THE MAFIA BRIDE 2

THE MAFIA BRIDE 2
MB 2



Genzo yang tengah tertidur pulas memeluk foto kedua orang tuanya, terbangun karena suara nada dering ponsel miliknya berbunyi. Perlahan ia membuka mata dan mengusap wajahnya. Ia melirik jam tangan yang menunjukkan pukul delapam malam. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur.


"Alexa?" alisnya bertaut menatap nama di layar ponselnya. "Ada apa dia malam malam menghubungiku?" gumamnya pelan, lalu ia menggeser icon berwarna hijau


"Alexa?" sapa Genzo. Lalu terdengar suara Alexa terdengar ketakutan.


"Genzo, tolong aku. Sekarang aku terjebak" Terdengar suara Alexa pelan bahkan nyaris tak terdengar.


"Kau di mana Alexa?" tanya Genzo mempertajam pendengarannya, karena suara Alexa sangat pelan sekali. Genzo terdiam mendengarkan suara Alexa yang memberikan alamat tempat di mana dia berada, lalu ia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke saku celana. Turun dari atas tempat tidur lalu mengambil dua senjata api di dalam laci meja. Setelah itu ia bergegas keluar rumah tanpa sepengetahuan Kenzi dan yang lain. Namun para penjaga mengetahui kepergian Genzo berusaha mencegah dan mengikutinya dari belakang.


***


Tak jauh dari pelabuhan, Genzo menepikan mobilnya lalu bergegas menuju lokasi di mana Alexa bersembunyi.


"Genzo!" seru Alexa pelan memperhatikan Genzo yang tengah menghampirinya.


"Kau sedang apa di sini?" tanya Genzo.


"Ssssttt! Alexa meletakkan satu jari di bibirnya. Lalu ia menunjuk ke arah pelabuhan.


Genzo menoleh ke arah petunjuk Alexa. Ia mengerutkan dahi saat melihat sekelompok orang tengah menyeret paksa dua wanita dalam keadaan terikat kedua tangannya.


"Siapa mereka?" Genzo mengalihkan pandangannya pada Alexa. "Dan..kenapa kau ada di sini?" tanya Genzo


Alexa terdiam sesaat, lalu ia menjelaskan pada Genzo bahwa tadi siang setelah Samuel mengantarkannya pulang. Ada seseorang yang menelponnya untuk datang ke pelabuhan. Sementara Alexa sendiri tidak tahu siapa yang menghubunginya. Karena ketakutan, akhirnya ia menghubungi Genzo untuk menemaninya. Saat mereka tengah berbincang, terdengar suara jeritan seorang wanita dari arah pelabuhan.


"Toloongg!!


Genzo dan Alexa menoleh ke arah sumber suara, nampak salah satu wanita tengah di pukuli karena berusaha memberontak. Genzo paling tidak bisa diam saat ada penganiayaan di depannya, ia tidak perduli mana yang harus di bela dan mana yang salah. Ia bergegas berlari ke arah tumpukan drum sembari mengeluarkan senjata api di balik jaketnya.


Ia bersembunyi di balik drum lalu ia mengarahkan senjata apinya pada seorang pria yang tengah memukuli wanita tersebut.


" Dorrr!!


Prua itu tersungkur dan ambruk seketika ketika peluru menembus kepalanya. Sontak sekelompok pria asing itu mencari sumber suara tembakan. Sebagian dari mereka berpencar mencari keberadaan Genzo.


"Dor Dor Dor!!!"


Tiga peluru, Genzo lesatkan ke arah pria yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya bersembunyi. Ketiga pria itu ambruk secara bersamaan, membuat teman temannya berlarian ke arah Genzo.


"DOR DOR DOR!!!


Peluru berseliweran, sekompk pria tersebut menghujani drum dengan peluru. Genzo merunduk lalu berlari ke arah tumpukan drum lainnya sembari berguling dan mekesatkan peluru ke arah sekelompok pria itu.


" Dor Dor Dor!!!"


Situasi semakin tidak terkendali, saat sekelompok pria asing lainnya berdatangan dan menyerang Genzo. Dua senjata api yang di bawa Genzo sudah kehabisan peluru. Ia mulai mencari akal supaya mendapatkan senjata lagi.


Di saat bersamaan dari arah lain, anak buah yang di tugaskan menjaga Genzo, datang membantu. Ia bernapas lega mendapatkan bantuan dari mereka dan juga tambahan senjata api. Bersama mereka, Genzo terus merangsek menghabisi satu persatu sekelompk pria itu.


Semakin lama, bukannya berkurang. Pihak musuh datang dalam jumlah banyak. Membuat Genzo dan anak buahnya kewalahan. Di sisi lain, Genzo mencari celah untuk menyelamatkan dua wanita yang tak sadarkan diri tergeletak di atas jalan aspal.


