
Jauh di keramaian kota, markas Crips terlihat sangat sepi di luar. Namun banyak mata menatap penuh kewaspadaan di setiap sudut memperhatikan. Gangster Crips belum ada apa apanya dibanding Triad, organisasi yang memiliki 7 gangster berbeda. Dan lebih dulu berdiri dari pada Crips. Tentu saja secara strategi perangpun mereka lebih maju selangkah dari pada organisasi yang Kenzi pimpin sekarang.
Deti berlalu, menit pun berganti. Namun mereka tak kunjung datang. Satu jam berlalu mereka menunggu, tak satupun yang datang menyerang. Saat mereka memperkirakan bahwa Avram tidak datang menyerang.
Detik berikutnya, pasukan Avram datang menyerang di luar dugaan mereka. Pasukan Avram menyerang dari arah yang berbeda. Menggunakan pantai sebagai tempat mereka menurunkan pasukannya.
"DOR DOR!!
" Ahhkkkk!!"
Dua anak buah Kenzi terkena tembakan tak terduga dari arah pantai. Semua pasukan Kenzi langsung menyebar menyambut pasukan Avram.
"Paman! seru Jiro berlari ke arahnya, berguling di tanah lalu bersembunyi di balik pohon, Samuel yang berada di belakang pohon lain tak jauh dari Jiro menatapnya sembari menganggukkan kepala sebagai kode untuk menyerang bersamaan. Dalam hitungan ketiga, keduanya langsung keluar dari balik pohon, berlari melesatkan peluru ke arah musuh.
" DOR DOR DOR!!
"Ahkkk!
Satu persatu musuh tumbang bersamaan darah memercik. Samuel dan Jiro kembali berguling dan bersembunyi di balik mobil.
" Di mana Zidan?" tanya Samuel dengan tatapan ke arah musuh.
"Di sebelah utara paman." Jiro menyahut dengan terus mengarahkan senjatanya ke arah musuh.
"DOR DOR DOR!!
" Ahhhkkk!
"Trank! Trank!
Peluru berseliweran ke arah mobil tempat mereka berdua sembunyi, kaca mobil pecah. Samuel matanya mendelik saat salah satu musuh melemparkan bahan peledak ke arah mobil tempat mereka sembunyi.
" Lari!!" pekik Samuel.
"DUARRR!!!
" Dor! Dor!"
Samuel jongkok membuka tas kecil di punggungnya. Ia mengambik empat buah bahan peledak, lalu menatap ke arah Jiro yang berdiri di belakang pohon tak jauh dari tempatnya. Jiro mengangguk paham, ia keluar dari persembunyiannya melindungi Samuel yang berlari ke arah musuh melemparkan bahan peledak.
"DUARRRR!!
" DUARRRR!!
"DUARRR!!"
'DUARRRR!!"
Samuel dan Jiro kembali berlari dan bersembunyi di balik Drum yang berjajar, menyaksikan sebagian musuh terpental dan ambruk terkena ledakan, sebagian hancur bersama ledakan. Mobil yang ada di sekitar ikut meledak dan terbakar. Api menyala di mana mana, asap tebal membumbung ke udara. Bau daging terpanggang menyengat di hidung.
"Beres, ayo ke utara bantu Zidan!" seru Samuel berlari mendahului Jiro. Senentara Jiro mengikuti larinya Samuel sesekali melesatkan peluru ke arah musuh yang baru saja datang.
"Zidan!" Zidan menoleh ke arah Samuel yang melemparkan bahan peledak.
"DUARRRR!!"
"Di mana Ayah?" tanya Jiro berusaha mengatur napasnya.
"Sebelah timur menghadapi Avram." Zidan mulai kelelahan dan menyandarkan tubuhnya di belakang mobil sesaat.
"Kita akhiri secepatnya!" Samuel membuka tas kecilnya lagi, lalu memberikan bahan peledak pada Zidan dan Jiro. "Kalian ke selatan aku akan menyusul Ayah kalian!" Samuel langsung berlari dan merunduk menghindari peluru yang berseliweran.
"Kak, kita seledaikan dengan cepat!" Jiro menganggukkan kepalanya, berlari ke arah mobil musuh.
"DUAR! DUAR! DUAR!!
" DOR DOR DOR!"
Jiro dan Zidan tidak lagi memberikan mereka kesempatan untuk menyerangnya, begitupula Jiro dengan semangat tinggi membalaskan dendam dan untuk menebus kesalahannya dulu. Membuat dia tidak merasa lelah dan takut lagi. Musuh yang begitj banyak, sudah berkurang. Setelah semua di rasa aman, kedua orang itu berlari menyusul Samuel di mana Kenzi dan Avram berada.