
Sepulang sekolah, Genzo tidak langsung pulang ke rumahnya. Ia mengantarkan Alexa pulang kerumahnya terlebih dahulu. Sesampainya di depan rumah, Genzo menepikan mobilnya. Ia menoleh ke arah Alexa yang terdiam menundukkan kepalanya.
"Hei, apa kau baik baik saja?" tanya Genzo mengacak rambut Alexa sekilas.
"Aku baik baik saja," jawab gadis itu, masih menundukkan kepalanya.
"Lalu? apa masalahmu? kenapa kau hanya diam?" tanya Genzo bingung.
Perlahan Alexa mengangkat wajahnya sembari membenarkan letak kaca matanya. "Sebenarnya. kau anggap aku apa? teman? atau lebih dari itu?"
Pertanyaan Alexa membuat Genzo terkejut, ia tidak menyangka kalau gadis yang selama ini pendiam bisa bertanya hal yang sangat pribadi.
"Aku-?"
"Teman bukan? dan yang kau sukai hanya Ariela? sudah kuduga!" potong Alexa tanpa mendengar penjelasan Genzo terlebih dahulu, langsung membuka pintu mobil dan menutupnya kembali dengan cukup keras. Lalu gadis itu berlari masuk ke dalam rumahnya.
Genzo hanya diam melongo memperhatikan punggung Alexa hingga hilang di balik pintu.
"Ada apa dengan dia?" gumam Genzo bingung. "Ya sudahlah, perempuan memang aneh."
Genzo memutar arah mobilnya, dan memutuskan untuk pulang. Di tengah perjalanan, ia melihat Ariela tengah di seret paksa Sean untuk masuk ke dalam mobil.
"Ada apa lagi dengan Ariela?" ucap Genzo dalam hati, lalu ia kembali memutar arah mobilnya mengikuti arah mobil milik Sean yang melaju kencang. Tak ingin kehilangan jejak, Genzo menambah kecepatan laju mobilnya. Namun di persimpangan jalan, Genzo kehilangan jejak mobil Sean. Ia melihat ke kiri dan ke kanan, lalu ia memutuskan untuk memilih jalan ke kanan. Jalanan nampak sepi, hanya satu kendaraan yang terlihat di depannya. Ia masih terus melajukan mobilnya, hingga akhirnya ia melihat dua mobil dan empat buah mobil tengah berputar di tengah jalan mengelilingi satu orang pria dan wanita dan di perkirakan sudah lanjut usia, meski dari kejauhan Genzo bisa melihat dengan jelas kedua orang terlihat masih rupawan.
"Apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Genzo terus memperhatikan, ia tidak mau ikut campur dalam urusan mereka. Tak lama kemudian ia menyalakan lagi mobilnya dan hendak memutar arah. Namun sekilas ia melihat beberapa pria keluar dari pintu mobil, lalu menembak kaki kiri pria tersebut. Genzo mengurungkan niatnya untuk kembali pulang. Dengan kecepatan tinggi, ia lajukan mobilnya ke arah mereka semua.
"BRAKKKK!!!
Mobil Genzo menabrak salah satu mobil, lalu ia tabrakkan lagi mobilnya ke mobil satunya lagi.
"BRAAAKKK!!"
Orang yang ada di dalam mobil langsung keluar dan mengarahkan senjata apinya pada mobil Genzo. Beruntung, mobil yang ia pakai anti peluru. Dengan sangat mudah ia membuat mereka semua lari menghindari mobil milik Genzo yang menabrak apa saja di depannya. Genzo membuka pintu mobil dan berteriak lantang.
"Grandpa!"
Pria tua yang di panggil menoleh, lalu menarik tangan wanita yang berdiri di sampingnya masuk ke dalam mobil.
"DOR DOR DOR!!
Peluru menghujani mobil milik Genzo yang melaju dengan kecepatan tinggi membawa pergi dua orang tadi.
"Nak, berapa tahun usiamu?" tanya pria tua itu.
"17 tahun Granpa!" jawab Genzo dengan terus fokus menatap ke depan.
"Pantas saja, kau melajukan mobilnya tanpa ada rasa takut." Pria tua itu tersenyum menatap ke arah Genzo.
"Nak, bisa pelankan mobilnya?" pinta wanita tua yang duduk di belakang.
"Siap Grandma!" sahut Genzo, lalu ia mengurangi kecepatan mobilnya.
"Kalian mau kemana? dan siapa mereka?" tanya Genzo melirik sesaat ke arah pria tua itu.
"Kami tidak tahu harus kemana, soal mereka. Kau tidak perlu tahu, Nak." Pria tua itu mengusap bahu Genzo pelan.
"Baiklah Granpa, Granma, kalian ikut ke rumahku. Nanti kalian pikirkan lagi arah tujuan kalian." Usul Genzo.
"Jika kau tidak keberatan, baiklah Nak."
