
Jam menunjukkan jam makan siang, sementara para karyawan lain telah meninggalkan meja mereka untuk berkumpul dengan para karyawan mereka yang lain untuk makan, Rena masih setia duduk di mejanya mengerjakan document yang harus dikerjakannya.
“ kau tidak makan siang dengan karyawan yang lain?” ucap Allan melihat Rena yang tidak bersama karyawan yang lain meski sudah jam makan siang.
“ saya sudah kenyang karena tadi anda sudah mengajak saya makan setelah menjamu kepala Devisi LN, saya ingin menyelesaikan document ini saja.” ucap Rena.
“ kau tidak dijahui- kan?” ucap Allan mengingat masa lalu Rena.
“ tidak, tuan. Selain sudah kenyang, saya tidak membawa bekal hari ini, Tuan.”
“ kenapa kamu tidak beli saja?” tanya Allan. Rena hanya tertawa kering Allan yang mengerti maksudnya langsung berhenti bertanya.
“ jika kau butuh istirahat, kau bisa duduk di sofa panjang itu.” ucap Allan menunjuk sofa yang di sediakan di ruangan kerjanya.
“ tapi itu sofa untuk tamu.” ucap Rena merasa tidak enak.
“ memang, tapi hari ini tidak ada tamu dan aku sendiri sering tidur di sofa itu jika butuh istirahat, aku tidak melarangmu.” ucap Allan meninggalkan Rena sendiri di ruangannya.
Setelahnya ia mengendarai mobilnya menuju cave untuk membeli coffee hitam, menyeruput coffee hitam kesukaannya dan memikirkan apa yang baru saja di katakan sahabatnya itu. Benar selama ini ia tak pernah menggunakan cara ini untuk membuat Patricia diam, ia bisa saja membayar perempuan yang lebih cantik untuk menyamar menjadi kekasihnya, secara banyak wanita yang mengantri untuk menjadi kekasih atau untuk hanya berkencan satu malam dengannya namun tak pernah di lakukannya.
Bagi Allan cinta itu adalah perasaan yang sakral dan suci jika ia bermain- main dengan cinta, ia sendiri- lah yang akan di permainkan cinta. Hal itulah yang membuat ia menutup hatinya, ia ingin wanita yang benar- benar terbaik yang pantas di cintai lah yang menjadi kekasih hatinya. Dan ia tanpa beban mengatakan jika Rena adalah kekasihnya.
‘Padahal aku hanya ingin memastikan apakah ia merupakan ancaman atau tidak. Setelah memastikan ia bukan ancaman, mengapa aku menggagalkan rencanaku sendiri karena mengira ia ketakutan?’ batin Allan menarik nafas kasar, mengacak rambutnya menjadi berantakan. Dan setelah coffee- nya habis ia memilih untuk kembali kekantornya yang masih sepi karena memang masih jam istirahat.
Ia mendapati Rena yang tertidur dalam posisi duduk di sofa panjang, menatap wajahnya yang damai entah mengapa membuat Allan ikut duduk di sampingnya, menyingkirkan rambut Rena ke belakang telinganya. Entah apa yang merasuki Allan, ia mendekatkan wajahnya dan menciumnya pelan, sejujurnya melihat bibirnya pertama kali ia sudah ingin melahap bibir sexy Rena, namun ia masih bisa menahan hasrat- nya, namun melihat Rena yang tertidur membuat Allan ingin menikmati bibir Rena yang sedari awal sudah ingin di lahapnya ini.
Rena terbangun, secara spontan mendorong tubuh Allan.
“ tu.., tuan? Apa yang tuan lakukan?” ucap Rena menutupi bibirnya yang telah basah karena ulah Allan. Allan sendiri baru sadar apa yang di lakukannya.
“ I.. ini, ini sebagai hukuman karena telah tidur di saat jam kerja, aku memang mengatakan kau boleh duduk dan istirahat di sini namun aku tidak mengatakan kau boleh tidur di saat jam kerja.” ucap Allan sebagai alasan, ia segera beranjak dari tempatnya duduk dan duduk di kursi kebesarannya.
Allan melirik Rena sekilas, tampak wanita itu masih duduk disana, ia tidak bisa menyuarakan perasaannya karena yang sedang di hadapinya adalah atasannya. Wajahnya masih memerah dan tampak ia masih memegangi bibirnya. Setelah menormalkan deru jantungnya, ia beranjak dari tempatnya duduk dan bergegas keluar dari ruangan Allan.
“ mau kemana?” tanya Allan.
“ to.. toilet.” ucap Rena gugup. Allan terkekeh pelan melihat reaksi Rena.
“ pakailah toilet di belakangku.” ucap Allan menunjuk pintu di pojok belakang kursinya. Rena menurut dan bergegas ke toilet di belakang Allan. Allan menamati Rena melewatinya, tampak wajahnya yang bersemu memerah, jika ia belum memiliki kekasih pasti Allan akan mengira jika ini adalah ciuman pertama Rena.
Rena keluar dengan wajah yang lebih segar, kelihatannya ia habis merapikan cosmeti yang digunakannya, Allan tak percaya setelah semua yang terjadi Rena terlihat biasa saja, atau ia memang menyembunyikan apa yang sekarang ia rasakan, Allan pikir Rena akan salah tingkah atau tidak berani menatap Allan, namun Rena terlihat biasa saja bahkan terlihat mulai kembali bekerja sedia kala.
