
"Apa yang bisa kulakukan supaya bisa mengembalikan kepercayaanmu Siena?" tanya Kenzi menatap ke arah Siena yang duduk di tepi tempat tidur, yang selalu menghindar saat Kenzi ingin melepaskan rasa rindunya pada Siena. Ia jongkok di hadapan Siena, menggenggam erat tangannya. Tengadahkan wajah menatap Siena yang hanya diam dan tersenyum dingin.
"Sayang." Siena mengelus dagu Kenzi dengan lembut. "Aku tidak membencimu, tapi aku butuh waktu. Apa kau bisa memberikannua sebanyak waktu yang kuminta? andai tidak ada waktu lagi untukku. Percayalah meski rasa cintaku telah musnah bersama pengkhianatanmu tapi rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun untukmu dan putra putrimu."
"Benarkah?"
Siena menganggukkan kepala. "Apa pernah aku menodai rasa cinta dan sayangku?"
Kenzi menggelengkan kepalanya. "Aku tahu.."
"Sekarang kita tidur, besok kita harus mempersiapkan banyak hal untuk pernikahan putra kita Ryu."
Kenzi menganggukkan kepalanya lalu naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Siena. Sejauh mana bibir terucap kata maaf. Seberapa keras usaha Siena untuk melupakan pengkhianatan Kenzi. Tidak dapat ia pungkiri jika hatinya masih terluka.
Kenzi memeluk Siena erat, tapi Siena memindahkan tangan Kenzi dari pinggangnya. "Tidurlah, kita sudah bukan anak muda lagi."
Kenzi menarik napas dalam. Lalu merubah posisi tidurnya, berusaha memejamkan matanya.
***
Keesokan paginya, di rumah Dokter Ryu semuanya sibuk tengah mempersiapkan pernikahannya dengan Davira.
Siena bersandar di pintu kamar memperhatikan anak dan menantunya yang terlihat bahagia. Nampak Kenzi tengah menggendong cucunya, mengajaknya menari dan berputar lalu mengangkat tubuh cucunya tinggi tinggi, membuat dada Siena terkesiap.
"Sayang, jangan tinggi tinggi nanti jatuh!" seru Siena.
Namun Kenzi hanya menoleh sesaat ke arah Siena dan tertawa lebar. Ia kembali mengangkat tubuh cucunya lagi.
Siena tersenyum, menarik napas panjang. Lalu ia hembuskan perlahan, inikah bahagia? tapi mengapa ada yang hilang dari dalam diri Siena.
"Ibu.."
"Ya sayang?"
Ryu berjalan mendekati Siena, lalu menggenggam erat kedua tangan Ibunya.
"Hei, kau mau apa?"
Siena tersenyum saat tangan Ryu mengarahkan tangan Siena untuk berdansa dengannya. Tak lama terdengar alunan musik kesukaan Siena.
"Apa kau merayumu Ibumu sayang?"
Ryu hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Ibunya. Ryu mengarahkan tubuh Siena mendekati Kenzi yang berdiri menatap ke arah mereka.
"Kau tahu Ibu, jika aku tidak memiliki Ibu sepertimu. Entah apa jadinya aku ini." Bisik Ryu di telinga Siena. Membuat wanita itu tertawa kecil.
"Kau Ibu terhebat yang kumiliki."
"Terima kasih sayang."
Alunan musik terus mengalun syahdu, anak anak Siena berdiri saling merangkul memperhatikan Ryu berdansa dengan Siena. Senyum bahagia menghiasi wajah mereka. Kebahagiaan itu, senyum itu di bangun oleh darah dan air mata. Tercipta atas perjuangan seorang wanita, sosok ibu tangguh dan seorang istri yang memegang teguh cinta dan kebenaran.
Davira yang sedari tadi diam maju mendekati mengambil posisi Siena dan menggantikannya. Siena beralih berdansa dengan Jiro.
"Mungkin, salah satu putramu yang paling menyusahkanmu Ibu. Tapi kau tak pernah marah atau memukulku. Kau biarkan aku tumbuh dewasa seiringnya waktu. Mungkin aku, anakmu. Tapi kau membebaskanku tanpa mengekangku seakan akan kuharus menjadi dirimu."
Siena tertawa kecil lalu mencium pipi Jiro sekilas. Tiba giliran Angela yang ikut ambil alih posisi Jiro.
"Muach!" Angela mencium pipi Siena sekilas. "Kau yang terbaik!"
Siena mendongakkan wajahnya tertawa lebar mendapatkan ciuman dari putri bungsunya. Kemudian Angela mundur saat Kenzi menggantikan posisinya. Kali ini Kenzi tidak bicara apa apa, ia hanya ingin memeluk Siena erat bersama alunan musik itu. Percuma bicara, percuma meminta maaf, percuma merayu. Cermin yang sudah retak meski di satukan kembali, tetap tidak akan sama dengan asalnya. Begitu juga dengan hati, cermin selalu memantulkan kejujuran tapi tidak bisa memantulkan dirimu yang sebenarnya. Hati wanita bagaikan cermin, ia akan mudah tergores dan pecah. Jika sudah pecah, sehebat apapun kau ingin memperbaiki, cermin itu tetap tidak akan utuh.