"Genzo tangkap!" seru seseorang dari arah belakang.


Genzo menoleh, tangannya dengan sigap menangkap senjata api yang di berikan Aranza. "Paman, terima kasih!" pekik Genzo.


Genzo menganggukkan kepalanya, ia berlari merunduk dan berguling menghindari peluru yang berseliweran, lalu bersembunyi di balik tumpukan drum Dari arah lain, ia melihat Jiro dan beberapa anak buahnya datang membantu. Akhirnya peperangan mampu Genzo imbangi dengan datangnya Aranza dan Jiro. Dengan mudah ia mendekati dua wanita yang sudah tidak berdaya. Ia menyeret dua wanita itu ke tempat aman. Lalu membuka ikatan tali yang mengikat tubuh mereka berdua.


"Siapa mereka?' ucap Genzo pelan, ia tidak mengenali salah satu wanita yang wajahnya penuh dengan luka sayatan pisau. Lalu ia mengalihkan pandangannya pada wanita lain. Ia sibakkan rambut yang menghalangi wajahnya.


Ia tatap lekat wajah wanita itu, matanya melebar, mulutnya menganga. Darahnya berdesir panas, bibir nya bergetar dari mulutnya terucap sebuah kata.


" Ibu.."


Tangannya terulur dengan gemetar mengusap wajah yang selama ini ia rindukan, ia tunggu kedatangannya selama bertahun tahun lamanya. Ia angkat kepala wanita itu yang tak lain adalah Davira. Ia peluk erat, wajahnya tengadah menatap langit dan menjerit sangat kencang.


"IBUUUUU.....!!!!


" IBU BANGUUUNNN!! Pekiknya dengan derai air mata. Darahnya dalam tubuhnya serasa mendidih, ia meletakkan kepala Davira lalu bangun dan meraih senjata api laras panjang yang tergeletak di sampingnya. Berdiri tegap dengan tatapan marah ke arah musuh lalu berlari menghampiri mereka satu persatu.


"Ibuuuu!!!"


"DOR DOR DOR!!!


Genzo melesatkan peluru secara beruntun ke arah musuh.


" DOR DOR DOR!!!


Ia berlari ke kanan menghampiri musuh dan menghabisi mereka tanpa sisa, hingga peluru terakhir.


"Genzo!! seru Jiro sembari melemparkan senjata api ke arahnya. Dengan sigap Genzo menangkap senjata api itu, lalu melesatkannya ke arah musuh bersamaan ia jatuhkan tubuhnya ke jalan lalu berguling dan berlari ke arah Alexa yang masih bersembunyi dengan ketakutan.


" Ayo cepat!" Genzo menarik tangan Alexa lalu membawanya ke tempat aman di mana Davira dan wanita lain berada.


"Dia siapa Genzo?" tanya Alexa memperhatikan Genzo yang tengah memeluk erat ibunya.


"Ibuku, dia ibuku. Alexa!" sahut Genzo dengan nada bergetar.


Alexa jongkok di samping Genzo. Mengusap punggungnya untuk menenangkan. "Genzo.."


"Ibu, bangun Bu...banguunn!!" ucapnya terisak dan menciumi puncak kepala Davira.


"Genzo, tenanglah.." sela Alexa.


"Ibu, bangun..buka matamu, lihat aku Bu. Aku sudah besar Bu, banguuun!"


Alexa terdiam, tidak ada kata yang bisa ia ucapkan untuk menenangkan Genzo.


Tak lama suara peluru berseliweran mulai reda. Peperangan telah usai dan di menangkan oleh Aranza dan Jiro. Mereka berdua langsung menghampiri Genzo. Mereka berdua langsung mengenali siapa wanita itu.


"Angela!! pekik Jiro langsung mengangkat tubuh Angela dan memeluknya erat.


" Angela, bangun sayang," ucap Jiro berurai air mata. Tidak tahan melihat kondisi Angela yang sudah babak belur karena di pukuli. "Ayo bangun! Jiro terus mengguncang tubuh Angela berharap adiknya bangun.


"Angela," ucap Aranza pelan menatap wanita yang selama ini masih ia cintai. "Sebaiknya kita bawa ke rumah sakit sekarang, cepat!" usul Aranza.


"Ibu...." Genzo terus memanggil Davira sembari tsrisak. Lalu ia mengangkat tubuh Ibunya dan membawanya masuk ke dalam mobil di ikuti Alexa. Sementara Angela di bawa Jiro masuk ke dalam mobil milik Aranza. Mereka segera membawa Davira dan Angela ke rumah sakit.