
Meminta ayahku memasak untuknya?
Yang benar saja. Apa lagi aku melihat tadi isi kulkas kosong dan aku takut jika aku yang memasak takkan sesuai dengan seleranya. Aku takut memasak racun untuknya!
Akhirnya aku memilih membelikan makanan untuknya.
Dan gilanya, ia ingin ikut denganku. Ia ingin pergi beli makanan di kampungku menggunakan baju serapi itu?
Bahkan jass kantor masih melekat di tubuhnya.
Ia akhirnya mengganti bajunya dengan pakaian biasa.
Ralat, bukan pakaian biasa. Ia sama saja dengan
ayahku yang hanya untuk keluar rumah harus mamakai baju rapi. Ia bertanya mengapa aku tertawa. Tak heran, tempat yang akan aku datangi bahkan hanya beberapa langkah, dan hanya untuk membeli sayur dan lauk saja ia bahkan memakai baju serapi seperti akan ke mall atau tempat hiburan lain. Aku saja hanya memakai baju rumahan meski masih di temani jeans karena aku tak memiliki celana yang sopan untuk keluar rumah, hanya ada celana pendek di atas dengkul, lagi pula sekarang ini direktur sedang menggunakan baju rapi, tak mungkin aku hanya memakai baju rumahan kan?
Aku hanya akan terlihat kumal.
Sesampainya di sana, banyak orang yang heran pada sosok direktur ku satu ini, tak heran sie, siapa yang takkan menyukai wajah tampan seorang Ray Ashton?
Dan hal yang paling biasa di lakukan ibu- ibu rempong adalah bergosip.
Ddlan parahnya yang menjadi bahan gosip adalah aku.
Sial!
Dan ....,
Direktur bukannya membantah malah menambah bahan obrolan mereka. Tunggu! Direktur bisa bahasa Indonesia?
Akhirnya para tetangga ku ikut membuat obrolan soal orang yang tidak ada di sini. Daniel!
Aku sedikit terkejut ketika direktur merangkul pundakku. Aku tampak geram- meski sejujurnya aku sedikit berdebar atas apa yang ia lakukan.
Daniel bahkan terkesan malu memperlihatkan kemesran di depan umum- jangankan merangkul pundak, aku memegang tanganpun selalu ia lepas.
Entah mengapa apa yang di lakukan direktur membuat perasaan hangat tersendiri buat aku.
Aku yang selalu di bandingkan dengan saudaraku yang lain- yang harus selalu menurut apa yang di katakan orang tua- yang di haruskan selalu mengalah meski aku benar- sejujurnya, aku sangat merindukan kasih sayang dan cinta.
Daniel selalu malu memperlihatkan perasaannya meski orang tahu bahwa kita berpacaran. Mungkin itu adalah salah satu dari beribu alasan aku mulai jengah padanya.
Lupakan soal itu, aku harus membawa direktur pergi atau gosip akan berjalan kesana kemari dan yang aku takutkan adalah ketika Daniel yang tiba- tiba kerumahku dan ia tahu aku dekat dengan pria ang notabene nya adalah direktur ku ini.
Ancaman terbesarnya adalah emosi nya akan menghancurkan carier ku.
“ aku akan melindungimu.” satu kata dari direktur membuat langkahku terhenti sebelum akhirnya aku memilih melanjutkan langkahku.
Senang? Tentu saja.
Aku hanya berharap jika ia ia benar- benar menepati kata- katanya. Aku hanya berharap jika Ray tidak seperti Daniel yang hanya berkata; akan melindungiku. Namun, kenyataannya? Sejujurnya, aku merasa ia selalu mengancamku dengan emosi nya.
Daniel adalah type pria yang bersumbu pendek. Type yang gampang marah akan kesalah- pahaman dan yang pasti.., menyimpan dendam.
“ jika Anda melakukan itu, saya akan mengira jika Anda menyukaiku.” ups, aku lupa memakai bahasa Formal lagi. Aku melihat Direktur terdiam, aku harap ia tidak marah dan menghukumku lagi.
Aku benci hukuman.