THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
Challenge



Sementara di tempat lain. Laila tidak terima Kenzi telah kembali pada Keluarganya. Hatinya terbakar cemburu membayangkan Kenzi dan Siena telah bersama lagi.


Matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan penuh rasa amarah.


"Aku tidak akan pernah membuat hidupmu tenang Kenzi!" pekik Laila geram. "Satu inci pun tidak akan kubiarkan kau memiliki tubuh Kenzi. Tidak akan pernah!"


"Pengawal!"


"Bos!" sahut salah satu pengawal membungkuk hormat.


"Bawa pasukanmu, dan serang rumah Kenzi!


" Siap Bos!" sahut mereka serempak.


"Kau harus tetap jadi milikku, akan kusingkirkan semua penghalang yang coba mengambilmu dariku, Kenziii!! teriak wanita itu seperti orang gila yang kehilangan akal sehatnya.


Anak buah Laila yang berjumlah tiga puluh orang langsung meluncur ke tempat Kenzi berada. Di pimpin langsung oleh Laila sendiri.


" Akan ku rebut kembali, kau milikku Kenzi."


Namun sebelum anak buah laila sampai di rumah Kenzi. Mereka di hadang oleh pasukan Kartel Siloa yang telah menunggu kedatangan pasukan Laila.


Enam buah mobil berhenti di tengah jalan menuju rumah di mana Kenzi berada. Laila keluar dari pintu mobil di ikuti pasukannya. Wanita itu tersenyum sinis saat melihat Siena tengah duduk di atas mobil bersama dua sahabatnya, di depan mereka anak buah Siena sudah berdiri berbaris dengan senjata api mengarah ke musuh.


"Sial, dari mana wanita itu tahu," gumam Laila marah.


Keenan turun dari atas mobil, berdiri sejajar dengan anak buah Siena. Berteriak lantang mengejek Laila.


"Hei, kau wanita cantik! aku punya penawaran menarik! bagaimana kalau kau kunikahi jadi yang kedua?!" Keenan menoleh ke arah Siena dan Rei yang tertawa lebar mendengar ucapan Keenan.


"Cih! Laila menanggapi dingin ucapan Keenan.


" Laki laki tua! mati saja kau!" hardik Laila kesal.


"Hei Nona! biarpun aku sudah tua! tapi aku bisa melayanimu tiga kali dalam semalam. Hahahahahaha!" Keenan tertawa terbahak bahak, ia merasa geli dengan ucapannya sendiri.


"Apalagi aku Nona!" sela Rei ikut turun di atas mobil di ikuti Siena. Mereka berdiri sejajar menatap Laila. "Bukankah aku dan Kenzi tidak beda jauh? bahkan aku bisa lebih memuaskanmu dari pada Kenzi!"


"Hahahahahahahahaha!" mereka tertawa terbahak bahak melihat wajah Laila merah padam.


Laila terdiam, rahangnga mengatup menahan amarah mendapatkan hinaan dari dua pria tua, meski tubuh mereka masih terlihat kekar, dan wajah mereka masih menarik untuk dilihat.


"Hei Nona! kenapa kau diam! apa kau tertarik dengan penawaran kami?! hahahahahaha!


" Sial!" sungut Laila, lalu ia maju dua langkah mendekati Siena.


"Aku punya penawaran!" seru Laila pada Siena.


"Katakan!"


"Aku menantangmu duel, hanya kau dan aku. Siapa yang kalah maka Kenzi jadi milik si pemenang!" tawar Laila.


Siena menoleh ke arah Keenan dan Rei bergantian. Lalu kembali menatap Laila tajam.


"Aku terima tantanganmu, dengan syarat tidak menggunakan senjata!" ucap Siena lantang.


"Aku setuju!"


Laila dan Siena maju selangkah demi selangkah. Berdiri tegap saling berhadapan dengan tatapan tajam.


Sementara tak jauh dari tempat mereka, di rumah Kenzi. Tengah terjadi kepanikan. Pasalnya Zoya mengerang kesakitan hendak melahirkan. Sementara di rumah hanya ada Kenzi dan Jiro saja. Samuel ikut Ryu ke rumah sakit. Angela sendiri pergi kuliah.


"Ayah! bagaimana ini!" Jiro terus memegangi perut Zoya, ia tidak tahu apa yang harus di lakukan karena panik dan untuk pertama kalinya ia akan memiliki seorang bayi.


"Ya ampun, cepat kau angkat Zoya dan bawa ke rumah sakit sekarang juga!" Kenzi menepuk keningnya sendiri lalu membantu Jiro mengangkat tubuh Zoya lalu menggendongnya.


"Cepat Ayah!" Dengan tergesa gesa, Jiro mengikuti langkah Kenzi keluar dari rumah. Lalu mereka masuk ke dalam mobil.


"Aaaahhkk, sakittt! erang Zoya terus memegang perutnya.


" Sabar sayang.." Jiro menyeka keringat di wajah Zoya dengan tisu basah.


"Ayah cepat!"


Kenzi melajukan mobilnya meninggalkan rumah menuju rumah sakit. Namun di ujung jalan ia melihat orang orang dengan senjata api saling berhadapan.


"Ayah, kenapa berhenti?" tanya Jiro.


"Ada pertarungan di depan Nak, sebaiknya kita putar arah!" Kenzi memutar kembali arah mobilnya menuju jalan lain.


"Bertahan sayang.." ucap Jiro mengusap perut Zoya pelan.