THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Decision



Di bawah tanah Ryu membuat ruangan khusus untuk dia membuat berbagai macam eksperimen obat obatan termasuk meneliti bagaimana cara mengatasi pecandu narkotika yang sudah parah.


Ryu tengah fokus memeriksa sample darah milik Kenzi yang ia ambil sewaktu mengobatinya empat bulan yang lalu.


Ryu terkejut dengan hasil lab yang ia dapatkan setelah satu bulan ia menjalani pemeriksaan.


"Ayah, ternyata kau cuma di jadikan alat percobaan mereka." Ryu duduk di kursi dengan lemas. "Apa yang harus aku lakukan?"


"Sayang, kau sedang apa?"


Ryu menoleh ke belakang, nampak Siena membawakan makanan di atas nampan.


"Ibu.."


"Dari pagi kau tidak keluar dari ruangan ini, bahkan kau belum makan." Siena duduk di kursi, meletakkan nampan di atas meja. Matanya menatap alat alat medis di depan Ryu.


"Ibu, aku mau bicara-?"


"Kau makanlah dulu, bicaranya nanti setelah makan." Siena memotong ucapan Ryu, lalu mengambil sendok dan mulai menyuapi Ryu.


"Ibu-?"


"Makanlah, biar Ibu suapi."


Siena tersenyum saat putranya membuka mulut dan mau di suapi olehnya. Ia teringat saat Ryu masih kecil, saat ia tidak mau makan hanya Kenzi lah yang selalu berhasil merayu Ryu dan menyuapinya. Tanpa terasa dari bibir Siena menyebut panggilan yang biasa ia sematkan untuk Kenzi.


"Sayang.."


Wanita itu menurunkan sendok dari mulut Ryu dan tertunduk.


"Ibu rindu Ayah?" tanya Ryu.


Siena menggelengkan kepalanya, ia mengangkat wajahnya kembali menyuapi Ryu.


"Tidak sayang, Ibu hanya-?"


"Rindu.' Potong Ryu.


Siena menatap tajam wajah putranya, " makanlah lalu selesaikan pekerjaanmu. Ada Aira yang menunggumu di ruang tamu.'


"Aira? dia mau apa menungguku?" tanya Ryu merasa aneh.


"Suka." Siena menjawab sembari tersenyum.


"Suka? suka padaku?" tanya Ryu lagi.


"Tentu sayang, apalagi." Siena mengambil gelas berisi air mineral lalu di berikan pada Ryu.


"Tidak Ibu, aku sudah memiliki Mei Mei." Tangan Ryu mengambil gelas di tangan Siena.


"Ibu aku mau bicara." Ryu memegang tangan Siena.


"Nanti saja, Ibu masih banyak pekerjaan." Siena balik badan dan berlalu begitu saja meninggalkan Ryu di ruang kerjanya


Sepanjang jalan Siena terus kepikiran Kenzi. Tidak biasanya ingatannya begitu kuat. Ia duduk di kursi meja makan menangkup wajahnya.


"Kenapa kau selalu mengganggu pikiranku," ucap Siena dalam hati. Biasanya jika ia gelisah memikirkan Kenzi, telah terjadi sesuatu yang buruk. Antara sayang dan ego saling menguasai dan bercokol di hati Siena. Hati kecilnya ingin memastikan apakah Kenzi baik baik saja, tapi rasa sakit di hatinya mencegah Siena untuk perduli lagi pada Kenzi.


Setengah jam Siena dalam keadaan konflik batin, akhirnya ia memutuskan untuk mencari tahu tentang Kenzji. Meski ia tahu resikonya nanti akan membuat hatinya semakin terluka.


"Ibu, kau mau kemana?" tanya Angela.


"Ibu ada keperluan sebentar sayang, kau temani Aira di dalam kasihan dia sendirian menunggu kakakmu, Ryu."


"Baik Bu!" sahut Angela langsung kembali masuk ke dalam rumah.


"Anak itu jangan sampai tahu kalau aku hendak mencari tahu tentang Ayahnya. Bisa marah marah padaku." Siena bergumam pelan. Lalu kembali melangkahkan kakinya menuju halaman lalu masuk ke dalam mobil.


Baru saja mobilnya ia lajukan, dari arah gerbang rumah. Nampak mobil milik Avram memasuki halaman rumahnya.


"Ada apa dia kesini? pasti dia mau bertanya kesanggupanku untuk bersedia menikah dengannya atau tidak." Siena menghentikan laju mobilnya lalu membuka sabuk pengaman.


"Tidak, aku harus memastikan dulu, apakah Kenzi baik baik saja atau dia dalam keadaan tidak baik baik saja. Baru aku akan memberikan jawaban pada Avram."


Siena kembali memasang sabuk pengamannya, lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah.


Sepanjang jalan ia menghubungi salah satu mata mata yang masih bergabung bersama anggota Crips. Dari mata matanya, ia mendapatkan informasi jika Kenzi sudah tidak datang ke markas selama satu bulan. Kemungkinan Kenzi berada di rumahnya bersama Laila.


Sempat Siena hendak memutar arah, kembali lagi ke rumah. Tapi hatinya sangat tidak tenang jika belum melihat Kenzi dalam keadaan baik baik saja. Kemudian Siena melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Kenzi.


***


Di tepi jalan, Siena menepikan mobilnya. Lalu ia memperhatikan rumah Kenzi dari kejauhan.


"Sepi, apa Kenzi tidak ada di sini?' tanya Siena pada dirinya sendiri.


Detik demi detik, menitpun berlalu. Setengah jam Siena memperhatikan rumah Kenzi, namun tidak ada tanda tanda ada penghuninya di rumah itu. Saat Siena memutuskan untuk kembali ke rumah. Dari arah depan nampak sebuah mobil memasuki gerbang rumah Kenzi dan berhenti di halaman. Siena terus memperhatikan ke depan. Nampak Laila keluar dari pintu mobil bersama Kenzi. Kemudian Laila memeluk Kenzi, beberapa menit terlihat Laila mendekatkan wajahnya ke wajah Kenzi lalu ia memeluk Kenzi memasuki rumahnya.


" Sudah kuduga, dia baik baik saja dan kelihatan semakin mesra bersama wanita iblis itu, mulai sekarang aku tidak ragu untuk menerima lamaran Avram," ucap Siena geram. Ia menarik napas panjang, mendengus kesal lalu menyalakan mobilnya meninggalkan rumah Kenzi dengan perasaan sangat marah.


Laila menoleh ke belakang, ia merasa ada yang memperhatikan.


"Aku seperti melihat sessorang tengah memperhatikan," ucap Laila. Matanya terus memperhatikan sekitar gerbang namun tidak menemukan siapa siapa.


"Mungkin perasaanku," ucapnya pelan. Lalu kembali memelul Kenzi membawanya masuk ke dalam.


"Kau beristirahatlah sayang, besok kita lakukan lagi uji cobanya.' Laila tertawa sendiri menatap wajah Kenzi yang terlihat pucat, matanya setengah terpejam akibat obat obatan yang di berikan Laila dan Hernet.