
Setelah mengajari aku- direktur utama langsung kembali ke meja ke besarannya. Aku melirik dari sekat kaca. Pria yang tadi konyol seolah lenyap di hadapan berkas- berkas yang di tangani pria itu. Direktur bahkan mengerjakan semua pekerjaan sekaligus. Di saat telephone celuler bertengger di telinganya- tangannya juga sibuk mengetikkan sesuatu di laptopnya sementara tangan lainnya memegang berkas yang harus di periksa dan di telitinya.
‘ apakah ia berbicara bahasa korea?’ batinku mendengar logat bahasa yang mirip dengan bahasa dari negara yang terkenal akan boyband nya.
‘ baiklah, aku harus aku menunjukkan jika aku di tunjuk untuk menduduki kursi seketaris ini bukan karena memiliki hubungan spesial dengan Direktur tapi karena kemampuanku.’ batinku semangat pada berkas baru yang akan aku tangani.
Semangat? Ya, mood ku yang sempat hilang memang kembali lagi. Selain karena untuk kali pertamanya aku mendapatkan permintaan maaf dari seseorang, aku cukup di buat kagum oleh pria yang awalnya kukenal sebagai Rick ini. Jika ia saja bisa serius di saat serius mungkin aku juga harus mengesampingkan perasaan kesalku karena telah di bohongi.
Atau mungkin sekarang aku harus rajin menonton berita politik agar tahu siapa saja para pejabat kelas atas- mengingat sekarang tugas ku adalah menemani kemana pun direktur utama pergi sekaligus menyusun jadwal untuk nya.
‘ehm?’ batinku menyadari jika sang direktur utama terus menatapku.
‘ apa ia sakit?’ heranku melihat wajahnya yang memerah.
“ tuan, anda tidak apa- apa?” heranku.
“ te.., tentu saja, tidak. Maksudku aku tidak apa- apa, apa kau sudah mempelajari tugasmu?”
‘ kenapa ia menjawab sambil gugup begitu?’ heranku.
“ ya, saya sudah mengatur jadwal sesuai yang anda ajarkan.” ucapku sambil memeriksa Email langsung dari tab yang di berikan direktur.
“ baiklah kemari, dan jelaskan!” pintanya.
“ pertama, anda ada janji temu dengan Direktur XX di lapangan Golf nanti jam 1 siang, janji temu makan dengan nona Chan- Artis yang sedang ng- Hits untuk membicarakan urusan memintanya menjadi cover produk baru kita di Resto XY lalu inspeksi lapangan meninjau Proyek cabang di Indonesia yang baru berjalan.” ucapku.
Kurasa aku memang harus menonton berita politik. Aku bahkan tak tahu siapa itu direktur XX atau nona Chan. Beruntung, di hari pertama mulai bekerja- aku hanya menyusun permintaan- permintaan yang datang sesuai waktu dan hari nya saja. Apa sebelumnya, direktur sendiri yang menerima semua permintaan ini? Aku dengar kursi seketaris selama ini selalu kosong.
‘ apa? lalu mengapa sebelumnya ia meerima janji temu bermain golf itu, jika pada akhirnya akan ia batalkan?’ heranku.
“ ap...? maksud ku, kenapa anda memberikan janji temu itu kepada pak wakil direktur? Dan membatalkan janji temu dengan direktur XX?” heranku.
“ aku tidak terlalu tertarik dengan Artis- siapalah namanya, dia pasti akan merayuku untuk menunjang namanya, sementara aku merasa tak terlalu penting hanya menemani Golf jika tak ada hubungannya dengan kerja sama pekerjaan. Bukankah masih lebih penting Inspeksi lapangan karena itu benar- benar menyangkut pekerjaan.” ucap direktur menggenakan Jaz nya. Kata- kata direktur sekali lagi membuat pandanganku padanya berubah.
“ anda benar- benar kompeten.” ucapku tersenyum.
“ tentu saja, atasan itu panutan bawahan, jika sebagai atasan tak kompeten maka jangan heran jika bawahanmu tak kompeten dan setia padamu, bertahun- tahun daddy ku mengajari hal itu, itu sebabnya meski dulu terkenal arogan, banyak karyawan yang menyanjungnya. Karena memang ia sangat kompeten pada pekerjaannya.” ucap direktur.
“ dan jangan memakai bahasa yang sopan. Pakai bahasa yang kau gunakan padaku sebelumnya saja.” pintanya.
'apa? Kenapa?' heranku.
“ tapi ini di kantor dan anda atasan saya.” ucapku. Bukankah biasanya, orang lebih suka di hormati? Mengapa ia malah memintaku menggunakan bahasa non formal? Heranku.
“ baiklah, kalau begitu jika tidak di kantor jangan memakai bahasa yang formal.” ucap direktur berjalan keluar ruangan untuk melakukan inspeksi lapangan.
🌸🌸🌸
‘ apa selama ini ia menerima semua permintaan itu karena mereka memaksanya? Hingga pada akhirnya direktur memutuskan menolaknya? Atau selama ini semua permintaan tak langsung di berikan ke tangan direktur dan hanya di sampaikan ke pada wakil direktur?Jika tidak, mengapa ia menerimanya jika pada akhirnya akan ia batalkan bahkan di lemparkan kepada wakil direktur.’ batinku bertanya- tanya.
🌸🌸🌸
Suka?