
Sabtu 18,30
Pesta ulang tahun Angela pun di mulai. Teman teman kampusnya datang mengucapkan selamat ulang tahun. Dan untaian doa mereka sematkan untuk Angela.
Ryu hanya diam duduk di kursi memegang tongkatnya. Samuel berdiri di samping Ryu memperhatikan senyum bahagia dari bibir Angela, pelukan hangat dan tepuk tangan malam ini di berikan untuk Angela seorang. Ryu menoleh ke arah samping, tak jauh dari Angela berdiri bersama teman temannya. Nampak Kenzi, Mei Chan dan Zoya berdiri berjajar memperhatikan Angela dan teman temannya.
Rasa panas menjalar di dada Ryu, jantungnya berdegup kencang. Tubuhnya gemetar menahan ledakan emosi yang terpendam di dadanya. Ryu mengalihkan pandangannya pada Angela, di mulai dari menyanyikan selamat ulang tahun hingga tiup lilin. Angela memotong kue, dan mengambil sepotong kue untuk di berikan pada orang istimewa. Ryu menunggu momen itu, ia ingin tahu untuk siapa kue pertama yang akan Angela berikan. Jantung Ryu semakin berdetak tidak beraturan saat Angela menyuapi Kenzi, Lalu Jiro dan Zoya. Suapan terakhir ia berikan pada baby sitter itu!!
Tangan Ryu menggenggam tongkat dengan sangat erat, ia masih menunggu momen lain untuk melampiaskan kemarahannya pada keluarganya.
Ryu terus bersabar menahan gejolak emosi di dalam dadanya, saat Angela mengucap kata syukur atas karunia yang ia dapatkan sekarang. Sedikitpun ia tidak menyebut Ibunya, hati Ryu semakin terbakar. Marah, ingin menangis. Bahkan rasanya ia ingin membubarkan pesta itu dan memaki Angela. Terlepas Angela lupa karena saking bahagianya atau memang sudah benar benar lupa pada Siena. Yang lebih membuat Ryu geram, tak satupun yang mengingatkan akan Ibunya.
Dua jam berlalu, pesta pun selesai. Teman teman Angela satu persatu pulang ke rumahnya masing masing. Sekarang tinggal keluarganya saja yang belum mengucapkan ulang tahun untuk Angela.
Perlahan Ryu bangkit dari duduknya menghampiri mereka, di ikuti Samuel yang membawa bungkusan kado berukuran besar. Satu persatu memeluk Angela dan mengucapkan ulang tahun untuknya. Kemudian Jiro memberikan kadonya untuk Angela. Di ikuti Zoya setelah Jiro memberikan kado.
"Di buka sekarang ya kak.." ucap Angela tersenyum lebar menatap dua kado di tangannya, perlahan ia membukanya.
"Wah terima kasih kak!" mata Angela berbinar lalu memeluk Jiro dan Zoya yang sudah memberikan sebuah tas dan Smartphone. Kini giliran Kenzi memberikan kado pada Angela. Gadis itu buru buru mengambil kotak kado berukuran sedang di tangan Kenzk dan membukanya. Ternyata Kenzi hanya membelikan sebuah boneka beruang kesukaan Angela. Gadis itu buru buru memeluk Kenzi.
"Selamat ulang tahun ya sayang."
"Makasih Ayah." Angela melepas pelukannya.
Semua tidak ada yang menyangka,Tiba tiba Mei Chan maju mendekati Angela dan memberikan kado pada gadis itu. Awalnya semua menganggap biasa saja. Namun saat Angela membuka kado dari wanita itu, ia langsung bersorak gembira mendapatkan kado berupa jam tangan merk Michael Kors.
Semua menoleh ke arah Mei Chan, wanita itu bisa membelikan kado mahal untuk Angela?
"Saya tahu, Nona sering lupa waktu. Oleh katena itu saya membelilan jam tangan supaya Nona tidak lupa waktu untuk pulang."
"Hoaaaa! Angela memeluk Mei chan dan mencium pipinya sekilas, " Kakak memnag mengerti aku!"
