
Sesampainya di halaman rumah sakit terdekat. Kenzi dan yang lain turun dari atas mobil. Setengah berlari Kenzi menggendong Siena memasuki rumah sakit, dan membawanya langsung ke ruang UGD.
"Tuan, kau tidak boleh masuk" Suster mencegah Kenzi saat ingin menemaninya.
"Tapi Sus, dia istri saya!" Kenzi bersikeras ingin masuk ke dalam ruangan menemani Siena.
"Maaf Tuan." Suster terus mendorong tubuh Kenzi keluar ruangan.
"Ayah, tenanglah." Angela menarik tangan Kenzi dan membawanya keluar dari ruangan.
"Kenzi, kau harus tenang. Aku yakin Siena baik baik saja." Yu merangkul bahu Kenzi dan menenangkannya. "Duduklah."
Kenzi duduk di kursi ruang tunggu di dampingi putra dan putrinya. Mereka saling berpelukan satu sama lain menunggu dengan harap harap cemas. Dalam hati terucap doa yang di sematkan untuk Ibu tercinta.
"Kau wanita hebat di jiwaku yang lemah ini, menyayangiku tanpa batas. Perempuan terbaik, sosok ibu di kerajaanku. Yang selalu menemani lika liku hidupku. Tuhan, berikanku kesempatan, aku mohon." Batin Kenzi, menutup mata mengeratkan hatinya. Bahwa semua akan baik baik saja.
"Ibu..aku mencintaimu, terima kasih untuk semua waktu dan lelahmu.." ucap Ryu dalam hati, bulir air mata menetes di sudut netranya.
"Ibu..tanpa lelah kau melayaniku, tak terpikir lelahmu terus berjalan diantara duri duri. Kaulah malaikat pelindungku Ibu...maafkan aku.." Jiro menggigit bibir bawahnya, penyesalan semakin mendera hatinya. Sesak memenuhi ruang batin, takut akan kehilangan yang besar.
Sementara Angela hanya menangis memeluk suaminya, berharap semua akan baik baik saja. Tidak ada yang tenang, semua khawatir. Mereka larut dalam kenangan masa lalu bersama Siena. Suara tawa, canda, dan peluru berdesing di telinga. Suara ledakan dan jeritan masih terngiang di telinga mereka. Hingga tanpa terasa satu jam sudah mereka menunggu, hingga akhirnya suara pintu ruangan terbuka dari dalam. Kenzi dan yang lain langsung berdiri menghampiri Dokter yang berdiri di ambang pintu ruangan.
"Dokter! bagaiamana dengan istriku?!" tanya Kenzi jantungnya berdebar debar menunggu jawaban dari Doker.
"Pasien berhasil melewati masa kritisnya, tapi-?"
"Tapi apa Dokter-?" potong Kenzi sudah tidak sabar.
"Pasien masih belum sadarkan diri." Dokter menarik napas panjang.
"Boleh kami masuk?" tanya Kenzi lagi.
'Silahkan tuan."
Kenzi dan yang lain masuk ke dalam ruangan. Menatap sedih pada Siena yang terbaring dengan alat alat medis terpasang di tubuhnya. Kenzi menarik kursi besi lalu duduk di atas kursi. Menggenggam erat tangan Siena tersenyum samar, mengecup perlahan tangan Siena.
"Sayang, kau harus sembuh."
"Ayah, Ibu pasti baik baik saja." Ryu berjalan menghampiri Siena dan memperhatikan semua alat alat medis. Sebagai Dokter ia tahu apakah kondisi Siena dalam keadaan berbahaya atau tidak. "Ibu pasti sembuh Ayah!'
Setelah mendengar penjelasan dari Ryu, mereka semua bisa bernapas dengan lega. Jika Siena baik baik saja. Ryu keluar dari ruangan menemui Davira yang masih duduk di luar menunggunya.
"Dokter, bagaimana keadaan Nyonya Siena?" tanya Davira berdiri menatap Ryu berjalan tertatih menghampirinya.
"Ibuku baik baik saja, terima kasih kau telah menyelamatkan nyawa Ibuku." Ryu tersenyum lalu duduk di kursi di bantu Davira. Ia merasa kakinya pegal dan sakit.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Davira menatap wajah Ryu yang kelelahan.
Ryu melirik ke arah Davira, "ya, aku baik baik saja."
Davira menghela napas panjang dan tersenyum sembari menepuk pelan tangan Ryu. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Semua sudah membaik." Davira berdiri.
"Kau mau kemana?" tanya Ryu mencekal tangan Davira.
"Aku sudah tidak di butuhkan lagi, sebaiknya aku pergi." Davira menepis tangan Ryu.
"Aku butuh kau!" Ryu berdiri menatap wajah gadis cantik di hadapannya.
"Serius?" Davira tertawa kecil.
Ryu menganggukkan kepalanya, lalu memeluk tubuh Davira erat.
"Tetaplah di sini, bersamaku."
Davira hanya diam tidak menjawab kata kata Ryu, hatinya bahagia Ryu sudah bisa menerimanya. Perlahan tangannya membalas pelukan Ryu.
"Terima kasih."
"Jadi? bagaimana tawaranku?" Ryu melepaskan pelukannya menggenggam erat kedua tangan Davira.
"Apa?"
"Tetap bersamaku, selamanya." Ryu mendekatkan wajahnya mencium kening Davira sekilas.
"Ya, aku mau." Davira menjawab, kepalanya menunduk.
"Terima kasih."