***
Sementara itu Cristoper sangat cemas, katena hari sudah menjelang sore namun Genzo belum pulang juga. Ia berputar putar mencari Genzo di sekolah hingga mendatangi kawan sekelasnya. Ia berjalan mondar mandir di halaman rumah. Berpikir keras kemana lagi mencari Genzo. Ia dapat bernapas lega, saat melihat mobil Genzo memasuki halaman rumah. Buru buru ia membuka pintu. Namun ia terkejut saat melihat dua orang asing keluar dari pintu mobil.
"Mereka butuh istirahat Paman, biarkan mereka menumpang istrahat di rumahku."
"Baik Tuan!" sahut Cristoper lalu mempersilahkan mereka masuk ke dalam rumah. Namun kedua orang tua itu hanya termangu memperhatikan rumah Genzo.
"Granpa! Geandma! ayo!" seru Genzo.
Kedua orangtua itu saling pandang sesaat, lalu mereka mengikuti langkah Genzo dari belakang di ikuti Cristoper. Sesampainya di dalam rumah, mereka berdua hanya berdiri terpaku menatap ke arah Samuel.
"Tuan Kenzi? Nyonya Siena?!" ucap Samuel pelan namun jelas terdengar oleh Genzo.
Samuel berlari menubruk tubuh pria tua yang tak lain adalah Kenzi. Ia memeluk erat dan menangis haru, tidak menduga akan bertemu lagi dengan mereka.
"Tuan, kau kemana saja? kami mencarimu kemana mana, selama ini kalian di mana?" tanya Samuel terisak.
"Paman Besar?" sapa Genzo.
"Nak, ini kakek dan nenekmu!" Samuel melepaskan pelukannya
"Jadi? mereka?" ucap Genzo kelu menatap sedih Kenzi dan Siena.
"Sudah kuduga, ini rumah Ryu, putraku. Dan kau?" Kenzi menatap Genzo sembari mengusap air matanya.
"Tuan, ini Genzo. Putra tungga Ryu!" kata Samuel.
"Cucuku!" pekik Siena menubruk tubuh Gdnzo dan memeluknya erat. "Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi, kau sudah besar sayang."
"Grandma.." ucap Genzo menangis dalam pelukan Siena.
"Ryu, putraku..aku merindukannya. Di mana dia?" tanya Siena melepaskan pelukannya, menampuk wajah Genzo. "Ryu!" panggil Siena menatap ke kamar di mana Ryu tidur.
"Ryu! sayang, Ibu datang Nak!" panggilnya lagi, namun tidak ada jawaban. Semua orang yang ada di dalam rumah terdiam menundukkan kepala. "Genzo sayang, di mana ayahmu? apa masih bekerja? ibumu?" Genzo di beri pertanyaan bertubi tubi tentang kedua orangtuanya, membuat anak itu menangis sesegukan lalu kembali memeluk Sieana erat.
"Sam, ada apa?" tanya Siena bibirnya bergetar.
"Maafkan kami yang tidak bisa menjaga Tuan Ryu," ucap Samuel pelan. "Mereka menghilang sejak tujuh belas tahun yang lalu."
Samuel menceritakan kronologi hilangnya Ryu dan Davira tujuh belas tahun yang lalu, ia juga menceritakan semua penyelidikan tentang hilangnya anak anak Siena dan Kenzi. Hingga pertemuan tak terduga dengan Aira.
"Aira? di mana dia?" tanya Kenzi.
"Di kamarnya, mari Tuan!"
Siena berjalan sembari merangkul erat Genzo, mengikuti langkah Samuel dan Kenzi. Sementara Cristoper buru buru mempersiapkan segala hal yang di butuhkan Kenzi dan Siena.
Sesampainya di dalam kamar, hati Siena semakin hancur. Melihat kejiwaan Aira layaknya anak kecil yang hanya bermain dengan boneka beruang. Siena langsung memeluk erat kedua cucunya, di ikuti Kenzi memeluk mereka semua.
"Kenapa ini semua harus menimpa cucuku, kenapa..." tanya Siena lirih, ia menciumi kedua cucunya melepas rasa rindu dan bahagia karena bisa berkumpul lagi dengan keluarganya.
"Siapa yang melakukan ini semua?" tanya Kenzi pada Samuel.
"Belum di ketahui pasti Tuan, satu satunya yang bisa memberi petunjuk, Nona Aira."
"Sayang, kau harus melakukan sesuatu supaya cucu kita sembuh." Isak Siena masih memeluk Genzo dan Aira. "Bagaimana nasib anak anakku, Ya Tuhan.."
"Sabar sayang, kita pasti menemukan jalan keluar. Meski aku tidak muda lagi, tapi aku bisa melakukan sesuatu buat keluarga kita," jawab Kenzi menenangkan.
"Grandma, Grandpa, aku bisa kalian andalkan," sela Genzo melepas pelukannya menatap kakek dan neneknya dan tersenyum penuh arti.
"Tentu sayang, kau cucu kami. Aku tahu kau cucuku yang bisa di andalkan," ucap Kenzi bangga.
Samuel dan Cristoper ikut tersenyum bahagia, memperhatikan mereka dengan perasaan haru. Meski belum semuanya di temukan, kehadiran Kenzi dan Siena memberikan mereka kepercayaan diri.