.


“ ya, perusahaan mengadakan pesta bagi karyawannya, jadi aku berniat menjemputnya.” ucap Ray menatap ayah Berta seolah meminta bantuan.


“ Berta, kenapa kau tidak menghadiri pesta perusahaan?” heran ayah Berta.


“ aku tidak tertarik, ayah.” ungkap Berta.


“ lho? Itu bagus untuk mempererat hubungan karyawan yang lain denganmu.” ucap Ayah Berta.


“ kalau tidak suka dengan pesta, bagaimana jika kita buat acara sendiri?” ucapan Ray membuat Berta menatapnya.


“ setidaknya kau harus menghargai aku yang sudah jauh- jauh menjemputmu.” ucap Ray. Berta mendengus kasar.


“ baiklah, aku ganti baju dulu dan mungkin berdandan.” ucap Berta masuk kekamarnya.


“ maafkan anak itu, ia tidak suka dengan suasana ramai.” ucap ayah Berta. Ray hanya tersenyum sambil mendengarkan alunan cerita ayah Berta.


Cukup lama Ray menunggu. Apa yang bagi perempuan sebentar tetap butuh waktu lama bagi pria; berdandan! Jika bukan demi wanita yang Ray sukai ia takkan melakukan hal yang membosankan seperti; menunggu.


“ Berta, jangan lama- lama berdandan, kau tak lihat atasanmu menunggu mu?” tanya ayah Berta yang enggan karena Ray sudah cukup lama berada di ruang tamu mereka.


“ tinggal menata rambut sebentar ayah!” ucap Berta membuat Ray gemas. Rasanya ingin masuk kekamar wanita itu dan membantunya berdandan.


Tak lama Berta datang dengan penampilan yang sederhana namun tetap mampu membuat Ray kesusahan menegak Salivanya, kaos lengan panjang mencetak tubuh tegapnya dengan sempurna, di tambah celana jeans panjang membuat lekuk tubuhnya terlihat indah, di padu dengan stiletto sederhana, membuat tubuhnya terlihat jenjang. Samar- samar Ray mencium bau Vanila yang dengan segera membuatnya kegerahan.


Ah..., jika tak ada ayah Berta, mungkin tanpa pikir panjang Ray akan menciptakan dunia sunyi seolah milik mereka berdua. Hanya ada bunyi kecaplan yang tercipta antara gesekan bibir mereka yang beradu di tambah nafas yang saling memberat memenuhi ruangan flat sederhana Berta.


“ tuan? Haloooo.” ucap Berta membuyarkan lamun Ray. Koreksi, maksudnya fantasi liar Ray.


“ a..., ah. Ya. Kau sudah siap? Ayo!” ucap Ray bergegas karena mengatasi rasa gugupnya.


0o0


hai! hai! hai!


maaf ga langsung up


Author bingung mau nambah kisah Erick atau Andre dulu nie buat selingan cerita.


saran dari pembaca ajh dulu dech mau nambah yang mana bagusnya. ^_^