"Ryu.." sapa Kenzi menoleh ke arah Ryu. Jiro, Zoya dan yang lain ikut menoleh ke arah Ryu.
Ryu tersenyum getir, dadanya serasa di tonjok palu godam. Perlahan ia maju di ikuti Samuel, lalu ia mengambil kotak kado di tangan Samuel dan di berikan pada Angela tanpa ada kata ucapan selamat. Ryu hanya diam tak bicara sepatah katapun.
Semua diam saat Ryu memberikan kado paling besar di antara yang lain. Perlahan Angela menurunkan kado itu di atas meja lalu membuka kado itu, semua menatap ke arah kado yang Angela buka. Mereka penasaran apa isinya.
Kertas pembungkus kado di buang Angela ke lantai. Semua diam dengan mata tertuju pada kotak yang di letakkan di atas meja lalu di buka Angela.
Senyum di bibir Angela perlahan menghilang di ganti dengan sebuah teriakan histeris, gadis itu melonjak ketakutan melihat isi kado di dalam kotak itu. Semua yang ada di ruangan itu langsung memeriksa isi di dalam kotak.
Tidak ada yang bicara, semua diam. Mereka hanya menoleh menatap ke arah Ryu.
'Apa maksud semua ini Ryu?" tanya Jiro pelan dengan mata berkaca kaca.
Ryu hanya diam menanggapi sikap keluarganya dengan dingin.
"Nak, katakan padaku. Apa maksud semua ini?" Kenzi berdiri di tangannya membawa foto Siena sewaktu wajahnya rusak pas mau di lakukan operasi wajah. Di tangan kanan Kenzi memegang kulit wajah Siena yang asli sewaktu terkena siraman air keras. Sementara Zoya memegang pakaian Adelfo yang di penuhi oleh noda darah, meski sudah lama tapi bau amisnya masih tercium. Sementara Jiro memegang pakaian cincin milik Miko sewaktu masih hidup dan kaki Ryu yang sudah di awetkan.
"Apa maksud semua ini!" pekik Jiro, air matanya menetes.
Emosi di dalam dada Ryu, perlahan ia lepaskan dan bicara dengan sangat jelas tapi menusuk.
"Aku hanya mengingatkan kalian" Ryu menghela napas panjang, bibirnya bergetar dan kembali berucap.
"Jiro, kau bahagia di atas pengorbanan Miko, Adelfo, dan Ibu." Ryu mengalihkan pandangannya pada Kenzi dengan tatapan menusuk sampai ke hati.
"Dan kau Kenzi, ketulusan dan kesetiaan yang di berikan istrimu tak sebanding dengan apa yang kau berikan. Hari ini kau bisa bernapas lega dan menikmati kedamaian berdiri di atas pengorbanan aku, ibu dan Adelfo." Tunjuk Ryu pada Kenzi. Lalu beralih menatap Angela.
"Dan kau Angela, kau bisa sekolah, tertawa bahagia, menikmati semua kenyamanan, bukan karena Kenzi atau Jiro. Tapi berterima kasihlah pada Om Adelfo yang telah melindungimu sewaktu masih dalam kandungan, dan berterima kasihlah pada Siena yang bertahan demi kau? ingat Angela. Siena.." ucap Ryu penuh penekanan. "Siena Angela! bukan wanita iblis itu!" pekik Ryu membungkukkan badan mengambil semua foto Siena dan potongan kaki lalu di lemparkan ke arah Angela dan juga Kenzi. Ryu langsung memutar tubuhnya melangkahkan kaki meninggalkan mereka. Zoya menangis menatap pakaian Adelfo, Kenzi terdiam tak dapat berkata kata, seakan habis di lempar kotoran oleh Ryu. Ia benar benar malu pada dirinya sendiri. Sementara Angela berdiri di sudut ruangan menangis sesegukan. Malam yang bahagia berubah menjadi mimpi buruk buat Angela dan yang lain. Mereka tidak menyangka Ryu mengumpulkan itu semua hanya untuk mengingatkan mereka tentang Siena. Wanita yang telah berkorban banyak perlahan di lupakan.