THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Minggu yang cerah, tapi Genzo enggan beranjak dari tempat tidurnya. ia masih bergelung dalam selimutnya, sesekali ia melirik ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Hari ini ia ada janji dengan Kitaro untuk mengerjakan tugas sekolah.


"Tok tok tok!!


" Masuk!" sahut Genzo malas.


Genzo mengintip dari balik selimut, terlihat Cristoper berjalan menghampirinya.


"Tuan Muda, di luar ada Pengacara ingin bertemu." Cristoper membungkukkan badannya sesaat.


"Iya Paman, tunggu dalam tiga puluh menit," jawabnya.


"Baik Tuan!" Cristoper berlalu dari hadapan Genzo, kembali keluar dan menutup pintu.


"Ada apa Paman Jhon menemuiku?" tanyanya, lalu ia bangun dan turun dari atas tempat tidur, melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Tiga puluh menit berlalu, ia telah selesai dengan dirinya dan langsung menemui pengacara di ruang tamu.


Jhon dan Cristoper berdiri lalu membungkukkan bada sesaat, setelah melihat Genzo sudah berdiri di hadapan mereka.


"Duduk Paman!" Genzo mempersilahkan Jhon dan Cristoper duduk di kursi. "Ada apa Paman?" tanya Genzo menatap ke arah Pengacara.


Jhon selaku pengacara Ryu, mulai menjelaskan kedatangannya. Mengenai surat wasiat yang Ryu buat sebelum menghilang. Dalam surat wasiat itu, Ryu menyerahkan Rumah Sakit, Panti rehabilitasi, dan perusahaan di bidang telekomunikasi. Harta warisan yang di berikan Ryu untuk putra tunggalnya tak terhingga. Namun Genzo sama sekali tidak bahagia menerima itu semua.


"Tuan Muda harus menandatanganinya," ucap Jhon menyerahkan dokumen dan pena pada Genzo.


"Baiklah Paman!"


Akhirnya Genzo menandatangani surat wadiat itu, ia coba terlihat biasa saja meski sebenarnya ingin menangis saat itu juga. Teringat Ayah dan Ibunya, namun Genzo berusaha tetap tenang dan tegar. Ia yakin, suatu hari nanti bisa berkumpul lagi dengan keluarganya, walaupun ia sendiri ragu.


"Sudah, terima kasih Paman!'


Jhon dan Cristoper tersenyum menatap ke arah Genzo. Kemudian setelah selesai, pengacara itu pamit undur diri dari hadapan Genzo.


" Bagaimana Paman, apakah sudah ada kabar?" tanya Genzo berusaha menekan perasaannya.


"Tuan Muda, sebaiknya anda harus lebih bersabar lagi. Tapi jangan khawatir, anak buah Tuan Muda pasti berhasil menemukan keluarga Tuan Muda, hanya butuh waktu," jelas Cristoper panjang lebar, ia selalu berusaha membesarkan hati Genzo.


***


Di sekolah.


Bel terdengar tanda jam istirahat, semua murid berhamburan menuju kantin. Sementara Alexa, teman sekelas Genzo, tengah berjalan menyusuri lorong sekolah menuju toilet. Gadis itu berjalan menundukkan kepala, hingga tak menyadari kalau Ariela dan kawan kawan sudah menunggunya.


"Duk!"


Kaki Alexa tersandung kaki Ariela yang memang di sengaja oleh anak gadis itu.


"Bukk!"


Alexa jatuh tengkurap di lantai menimpa ember yang berisi air bekas pel lantai.


"Hahahahaha!" Ariela dan kawan kawan tertawa terbahak bahak melihat Alexa yang terjatuh.


"Dasar gadis cupu! seru Ariela, menendang pinggang Alexa yang berusaha untuk bangun, akhirnya terjatuh lagi.


" Apa salahku?" tanya Alexa kembali bangun dan berdiri tegap menatap ke arah Ariela dan kawan kawannya. Pakaian seragamnya basah kuyup, begitu juga wajah dan rambutnya.


"Aku-?"


"Halah banyak omong!" potong Ariela, kembali mendorong tubuh Alexa hingga membentur tembok. Lalu gadis itu meninggalkan Alexa dalam keadaan basah kuyup.


"Apa salahku," gumam Alexa menatap seragamnya. "Aku harus pulang."


Gadis itu berjalan tergesa gesa menuju kelasnya, setiap kali ia berpas pasan dengan murid lain, mereka akan mentertawakannya.


"Hahahaha!


Alexa berlari dan berhenti di ambang pintu kelasnya. Ia melihat tatapan semua murid dengan tatapan cemooh. Detik berikutnya teman teman sekelas gadis itu tertawa terbahak bahak melihat seragam Alexa basah kuyup. Namun gadis itu tidak perduli meski di tertawakan. Ia melangkahkan kakinya dengan kepala tertunduk menuju bangku tempat ia duduk.


" Hahahahaha!


"Diam!" seru Genzo lantang menatap keseluruh murid yang ada di dalam kelas itu langsung terdiam dan suasana kelas kembali tenang.


"Tidak ada yang menyuruh kalian tertawa!"


Genzo mengalihkan pandangannya pada Alexa. "Siapa yang melakukan ini padamu?!" tanyanya.


Alexa menggelengkan kepalanya dengan kepala tertunduk.


"Katakan!" seru Genzo.


Lagi lagi Alexa hanya menggelengkan kepalanya. Tanpa menunggu persetujuan dari gadis itu, Genzo menarik tangan Alexa dan membawanya keluar dari kelas menuju kelas lain di mana Ariela berada.


Sesampainya di hadapan Ariela, Genzo menarik tangan gadis itu supaya berdiri.


"Genzo?" sapa Ariela senang.


"Apa yang sudah kau lakukan pada Alexa?" tanya Genzo dingin.


"Aku? aku tidak melakukan apa apa," jawab Ariela berbohong.


"Jangan bohong!" bentak Genzo menatap tajam Ariela, membuat gadis itu ketakutan melihat kemarahan Genzo.


"Aku?"


"Cepat minta maaf!" ucap Genzo marah. "Minta maaf!"


Ariela menoleh ke arah Alexa yang masih menundukkan kepalanya. "Maaf."


"Lebih keras!" bentak Genzo lagi.


"Maafkan aku!" teriak Ariela setengah kesal di permalulan di depan kawan kawannya.


"Sekarang, kau ikut aku!" Genzo menarik paksa tangan Ariela dan Alexa. Mereka berjalan bersama menuju toilet.


Sesampainya di depan pintu toilet, Genzo mengambil ember yang berisi air bekas pel. Lalu ia siramkan ke tubuh Ariela.


"Genzooo! pekik Ariela coba menghindar, namun air terlanjur membasahi seragamnya.


" Lain kali, berpikir dua kali untuk menyakiti orang lain," bisik Genzo di telinga Ariela. Setelah bicara seperti itu, Genzo menarik tangan Alexa kembali menuju kelas.


"Alexaaaa! awas kau ya!" jerit Ariela menyalahkan Alexa.