THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Waktu terus berlalu, hari berganti. Matahari berputar pada porosnya, kehidupan tetap tidak berubah. Yang tua tergantikan oleh yang muda, yang pergi hanya meninggalkan kenangan. Hitam dan putih akan tetap mewarnai kehidupan. Kehidupan terus berulang, kehidupan dan manusia. Dua nilai yang terpaksa tersingkir suatu hari nanti. Segala yang murni dan lugu kelak akan di buru dengan ketamakan berdarah panas.


Sepuluh tahun berlalu, Genzo kecil menjelma menjadi anak manusia yang ceria dan polos. Kasih sayang dan nilai nilai kemanusiaan di berikan sepenuhnya oleh Ryu dan Davira. Pesan dan kesan yang mendalam dari Siena dan Kenzi, mereka terapkan pada Genzo kecil sedari dini. Berbagai hal yang di anggap tabu oleh manusia, di berikan kepada Genzo kecil.


Ryu tidak menginginkan putranya terlahir ke dunia hanya sebagai benda dan barang dagangan. Menjadi anak yang tidak berperasaan, jiwa yang gila, dan menyakiti orang lain. Tidak! Ryu tidak menginginkan itu. Ia tidak ingin menjadi orang tua yang gila, hanya melahirkan seorang anak hanya sebagai alat untuk meneruskan hidup dari rumah tangganya, alih alih sebuah anugrah memiliki anak, tapi gagal sebagai orang tua dan melahirkan seorang robot.


Begitu juga dengan Davira. Genzo tidak hanya mendapatkan pendidikan di sekolah, tapi sebagai seorang Ibu, ia juga memberikan banyak edukasi pada Genzo kecil. Dia tidak ingin putranya memiliki gelar sarjana tapi memimiliki halusinasi dan sisa sisa dari sampah yang bernama kebaikan ruang kelas yang tak mampu menyelamatkan dirinya dan kehidupan Genzo kelak.


Dunia semakin maju dan modern, dunia yang berbasis internet dan berbagai macam isu di hembuskan lewat media sosial oleh para mafia elit global. Membuat rasa empati manusia hanga sebatas kata kata. Dan Ryu tahu betul bagaimana cara kerja mereka. Terlahir dari kegelapan, memberinya banyak penerangan.


"Ayaaah!" teriak Genzo kecil merentangkan kedua tangannya menyambut sang ayah selepas bekerja seharian di laboratorium.


"Sayang.." sapa Ryu sembari mengangkat tubuh Genzo dan memangkunya.


"Ayah, aku sudah besar. Turunkan aku, ayah!" serunya tersenyum menatap wajah Ryu.


"Kau benar sayang, ternyata kau sudah besar!" Ryu menurunkan tubuh Genzo, lalu menggenggam erat kedua tangannya masuk ke dalam rumah.


"Kau masak apa hari ini?" tanya Ryu lalu mengecup pipi Davira sesaat.


"Masakan kesukaanmu, yang biasa Ibu Siena masak." Davira tersenyum memperhatikan Genzo yang duduk di kursi meja makan.


"Baiklah, aku mandi dulu."


"Ibu lihat!" tunjuk Genzo kecil pada lehernya.


"Apa sayang?" tanya Davira menatap bercak hitam di leher Genzo.


"Ini apa Bu?" tanya Genzo.


"Oh, tidak apa apa sayang. Itu tanda, kalau kau putra Ibu dan Ayah. Jadi, kau tidak akan tertukar dengan anak manapun. Karena kau, punya tanda di leher," ungkap Davira setengah bercanda.


"Kau benar Ibu!" sahut Genzo tertawa lebar.


Davira menghela napas panjang, meski ia sembunyikan. Namun naluri seorang ibu pasti kuat. Entah mengapa beberapa hari ini ia sangat gelisah.


"Kau melamun?" tanya Ryu mengejutkan Davira


"Ah tidak, aku hanya memperhatikan putra kita," jawab Davira berbohong.


"Kau jangan berbohong, aku tahu kau tidak bisa bohong. Katakan ada apa?" tanya Ryu memaksa lalu duduk di kursi. Sesekali ia mengusap puncak kepala Genzo.


"Tidak apa apa, mungkin aku terlalu menyayangi kalian. Sampai sampai aku berpikiran yang tidak tidak," jawabnya lalu berdiri dan mulai menyiapkan makan malam untuk mereka.


"Aku juga merasakan yang sama, Davira," ucap Ryu dalam hati.