Ada perasaan kecewa terbesit entah mengapa, Allan berharap Rena akan sedikit gugup atau salah tingkah karena Allan menciumnya, ia memilih menarik nafas kasar dan menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang tempat tadi Rena tidur dan merebahkan tubuhnya di sofa panjang itu. Rena yang melihat Allan tidur di sofa itu mendekati Allan.
“ tuan?” panggil Rena pelan.
“ hem?” jawab Allan malas, ia memilih tetap memejamkan matanya.
“ apa tuan lelah?” tanya Rena. Allan tidak menjawabnya.
“ Anda mau saya pijat?” ucap Rena lagi.
“ apa yang bisa tangan kecilmu lakukan? Aku yakin jika kau yang memijat aku takkan bisa merasakan apa- apa.” ucap Allan mulai membuka mata.
“ bagaimana jika saya memijat wajah anda biar rilex.” ucap Rena, ia melihat wajah Allan yang kusut dan mengira jika boss- nya itu stress memikirkan pekerjaan.
“ baiklah jika kau memaksa.” ucap Allan, Rena mulai memijat kepala Allan dengan hati- hati dan memijat wajahnya. Allan tak menyangka jika tangan Rena sangat pandai memijat dan perasaannya menjadi rileks kembali, membuat Allan dalam sekejap tertidur karena merasakan di pijat oleh Rena. Melihat boss- nya telah tertidur, Rena kembali ke meja- nya dan ingin menyelesaikan pekerjaannya.
“ apa aku menyuruhmu berhenti?” ucap Allan tiba- tiba.
“ aku tidak mungkin tidur ketika bekerja, Rena. Aku memang memejamkan mataku tapi aku tidak pernah benar- benar bisa tidur ketika bekerja.”
“ anda benar- benar orang yang berkompeten, anda pasti stress menghadapi perusahaan ini sendirian.” ucap Rena mulai memijit Allan lagi.
“ kelihatannya kau juga sangat pandai memijit, apa kekasihmu menyukai pijitanmu?” ucap Allan penasaran.
“ anda tahu saya memiliki kekasih?” ucap Rena terkejut.
“ sudah jawab saja pertanyaanku.”
“ ba.., baik. Kekasih saya memang suka saya memijitnya, namun ketika saya meminta untuk ia pijit ia selalu beralasan padahal saya juga lelah dan sesekali ingin dipijat.”
“ kerja apa kekasih- mu?”
“ dia? Dia hanya kerja melalui daring.” ucap Rena. Allan tak menjawab apapun lagi, dan memilih menikmati pijatan Rena.
‘ fyuh, dari pada bekerja sebagai seketaris harusnya ia bekerja di SPA saja, ia pintar memijit. Tapi kalau ia bekerja di SPA aku harus membayar untuk merasakan pijatannya, sie.’ batin Allan.
“apa anda sering menghukum karyawan yang tidur seperti tadi?” ucap Rena setelah menimbang.
“ apanya?”
“ seperti yang anda lakukan tadi, mencium. Apa anda sering menghukum karyawan wanita disini dengan menciumnya?” heran Rena. Allan terdiam, tidak mungkin ia mengatakan jika hanya Rena yang baru ia cium.
“ bagaimana denganmu?” ucap Allan mengalihkan.
“ ya?”
“ apa kau sering berciuman dengan kekasih- mu? Kau bahkan terlihat biasa saja ketika aku menciummu.” ucap Allan penasaran.
“ ha ha ha, tidak, anda yang pertama.” ucap Rena sedikit gugup, tertawa kering.
“ ha?”
“ anda yang pertama, tuan. Saya memang memiliki kekasih, namun ia mau menjadi kekasih saya untuk lepas dari mantannya dan juga mengalihkan dari seniornya yang ia suka.”
“ kau menyukai kekasihmu?”
“ awalnya tidak, tapi biar bagaimana- pun ia kekasih saya jadi saya berusaha menjadi cantik agar ia menyukai saya, tapi ia tak pernah melakukan hubungan fisik sama saya apa lagi ciuman. Mungkin karena ia masih memikirkan senior yang ia sukai.” mendengarnya ada rasa senang dari Allan yang terlintas entah mengapa.
“ tapi kau bahkan terlihat biasa saja.” ucap Allan memastikan.
“ anda mau saya terlihat seperti apa?” tanya Rena. Allan terdiam.
“ tuan, jika saya gugup atau panik, bisa- bisa kerjaan saya tidak kelar- kelar. Saya tahu anda orang yang kompeten, jadi saya mengalihkan perasaan saya.” ucap Rena akhirnya. Entah mengapa beban di hati yang sedari tadi hilang entah kemana.
“ baiklah lanjutkan kerjaan- mu. Aku sudah merasa lebih baik, terima kasih.” ucap Allan terbangun dari tidurnya dan beranjak kekursi kebesarannya. Ia melirik ke arah Rena yang juga kembali ke mejanya dan menyelesaikan document yang tinggal sebentar lagi selesai.
‘ harusnya aku menanyakan soal rasa bibirku, ngomong- ngomong pijatannya enak juga, wajahku terasa lebih fresh.’ batin Allan menyentuh wajahnya yang baru saja di pijit Rena.
“ tuan.” ucap Rena tiba- tiba.
“ ya.., ya?” jawab Allan sedikit gagap karena kaget Rena tiba- tiba memanggilnya.
“ mungkin anda harus menyisir rambut anda lagi, karena saya juga memijit kepala anda jadi rambut anda terlihat sedikit berantakan.” ucap Rena sedikit tertawa kecil. Membuat Allan buru- buru ketoilet melihat rupa- nya sekarang.