
Sebuah alur kehidupan yang membuat Siena memilih untuk menjadi monster dan jadi mimpi buruk untuk semua musuhnya. Menghapus semua kenangan yang begitu sulit, kini lebih menyakitkan tatkala melihat pria yang selama ini ia cintai, bersama wanita lain bercinta di depan mata. Demi melindungi keluarga kecil yang sangat ia sayangi. Siena rela berkorban untuk kebahagiaannya, demi putra putrinya, hingga ia harus mengorbankan hidup dan cintanya.
Hancurnya sebuah keluarga demi pengorbanan membuat hidup dan kebahagiaannya semakin terasa sangat jauh.
Hana, Surya, Akira, Yeng Chen, Adelfo. Mereka adalah orang orang yang telah menjadi korban. Sebuah kesepakatan tanpa persetujuan, semua demi harapan yang ingin merubah segalanya berakhir dengan kehancuran.
Siena duduk di tepi tempat tidur, dengan kedua tangan mencengkram sprei. Air matanya mengalir deras.
"Kenapa aku terus menangis?" tanya Siena pada diri sendiri, matanya menatap langit langit kamar.
"Apa aku menyesali telah kau khianati?" gumamnya terisak sembari mengusap air matanya.
"Apa aku berharap kau kembali, Kenz?" Siena tertawa samar, ia berdiri lalu menarik sprei dan melemparkannya ke lantai.
"Tidak! tidak akan pernah! pekik wanita itu, tubuhnya gemetar menahan amarah. Hatinya hancur berkeping keping.
Seharusnya di masa tua, mereka menikmati hidup, menimang cucu seperti yang orang lain mimpikan, seperti pasangan lain lakukan. Namun kenyataan berkata lain, meski usaha ia curahkan secara maksimal. Namjn yang ia dapatkan hanyalah kehilangan dan kelukaan yang semakin melemparkannya jauh ke dasar jurang yang paling dalam.
" Apa salahku, Tuhan!" jerit Siena, matanya melirik barang barang meja hias lalu membuangnya kelantai.
"Apa kurangku, Kenzi!"
"Prankk!! suara barang barang jatuh ke lantai berserakan. Perlahan ia jatuhkan tubuhnya di lantai, memukul dadanya sendiri untuk mengurangi rasa sakit yang kini ia rasakan. Tanpa ia sadari, putra dan putrinya yang baru saja pulang, mendengar suara gaduh di kamar Siena. Mereka berlarian memasuki kamar, melihat barang barang berserakan di lantai.
" Ibuuu..!" pekik Angela langsung duduk di lantai memeluk Siena erat. Di ikuti Jiro dan Ryu duduk di hadapan Siena.
"Apakah Ibu merindukan ayah?" tanya Jiro tidak mengerti mengapa Siena menangis.
Namun Siena hanya menangis, biarlah mereka tidak tahu apa yang sedang Ibunya rasakan saat ini. Ryu dan Jiro akhirnya memeluk Siena dengan erat, meski mereka tidak tahu apakah Siena tengah merindukan Ayahnya. Namun yang pasti, mereka merasakan Ibunya tengah merasakan kepahitan. Sementara Zoya, hanya berdiri di ambang pintu memperhatikan mereka semua, ia bisa mengerti apa yang terjadi pada Siena.
***
Sementara itu, di tempat lain. Hernet meminta Kenzi untuk menjadi salah satu pemimpin organisasi yang di ketuai Laila. Berhubung wanita itu cacat. Kenzi lah yang menggantikannya.
Setelah mereka melakukan pernikahan secara diam diam karena tidak ingin hal buruk terjadi lagi pada Laila. Kenzi mendeklarasikan diri untuk melawan musuh Kartel Siloa yang di pimpin oleh Siena. Tidak hanya itu, Kenzi juga bekerjasama dengan Livian untuk mengungkap siapa pimpinan Kartel Siloa. Situasi semakin panas, diam diam satu sama lain saling mencari informasi. Namun sayang, sampai sekarang keberadaan organisasi itu bagaikan di telan bumi. Jejak mereka sulit di temukan, bahkan markas Kartel Siloa tidak dapat di temukan di kota itu.
Mendengar informasi itu semua, Siena semakin bersemangat untuk membalaskan dendam dengan cara yang sangat halus.
"Hernet, Livian, dan kau Kenzi. Kalian tidurlah dengan nyenyak saat ini. Karena sebentar lagi, kalian semua akan ku habisi. Tunggu giliran kalian masing masing," ucap Siena tertawa menyeringai. Semua anak buahnya hanya tertunduk tidak ada yang berani menatapnya.
Di balik kecantikan Siena, menyimpan luka dan dendam kesumat yang akan ia tuntaskan hingga tetes darah penghabisan.
Namun di sisi lain, Avram dan putranya Aranza. Diam diam mengumpulkan informasi tentang sindikat mafia dan jaringan kartel Siloa, tapi yang di lakukan Avram dan putranya kali ini. Untuk membantu Siena secara diam diam.
"Papa, apakah kau yakin dengan keputusanmu? jika mereka mengetahui, jabatanmu di pemerintahan akan di copot." Aranza mengingatkan.
"Papa tidak perduli, Nak. Jabatan itu tidak penting lagi semenjak Ibumu tiada. Papa hanya ingin membantunya itu saja."